NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 156 TERIAKAN NARA


__ADS_3

“ gjør det raskt uten narkose (lakukan dengan cepat tanpa anestesi) “ ucap Afkar dengan suara bergetar dan air mata yang sudah mengalir membasahi kedua pipinya membuat Zarya dan dokter jaga itu seketika merasa merinding.


Mendengar perintah Afkar, dengan sigap dan pelan Zarya lepas sarung tangan Nara meletakkan di ranjang pemeriksaan. Dokter jaga menuangkan air tepat di pinggir sayatan untuk membersihkan kotoran, tapi satu tetes air mengenai daging yang terbuka seketika membuat Nara teriak kesakitan. Afkar semakin erat memeluk tubuh Nara, tangan kanannya membelai punggung Nara untuk menguatkan Nara.


Saat dokter jaga menyiapkan jarum dan benang monofilamen alami, Zarya menepuk bahu kanan Afkar sebagai tanda bahwa dokter jaga akan segera mulai menjahit luka Nara. Afkar menganggukan kepala menjawab tanda Zarya.


Zarya meletakkan telapak tangan Nara di sebuah papan dan mengikat jari telunjuk hingga jari kelingking dengan restrain pasien agar Nara tidak bisa menggerakkan jari jemarinya selama proses menjahit lukanya. Setelah semua siap, Zarya menganggukan kepala memberi tanda pada dokter jaga untuk mulai menjahit luka Nara.


Dengan perlahan dokter jaga itu menusuk kulit dan daging segar Nara dengan jarum, seketika Nara berteriak keras dan menangis kencang genggaman tangan kanannya menarik kuat jas yang Afkar pakai. Afkar memeluk erat tubuh dan kepala Nara dengan air mata yang tidak terbendung lagi, mendengar suara kesakitan dan tangis Nara membuat hati Afkar terasa hancur. Afkar merasa tidak memiliki daya upaya menjauhkan Nara dari rasa sakit.


Setiap kali jarum dan benang monofilamen alami menusuk dan melewati kulit serta daging segar Nara, setiap kali itu pula Nara teriak kesakitan dan semakin kencang suara tangisnya membuat Ines yang berada di luar ruang pemeriksaan UGD tidak tahan untuk tidak meneteskan air matanya. Para pengawal mendengar suara teriak kesakitan Nara segera melangkah keluar dari ruang tunggu, mereka tidak tega mendengar suara kesakitan nyonya mereka. Setiap suara teriakan kesakitan Nara yang Ines dengar semakin membuat Ines tidak mampu menahan air matanya, Lief yang duduk di sebelahnya sedikti ragu untuk memeluk Ines.


Mari yang sedang mencuci kedua tangannya karena selesai memberi tindakan operasi cecar, begitu mendapat informasi dari salah seorang perawat bahwa di UGD ada pasiennya yang terluka dan mendapat jahitan tanpa anastesi lokal seketika menjadi sangat terkejut. Dengan cepat berlari menuju UGD untuk melihat siapa pasien yang di maksud perawatnya, Mari mendekati asal suara dan membuka pelan tirai yang menutupi asal suara tersebut. Seketika hati Mari merasa terharu, sedih, juga tidak percaya karena melihat Afkar meneteskan air mata dengan posisi berdiri memeluk tubuh wanita yang tertutup kain hitam yang dia sangat tahu siapa wanita iu.


Mari berjalan pelan mendekati Afkar, Afkar melihat wajah Mari yang sudah berada di samping kirinya. Ini pertama kalinya Mari melihat Afkar menangis karena wanita, Mari sudah mengenal Afkar sejak kecil umur mereka terpaut 2 tahun. Mari sudah menganggap Afkar seperti adik sendiri, Mari memijat bahu kiri Afkar untuk menguatkannya.


Teriakan kesakitan dan tangis Nara memenuhi ruang UGD, tapi itu tidak berlangsung lama karena pada saat dokter jaga hendak menusuk kulit dan daging segar Nara untuk ketiga kalinya. Seketika Nara pingsan di dalam pelukkan Afkar, Afkar menjadi panik.

__ADS_1


“ sayang...... sayang “ ucap Afkar panik sambil menepuk pipi kanan Nara.


Terlihat jelas wajah panik Afkar, Mari berusaha menenangkannya.


