
Tepat pukul satu tengah malam waktu Istanbul private jet Sundth Air mendarat di bandara international Sabiha Gökçen yang berada di sisi Turki Asia, nama bandara ini di ambil dari nama putri angkat seorang tokoh sejarah Mustafa Kemal Ataturk yang merupakan pilot pesawat tempur pertama di dunia. Meskipun bandara Istanbul, terletak enam puluh tiga kilometer jauhnya di sisi Eropa Istanbul. Bandara Sabiha Gökçen masih menjadi salah satu bandara terbesar di negara ini.
Karena suhu di Istanbul saat ini mencapai tujuh belas derajat celsiun Nara mengaitkan semua kancing coat yang dia kenakan. Meskipun sudah menetap di Norwegia selama dua bulan ini tetap saja Nara belum terbiasa dengan suhu udara di bawah dua puluh derajat celcius, mengingat suhu kota jakarta tidak pernah di bawah dua puluh derajat celcius. Mereka menuju ke sebuah hotel menggunakan kendaraan yang sudah asisten Murat siapkan, hotel ini sengaja Afkar pilih karena tidak jauh dari kediaman Murat dan Felicia. Tepat pukul satu lebih empat puluh lima menit Afkar dan Nara sudah sampai lobi hotel, sedangkan Marius dan Morten langsung menuju ke kediaman kedua orang tuanya.
“bagus sekali hotelnya" ucap Nara sambil mengikuti langkah kaki Afkar.
Afkar tersenyum mendengar ucapan Nara dan semakin erat menggenggam tangan kanan Nara, Afkar mengajak Nara naik ke lantai paling atas. Afkar sengaja memilih kamar deluxe king room dengan pemandangan laut Marmara.
“mas..... besar sekali kamarnya....”ucap Nara saat pertama kali masuk ke dalam kamar.
“sayang suka?” tanya Afkar.
Nara memandang wajah lelah suaminya, melangkahkan kaki mendekati Afkar dan segera memeluk erat tubuh Afkar.
“terima kasih.... sudah mengajak Nara jalan-jalan....” ucap Nara yang sudah memindahkan pelukkannya dari pinggang ke leher Afkar meskipun dengan sedikit kesusahan meraih leher Afkar.
“selama di Istanbul...... kita menginap disini.... selagi mas sibuk dengan uncle murat, sayang bisa jalan-jalan bersama Marius dan Morten..... atau mungkin sayang ingin makan coklat sepuasnya?” ucap Afkar sambil mengangkat tubuh Nara sehingga posisi wajah Nara sekarang sejajar dengan Afkar.
__ADS_1
Mendengar kata coklat membuat mata Nara berbinar-binar. Nara segera menghujani Afkar dengan ciuman di dahi, kedua pipi, hidung dan berhenti di bibir. Afkar tidak menyia-siakan kesempatan ini dan segera menghisap bibir Nara, hingga Nara membuka kedua bibirnya memberikan akses lebih pada suaminya. Afkar dengan pelan namun pasti segera merebahkan tubuh Nara di atas tempat tidur king size dan mengungkung Nara di bawahnya. Afkar semakin memperdalam ciumannya, tangan kanannya tidak tinggal diam tapi berusaha melepas semua kain yang masih menutupi tubuh istrinya. Hingga tanpa Nara sadari mereka sudah tidak mengenakan apa pun Afkar menyentuh area paling sensitif membuat Nara secara spontan mendesah, membuat Afkar semakin tak dapat menahan hasratnya.
“Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna (Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezeki yang akan Engkau anugerahkan pada kami” bisik Afkar pada telinga kanan istrinya.
Tubuh Nara meliuk-liuk merespon setiap sentuhan bibir dan tangan Afkar yang masih memainkan area paling sensitif Nara, membuatnya mendesah berkali-kali hingga Nara mencapai klimaks membuat Afkar tersenyum. Nara masih mengatur nafasnya, Afkar pelan-pelan mendesak masuk hingga penuh membuat tubuh Nara membusur. Nara mencengkeram erat bantal yang menopang kepalanya, Afkar meraih kedua tangan Nara dan meletakkan di bahunya secara bergantian. Afkar menggerakkan tubuhnya pelan membuat Nara mendesah dan menyebut namanya berkali-kali, hingga membuat Afkar semakin bersemangat menggerakan tubuhnya.
