NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 152 TAKUT


__ADS_3

Sesuai rencana Afkar, dari selesai makan pagi hingga tengah hari Afkar mengajari Nara cara memainkan game console. Memang di awal-awal terlihat jelas Nara sangat kesulitan memainkam game console itu tapi dengan sabar Afkar mengajarinya, meski pun harus dengan bujuk rayu dan iming-iming beberapa menu makan Indonesia yang sekiranya bisa membuat Nara semangat. Pada akhirnya Nara pun bisa memainkannya meski pun tidak bisa menyelesaikan permainan di game console sampai selesai, setidak-tidaknya saat acara wawancara nanti Nara masih cukup meyakinkan mainkan game console itu.


Karena meningkatnya hormon progesteron dan estrogen dalam diri Nara, membuat Nara bersikap sedikit agresif bila hanya berdua saja dengan Afkar. Afkar yang sudah mengetahui hal ini dari Mari, tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan bila Nara sudah bersikap agresif. Afkar dengan senang hati menikmati haknya, membuat Nara bergerak tidak beraturan di bawahnya. Olah raga yang membuat Afkar tidak pernah merasa lelah atau pun bosan, melihat peluh dan tubuh istrinya yang bergetar adalah hal yang selalu Afkar inginkan. Setiap kali Afkar hendak mencapai *******, Nara selalu merasakan tekanan pada cervical oriface miliknya. Dan setiap kali Nara mencapai *******, Afkar akan merasa miliknya serasa di remas oleh otot-otot Levator ani milik Nara. Rasa inilah yang membuat Afkar selalu menginginkan Nara lagi dan lagi.


Afkar tidak pernah melupakan doa sebelum memulai dan sesudah menikmati haknya, Afkar menginginkan anak-anaknya nanti cerdas seperti Nara tidak seperti dirinya yang masa mudanya bandel. Setiap kali hendak memulai menyatukan diri dengan Nara, Afkar selalu menyempatkan untuk mencium perut Nara 2 kali. Dan setiap kali selesai olah raga, Afkar selalu mencium dahi Nara dan membelai perut polos Nara.


“ I love you “ kalimat singkat yang selalu Afkar ucapkan setiap kali Afkar mencium dahi Nara setelah selesai olah raga.


Tapi entah mengapa ciuman Afkar di dahi Nara sedikit lebih lama dari yang sebelum-sebelumnya, ada suatu rasa aneh seperti berat untuk jauh dari Nara.


“ mas.... Nara takut.... “ ucap Nara sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Afkar.


Afkar menarik nafas panjang.


“ apa yang membuat sayang takut..... tidak ada yang perlu di takutkan..... “ ucap Afkar sambil membelai rambut hitam Nara.


tiba-tiba Nara menangis, air mata menetes membasahi lengan kekar Afkar yang Nara pakai sebagai bantal.


“ sayang.... kenapa menangis “ ucap Afkar sambil menangkup pipi kiri Nara.


Nara menggelengkan kepala tapi air matanya masih saja menetes.

__ADS_1


“ takut “ hanya satu kata yang Nara ucapkan membuat Afkar bingung.


“ sayang takut apa? Jadwal wawancara besok? Tidak ada yang perlu sayang takutkan.... kalau memang besok sayang tidak bisa memainkan GDP WIN..... main sebisa sayang saja..... untuk jadwal besok.... kakek sudah menambah 6 pengawal untuk sayang.... Ines akan selalu berada di dekat sayang “ ucap Afkar berusaha meredakan tangis Nara.


“ entahlah..... Nara hanya merasa takut..... tapi tidak tahu takut apa “ ucap Nara terbata-bata karena tangisnya yang semakin menjadi-jadi.


Afkar mempererat pelukkannya hingga tubuh polos mereka benar-bener menempel tanpa celah. Untuk beberapa menit kedepan Nara menangis meluapkan semua rasa yang membuatnya ingin menangis, Nara sendiri tidak tahu kenapa menjadi merasa sangat takut hingga membuatnya menangis seperti ini. Karena terlalu lelah menangis akhrinya Nara tertidur di dalam pelukkan Afkar, saat merasa bahwa tangis Nara sudah berhenti. Afkar sedikit melonggarkan pelukkannya karena kuatir bila perut Nara terhimpit.


