
Tiba-tiba ponsel Afkar berbunyi, Afkar melihat sesaat layar ponselnya yang menampilkan nama Zehed.
“Zehed" ucap Afkar sambil menunjukkan layar ponselnya pada Nara.
“Assalamualaikum” salam Afkar.
“......”
“elbette (yakin)?” tanya Afkar meyakinkan Zehed.
“.......”
“Anlıyorum.....o zaman yarın oyunu seçtiğim geliştirme ekibini toplarsınız... ve lütfen odama bir dizüstü bilgisayar daha sağlayın...mümkünse Mac OS işletim sistemine sahip bir dizüstü bilgisayar (begitu ya.....kalau begitu besok kamu kumpulkan tim develops yang game-nya aku pilih.... dan tolong kamu sediakan satu laptop lagi di ruanganku.... kalau bisa laptop dengan sistem operasi MacOs)” ucap Afkar sambil melihat Nara yang melihatnya dengan serius.
“......”
“evet.....teşekkür ederim..... Esselamualaikum (iya..... terima kasih..... Assalamualaikum)” Afkar memutus panggilan dan meletakkan ponselnya di sembarang tempat.
Seharian penuh mereka menghabiskan waktu di dalam kamar karena memang Afkar ingin segera menentukan game perdana Kant Software tanpa ada gangguan dari pihak-pihak yang menginginkan Kant Software bangkrut sebelum peluncurkan game perdana. Nara membantu Afkar dengan menunjukkan berbagai celah yang kemungkinan besar akan mengundang para hacker black hat untuk mengacaukan sistem peringkat permainan bahkan bisa mengacaukan source code game. Menjelang siang Nara merasa lapar yang tak bisa dia tahan lagi hingga menbuatnya membaringkan kepalanya di pangkuan Afkar yang membuat Afkar terpaksa menopang laptop dengan tangan kirinya.
Karena makan siang baru saja Afkar pesan, Afkar berusaha menenangkan Nara dengan sesekali membelai dan mencium perut Nara. Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit seorang pelayan kamar mengetuk pintu, Afkar segera menegakkan posisi Nara dan segera membuka pintu kamar untuk mengambil makan siang mereka. Dengan lahap Nara menghabiskan menu pilihannya, tak jarang Afkar harus mengusap sisa makanan yang berada di sudut bibir Nara dengan ibu jarinya.
Tumit dan lutut Nara sudah tidak terasa nyeri saat melangkah dan Afkar sangat senang melihat Nara sudah tidak kesakitan lagi, mereka melaksanakan Sholat Dhuhur berjamaah dan mulai hari ini setiap selesai Sholat Afkar akan menyempatkan untuk membaca surat Yusuf. Afkar berharap janin kembar yang berada di dalam uterus Nara akan memiliki sifat seperti Nabi Yusuf, karena lama Afkar tidak membaca huruf hijaiyah ada kalanya Nara akan membetulkan bacaan Afkar dan ada kalanya Nara tersenyum senang bila Afkar ragu apa yang dibacanya benar atau salah.
__ADS_1
Nara berjalan mendekati jendela kaca dan melihat pemandangan laut Marmara, sementara Afkar kembali sibuk dengan laptopnya.
“mas.... kapan Festifal tulip berakhir?” tanya Nara membuat Afkar melihat Nara dengan heran.
“kalau tidak salah satu minggu lagi berakhir..... kenapa?” tanya Afkar yang sudah meletakkan laptopnya di meja.
Nara berlari kecil seketika duduk di pangkuan dan memeluk erat leher Afkar, Afkar membalas pelukan Nara dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nara. Mereka saling memandang seperti sedang berbicara dengan mata mereka, tiba-tiba Nara melihat Afkar dengan menggerak-gerakkan kelopak matanya beberapa kali memberi kesan genit. Afkar menatapnya dengan heran dan bertanya-tanya.
“apa hubungannya festifal tulip dengan mata genit ini?” gumam Afkar dalam hati yang terkadang belum paham maksud Nara.
Nara masih saja menggerak-gerakkan kelopak matanya dan semakin melihat Afkar dengan genit, Afkar semakin bingung dengan maksud Nara.
“sayang..... sayang lupa apa yang sudah mas jelaskan terkait kehamilan kembar ini?” tanya Afkar yang sudah tidak tahan bagaimana menghadapi Nara yang posisi duduknya sangat membuat Afkar tidak nyaman.
“ingat....” ucap Nara sambil tersenyum dan kembali bersikap genit dan semakin berusaha merayu Afkar.
Nara mengerutkan kulit dia antara kedua alisnya menatap Afkar heran.