Entah berapa kali Nara mencapai klimaks, Afkar kembali membisikan sebuah doa di telinga kanan Nara.
“Allahummaj’alnuthfatna dzurriyyatan thayyibah (Ya Allah jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang Saleh)” bisikan Afkar membuat mereka berdua mendesah hampir bersamaan untuk mencapai klimaks bersamaan.
Seperti biasa Afkar mencium dahi, hidung, kedua pipi dan bibir Nara. Sementara Nara masih mengantur nafas menenangkan detak jantungnya, Afkar memandangi wajah istrinya yang penuh dengan peluh mengusap pelan pipi kiri Nara dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi istrinya.
Lelah dengan olah raga malam mereka tertidur dengan saling memeluk satu sama lain. Menjelang Adzan Shubuh saat Nara hendak bangun tapi tangan Afkar masih memeluknya erat, Nara merubah posisi tidurnya menghadap Afkar. Jari jemari Nara membelai alis, bulu mata, hidung, pipi hingga bibir yang selalu mengucapkan kalimat manis.
“sudah bangun?” ucap Afkar dengan suara berat dan masih memejamkan kedua matanya.
Nara tiba-tiba memberi ciuman kecil di bibir membuat Afkar segera membuka kedua matanya memandang wajah Nara. Untuk beberapa saat mereka saling memandang tanpa bersuara hingga sedetik kemudian Nara membisikkan sesuatu.
__ADS_1
“tangan mas berat..... Nara mau ke toilet sebentar" mendengar ucapan Nara yang terdengar manja membuat Afkar semakin mengeratkan pelukkannya.
Nara berusaha lepas dari pelukkan Afkar karena memang Nara ingin segera ke toilet, sesaat kemudian Afkar melonggarkan pelukkannya dan membiarkan Nara bangun melangkah masuk ke kamar mandi. Selesai melakukan mandi besar Nara duduk di sofa menunggu Afkar yang bergantian melakukan mandi besar. Seperti biasa mereka sholat Shubuh berjamaah sesuai permintaan Nara saat pertama kali di Oslo. Nara duduk di samping Afkar sambil murojaah, sedangkan Afkar sudah mulai sibuk dengan laptopnya yang sesekali memandang wajah istrinya.
“gemas....” ucap Afkar sambil mencubit pipi kiri Nara membuat Nara menghentikan murojaahnya.
“pipi Nara makin tembem ya....?” tanya Nara sambil mengusap bekas cubitan Afkar.
“tidak juga..... mas hanya membayangkan kalau selama dua minggu kita disini.... apa sayang bisa tahan godaan tidak makan makanan favorit sayang?” ucapan Afkar membuat Nara melebarkan kedua bola matanya.
“tunggu..... maksud mas.... di sini banyak cafe atau restaurant yang menyediakan menu coklat...” ucap Nara yang sudah meletakkan ponselnya dan segera duduk di pangkuan Afkar.
Afkar tertawa ringan melihat respon istrinya dan membelai rambut hitam Nara.
“hmmmm...... uncle murat punya beberapa cafe yang semuanya serba coklat..... “ mata Nara berbinar-binar mendengarkan kata coklat.
“kalau begitu Nara mau coba semua.....” ucap Nara dengan riang.
__ADS_1
“tapi ingat.... jangan banyak-banyak nanti sakit gigi sakit perut.” ucap Afkar sambil menyerahkan sebuah kertas yang menunjukkan beberapa lokasi wisata dan restaurant terdekat yang Nara bisa kunjungi.
Nara menerima kertas itu dan membukanya, seketika kedua matanya semakin berbinar-binar melihat apa yang tertera di kertas itu. Nara spontan memeluk leher Afkar dan menghujani Afkar dengan beberapa ciuman di dahi dan di di pipi juga di leher membuat Afkar sedikit geli