
“ Nanwei.....det er to store pakker fra Vacheron Constantin....vi bør legge dem hvor (Nanwei..... ada 2 paket besar dari Vacheron Constantin.... kami harus letakkan dimana)? “ tanya salah seorang pemain yang mulai terlihat keberatan membawa 1 kotak besar di tangan bersama rekannya.
“ hva annet er dette (apa lagi ini)? “ tanya Nanwei heran.
4 pemain itu hanya menggerakkan bahunya sekali karena mereka memang tidak tahu apa ini, yang mereka tahu bahwa 2 paket besar ini untuk Nanwei.
Afkar menepuh salah satu bahu mereka dan menunjukkan dimana mereka bisa meletakkan kotak besar ini. Nanwei membuka kedua tangannya heran dengan sikap Afkar yang tiba-tiba menerima paket seenaknya.
Saat 4 pemain itu hendak melangkah menjauh dari kotak besar yang mereka letakkan, Afkar dengan isyarat tangan menyuruh mereka menunggu. Nanwei heran dengan sikap Afkar dan menatap Afkar penuh tanya.
“ det er det nyeste produktet til Vacheron Constantin..... Rosenkrantz tok over dem..... du tar en etter en (itu produk terbaru Vacheron Constantin..... Rosenkrantz mengambil alih mereka.... kalian ambil satu-satu) “ ucap Afkar singkat tapi cukup membuat Nanwei dan 4 pemain itu terkejut.
Siap yang tidak terkejut mendengar nama merek sebuah jam tangan terkenal yang harga sebuah jam tangan setengah harga dari sebuah mobil minicopper. Tak ada satu pun yang berani melakukan perintah Afkar, mereka takut ini hanya jebakan Afkar.
“ GUN .... du må tulle .... dette er dyre ting .... fem ganger bonusen vår hvis du vinner en konkurranse med vanskelighetsgrad over femti (GUN.... kamu pasti bercanda.... ini barang mahal.... 5 kali bonus kami bila memenangkan kompetisi dengan tingkat kesulitan diatas 50) “ ucap salah seorang pemain.
“ Det er opp til deg hvis du ikke tror meg ..... Jeg drar hjem først (terserah kalian kalau tidak percaya..... aku pulang dulu) “ ucap Afkar dan melangkah keluar dari ruang kerja Nanwei.
Baru berjarak 5 langkah, Afkar mendengar suara teriakan 4 pemain dan Nanwei hingga membuat para manager yang berada di ruang tengah melihat ke arah ruangan Nanwei.
“ GUN..... du er gal (GUN..... kamu gila) “ teriak salah seorang pemain sambil membuka pintu ruang kerja Nanwei.
“ hvis jeg er gal....kom deg ut av Shield (kalau aku gila....keluar dari Shield) “ teriak Afkar membuat pemain tersebut melambaikan tangan menarik ucapannya.
“ tren hardt .... veie alle konkurransene dine (berlatihlah yang giat.... menangkan semua kompetisi kalian) “ ucap Afkar sambil melangkah menuruni anak tangga ke lantai 2.
__ADS_1
sekepergian Afkar, seketika lantai 3 ramai mulai dari pemain utama pemain cadangan hingga yang masih dalam proses latihan mendapatkan sebuah jam tangan. Tak hanya para pemain saja yang mendapatkan jam tangan tapi semua manager juga staff Shield mendapatkannya. Mereka mengambil satu persatu kotak berisi jam tangan sesuai dengan nama mereka, mereka sangat gembira juga bahagia karena Shield semakin menghujani mereka dengan berbagai hadiah dan fasilitas yang lebih baik dari musim kompetisi sebelumnya.
Afkar sampai di depan unit apartemennya dengan membawa dua kantung kertas, saat membuka pintu unitnya seketika Afkar melihat Barra yang sedang memijat telapak kaki Nara.
“Assalamualaikum “ salam Afkar dengan terkejut.
“ wa'alaikumsalam.... jangan marah dulu.... aku bisa jelaskan.... dia bilang tumitnya sakit jadi aku pijat tumitnya..... Ra sudah.... kakak balik dulu.... suamimu mau membunuh kakak “ ucap Nanwei sambil menepuk betis Nara dengan pelan.
Saat Barra bangkit dari sofa dan hendak keluar Afkar menghentikan Barra dengan tangannya yang menahan dada Barra.