“ya sudah kalau mas tidak mau..... Nara sama Morten saja.” Nara mulai merajuk dan bangkit dari pangkuan Afkar.
“sayang..... sayang tahu itu tidak boleh tapi sayang minta Morten..... apa sayang sudah tidak cinta mas?” Tanya Afkar sambil menarik kembali Nara untuk duduk kembali di pangkuannya.
“Nara cinta mas.....” ucap Nara heran kenapa Afkar bertanya seperti itu.
__ADS_1
“lantas kenapa sayang minta pada Morten? Sayang..... mas tahu hormon estrogen sayang sedang meningkat dan mas tidak mau melakukannya karena mas sayang sama ini" jelas Afkar sambil menyentuh perut Nara.
Nara menahan tawa mendengar ucapan Afkar, tapi tidak dengan Afkar yang heran melihat wajah istrinya yang terlihat jelas menahan tawa.
“mas Afkar sayang..... Nara hanya minta mas menemani Nara melihat festifal tulip.....” ucap Nara sambil menangkup kedua pipi Afkar.
“hahahahaha....... mas kira sayang minta ‘itu’ ...... karena cara duduk sayang dan kemeja ini pikiran mas jadi hanya kesitu...” ucap Afkar sambil mencium kecil bibir Nara.
“memang kenapa kalau Nara duduk seperti ini dengan kemeja ini?” tanya Nara semakin membuat Afkar tidak nyaman karena batangnya yang pelan-pelan mulai mengeras.
“mas..... katanya harus di tahan dulu.... kenapa jadi begini?” ucap Nara yang tersentak karena sesuatu yang dia duduki mulai menjadi keras.
“sayang..... tanggung jawab..... tidak enak ini rasanya" ucap Afkar sambil berjalan cepat mengejar Nara yang sudah masuk kamar.
“sepertinya puasa hingga empat minggu kedepan sangat sulit ya.....” ucap Nara sedikit menggoda dengan melepas kemeja Afkar di sembarang tempat hingga memperlihatkan dirinya hanya mengenakan bra dan hipster.
Tanpa menunggu lama Afkar segera memeluk tubuh istrinya, mencium bibir penuh nafsu dan tangan kanannya yang tidak tinggal diam membuat kaki pemilik bibir terasa lemas dengan segera Afkar membaringkan Nara di ranjang. Dan berlanjut dengan aktivitas yang menguras keringat, yang pada awalnya Afkar melakukan secara perlahan-lahan namun pada akhirnya membuatnya harus menyelesaikan dengan cepat dan memuntahkan di luar.
Nara tertidur dengan polos, Afkar memandangi wajah cantik Nara yang kedua pipinya sedikit bertambah tembem. Afkar membuka sedikit selimut mencoba mengamati perubahan pada tubuh Nara.
“apa mungkin karena masih delapan minggu jadi belum terlalu banyak perubahan" gumam Afkar dalam hati.
Afkar segera menutupi tubuh polos Nara dengan selimut sebelum pertahanan dirinya runtuh. Afkar melangkah ke kamar mandi dan membersihkan diri, kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena ulah istrinya.
__ADS_1
Tepat pukul tiga Nara sudah siap dengan abaya hijab serta niqab di tangan kanannya, Afkar tidak bisa menolak permintaan Nara untuk keluar hotel dan menikmati festifal tulip. Afkar membantu Nara memakai niqab dan meminta Nara untuk menunggu sebentar karena suhu di Istanbul saat ini dua puluh derajat celsius, termasuk dingin bagi Nara maka Afkar mengambilkan dua buah coat untuk dirinya dan Nara.
Mereka keluar hotel dan menuju ke Emirgan Park menggunakan kendaraan dari fasilitas hotel tempat mereka menginap. Emirgan Park berjarak tiga puluh menit dari hotel, Afkar memilih taman ini karena di sekitar taman banyak cafe yang dapat mereka singgahi bila Nara merasa lapar atau pun haus. Di taman ini lebih dari seratus dua puluh spesies flora hidup di lereng bukit dan dikelilingi tembok tinggi ini. Beberapa spesies tanaman mulai dari pinus Batu, pinus Turki, Pinus Aleppo, Pinus Biru, Pinus Putih Timur, Pinus Maritim, Cedar Jepang, Pohon cemara Norwegia, Pohon cemara Biru, Atlas Cedar, Libanon Cedar, cedar Himalaya, Beech, Pohon abu, Sapindus, Babylon Willow, Ek Hungaria, Colorado White Fir, pohon Maidenhair, California dupa-cedar, Coast Redwood hingga pohon Kamper.