Membelai dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi serta pipi kiri, menyelipkan di belakang telinga kiri Nara. Sebenarnya Afkar juga merasakan suatu hal yang membuatnya tiba-tiba merasa kuatir tapi Afkar sendiri tidak paham apa yang membuat rasa kuatir itu muncul.


Menjelang sore, Nara terbagun tapi tidak mendapati Afkar di sisinya.


Tapi tidak ada balasan sama sekali dari Afkar.


Nara mencoba bangkit dari ranjang dengan melilitkan selimut di tubuhnya seperti kepompong, dengan perlahan Nara mendekati pintu karena sayup sayup terdengar suara Afkar seperti sedang berbicara dengan seseorang. Nara berdiri di belakang pintu dan berusaha menajamkan indera pendengarannya, meski pun terdengar jelas suara Afkar tapi tetap saja Nara tidak mengerti apa yang Afkar katakan karena Afkar berbicara dengan bahasa Norsk.


Menunggu selama beberapa menit berdiri di belakang pintu, entah mengapa dada Nara terasa tidak nyaman. Saat suara Afkar sudah tidak terdengar Nara buru-buru kembali naik kembali ke ranjang, beberapa detik kemudian Afkar masuk mendapati Nara yang sudah duduk dengan berbalut selimut seperti kepompong. Afkar tersenyum dengan perasaan antara terkejut, gemas dan lucu melihat Nara seperti kepompong.


“ sayang kenapa jadi begini.... “ ucap Afkar gemas sambil menurunkan selimut yang menutupi kepalanya menyisahkan wajah saja.


“ mas Afkar tadi berbicara dengan siapa? “ tanya Nara memberanikan diri.

__ADS_1


Afkar menarik nafas panjang dan membelai rambut Nara.


“ tadi mas menghubungi Judith.... mas bilang kalau besok sayang ada jadwal acara wawancara di spillexpo.... kalau Judith atau the Neptun ada yang kesana.... mas minta tolong ikut mengawasi sayang.... “ jelas Afkar sambil mengurai selimut yang membalut Nara seperti kepompong.


“ oooo..... “ mulut Nara mengerucut.


Untuk beberapa detik Nara terdiam, Afkar yang gemas dengan mulut Nara yang mengerucut dengan cepat meraih tengkuk dan ******* bibir Nara. Afkar baru melepas tautan mereka saat Nara menepuk dadanya karena Nara merasa kedua paru-parunya butuh asupan Oksigen.


Kedua pipi Nara memerah merasa panas tanpa menunggu izin, Afkar mengangkat tubuh Nara membawa masuk ke kamar mandi. Mandi yang seharusnya hanya sebentar menjadi lama karena meski pun Nara tidak menggoda Afkar, Afkar sudah tergoda dengan tubuh polos Nara apa lagi perut bagian bawah sudah sedikit menonjol membuat Afkar semakin gemas.


“ mas..... bisa tidak kalau besok Nara tidak datang? “ tanya Nara sambil mengenakan penyangga dada.


“ kenapa? “ tanya Afkar sambil mengeringkan rambut Nara dengan handuk.


“ entahlah.... berasa tidak nyaman saja.... “ ucap Nara sambil membalikkan badan menatap dada bidang Afkar.


Afkar memegang kedua lengan atas Nara dan menempelkan dahinya pada dahi Nara. Sebenarnya Afkar juga merasa ada sesuatu yang berat dan terasa sakit di dadanya, tapi Afkar tidak tahu kenapa merasakan sakit itu.


Untuk sesaat mereka terdiam hanya suara nafas mereka yang terdengar, tiba-tiba Nara memeluk erat tubuh Afkar seperti tidak mau melepaskan sama sekali. Afkar pun membalas pelukkan itu dan mencium puncak kepala Nara berkali-kali dengan tangan kanan membelai punggung Nara yang hanya tertutup oleh penyangga dada saja.


“ semua akan baik-baik saja..... tidak akan terjadi apa-apa..... para pengawal sayang dan para pengawal dari kakek akan selalu menjaga sayang..... mereka akan selalu berada di dekat sayang.... “ ucap Afkar lembut tapi dadanya terasa seperti di tusuk sebuah tombak dan tenggorokannya terasa sakit meski pun hanya untuk menelan air ludahnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2