“ Nara bare besvimte av smertene at hun ikke orket mer..... du kan være rolig (Nara hanya pingsan karena rasa sakit yang sudah tidak bisa dia tahan..... kamu bisa tenang) “ ucap Mari menguatkan Afkar.


Dengan masih memeluk tubuh Nara, Afkar meneteskan air mata. Afkar menangis tanpa suara.


“ la oss bli ferdige... Nara har besvimt (cepat selesaikan... Nara sudah pingsan) “ ucap Mari pada dokter jaga yang menjahit punggung tangan kiri Nara.


15 menit kemudian dokter jaga telah selesai menjahit tangan Nara. Afkar merebahkan Nara di ranjang pemeriksaan, menyentuh kain niqab yang sudah basah oleh air mata Nara. Afkar tertunduk dengan air mata yang masih menetes, Mari menyuruh seorang perawat untuk membawa alat fetal doppler atau alat yang Mari gunakan untuk memantau detak jantung janin Nara.


Afkar memandangi dan membelai lembut jari jemari tangan kiri Nara, luka sayatan di punggung tangan kiri Nara sudah tertutup rapat dengan jahitan yang sangat rapi.


“ Afkar.... ta av kona di sine klær... Jeg vil sjekke tilstanden til fosteret ditt (Afkar.... buka sedikit pakaian istrimu.... aku ingin memeriksa keadaan janin kalian) “ ucapan Mari seketika membuat Afkar menghapus sisa-sisa air matanya di kedua pipinya.


Dengan perlahan Afkar menarik ke atas ujung abaya dan menurunkan legging juga hipster Nara, agar Mari bisa mencari detak jantung janin mereka. Untuk beberapa menit Afkar kembali merasa tegang dan frustrasi karena Mari belum juga menemukan titik pusat detak jantung janin Afkar, tapi senyum Mari terbit karena sudah menemukan detak jantung janin yang pertama. Mari menempelkan sebuah perekat untuk menahan alat pendeteksi detak jantung janin pertama dan mencari detak jantung janin kedua. Sekali lagi Mari tersenyum karena sudah menemukan titik detak jantung janin yang kedua.

__ADS_1


“ la det være slik for nå..... Jeg vil overvåke fosterets hjertefrekvens i de neste tretti minuttene (biarkan seperti ini dulu..... aku akan memantau detak jantung janin kalian selama 30 menit kedepan) “ ucap Mari sambil membetulkan ujung abaya Nara agar sedikit menutupi perut Nara yang terbuka.


“ Takk (terima kasih) “ ucap Afkar dengan dengan suara pelan.


“ Nara-kvinnen er sterk... Jeg er sikker på at fosteret ditt er like sterkt som moren (Nara wanita kuat.... aku yakin janin kalian sekuat ibunya) “ ucap Mari menguatkan Afkar.


Saat Mari hendak membuka tirai pembatas antar ranjang pemeriksaan, Afkar menghentikannya.


“ ikke fortell alt dette til bestefar (jangan ceritakan semua ini pada kakek) “ ucapan Afkar membuat tangan Mari tidak jadi membuka tirai pembatas.


“ hvis jeg ikke forteller tilstanden til Nara og de to fostrene..... får bestefar mer panikk enn deg... bestefar må høre direkte fra meg..... la bestefar roe seg ned at barnebarnet hans i- jus og oldebarn er fine (kalau aku tidak memberitahu kondisi Nara dan kedua janinnya..... kakek akan lebih panik dari kamu.... kakek harus mendengar langsung dariku..... biar kakek tenang bahwa cucu menantu dan cicitnya dalam keadaan baik-baik saja) “ ucapan Mari membuat Afkar terdiam.


“ du er ikke egoistisk.... fosteret er ikke bare ditt, men fosteret er bestefars oldebarn (kamu jangan egois.... janin itu bukan hanya milikmu tapi janin itu cicit kakek) “ ucap Mari yang sedikit jengkel dengan sikap egois Afkar.


“ Hva enn du sier (terserah kamu saja) “ ucapan Afkar pasrah membuat Mari segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ralf untuk berbicara dengan Erhan.


Afkar diam membelai pipi Nara dengan menyusupkan tangan kanannya ke balik niqab, tanpa sadar air matanya menetes di pipi kirinya.

__ADS_1


“ kali ini aku harus menyeretnya ke pengadilan. “ gumam Afkar dalam hati sambil mencium jari jemari tangan kiri Nara.


__ADS_2