“ tunggu dulu.... terima kasih sudah menjaga istriku..... “ ucap Afkar pelan
“ sudah tugasku menjaga adik perempuan “ jawab Barra sambil mendorong lengan Afkar dengan jari telunjuknya.
“ ini untukmu “ ucap Afkar sambil menyerahkan sebuah kantung kertas yang dia bawa.
“ kalau ini tanda ucapan terima kasih karena aku sudah menolak Nara tampil.... sebaiknya tidak perlu.... dia istrimu tapi dia adikku.) “ ucap Barra sambil menyerahkan kantung itu kembali pada Afkar.
“ ini hadiah dari Rosenkrantz untuk kalian “ ucap Afkar sambil memaksa tangan Barra untuk menerimanya.
Barra akhirnya menerima kantung tersebut dan membuka sedikit kantung itu, seketika kedua mata Barra membulat sempurna tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Afkar yang sudah duduk di sofa membuat Nara berpindah duduk di paha Afkar, meski pun lelah karena pekerjaan Rosenkrantz yang tidak ada habisnya tapi mendapati Nara yang kembali bersikap manja membuat rasa lelahnya hilang.
“ ini untuk sayang.... harus di pakai setiap keluar apartemen “ ucap Afkar sambil menyerahkan sebuah kotak.
Nara membuka kotak itu dan terkejut seperti yang Barra lakukan.
__ADS_1
“ ini pasti jam tangan mahal.... “ tebak Nara membuat Barra memberi isyarat tangan pada Afkar untuk jangan mengatakan harga jam tangan tersebut.
“ tidak.... ini tidak mahal..... sayang pakai ya....” ucap Afkar yang paham maksud Barra.
“ bohong..... pasti harganya lebih dari bonus manager “ ucap Nara tidak percaya.
“ mas tidak bohong.... ini benar tidak mahal.... kalau mahal mana mungkin wajah kakak sayang datar seperti itu “ ucap Afkar sambil menunjuk wajah Barra yang sangat gembira menerima hadiah jam tangan mewah.
Barra seketika merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saat Afkar menunjuknya, Nara melihat kebelakang dan melihat wajah Barra yang sudah terlihat biasa. Nara menatap Barra dengan memicingkan kedua matanya mencari tahu apakah Barra menyembunyikan sesuatu dari Nara.
“ pakai saja.... apa yang sudah suami kamu belikan..... memakai barang pemberian suami salah satu bentuk rasa syukur istri pada apa yang sudah menjadi rezeki istri.... memakai barang pemberian suami juga salah satu cara istri menyenangkan suami..... bukankah menyenangkan suami kewajiban istri..... memangnya menyenangkan suami hanya di ranjang saja. “ ucap Barra sambil mengamati jam tangan yang di pegang.
“ iya.... Nara pakai.... tapi ini terlihat kebesaran di tangan Nara.... “ ucap Nara sedikit cemberut karena Barra menyindirnya dengan urusan ranjang.
Afkar tersenyum gemas melihat Nara yang sedikit kesusahan mengeluarkan jam tangan dari kotaknya.
“ sini.... mas bantu pakai “ di saat Afkar berusaha membantu Nara mencoba jam tangan, Barra dengan cepat melangkah tanpa suara segera keluar unit agar bisa berteriak bahagia.
Saat pintu unit tertutup dengan suara keras, Nara melihat Barra yang sudah tidak ada.
“ pasti mahal.... Nara cuma mau mas.... Nara tidak butuh ini.... terima kasih sudah memberi hadiah mahal “ ucap Nara setelah Afkar selesai memakaikan jam tangan di pergelangan tangan kanan Nara.
Nara memeluk erat leher dan menyandarkan pipi kanannya dibahu Afkar.
“ selama sayang suka dan mau memakainya.... tidak ada yang mahal buat mas “ ucap Afkar sambil mencium bahu kiri Nara yang sedikit terbuka karena t-shirt yang Nara pakai adalah t-shirt miliknya.
__ADS_1
“ apa mas juga memberikan ini pada Marius dan Morten?.... atau jangan-jangan mas memberikan ini pada semua pemain dan yang lainnya.... “ ucap Nara yang masih memeluk leher Afkar dan menghirup aroma tubuh Afkar.
“ sebagai ucapan terima kasih karena sudah berlatih keras dan bermain baik di setiap kompetisi “ ucap Afkar sambil menciumi bahu kiri Nara