NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 51 BERKAS


__ADS_3

Nara menatap sedih makanan di atas meja, membuat Ines juga para pelayan bingung.


“ madam, you don't like this breakfast? Do you want us to change the menu? (nyonya, apa anda tidak menyukai menu makan pagi ini? Apa nyonya ingin kami mengganti menunya?) “ tanya Ines tapi tidak mendapat jawaban apa pun dari Nara.


“ do you want Jakarta food menu (apa nyonya ingin menu makanan Jakarta?) ” tanya Ines sedikit ragu.


“ can you make me ketoprak (bisakah kalian membuatkan aku ketoprak)? “ pertanyaan Nara berhasil membuat Ines juga yang lain bingung dengan maksud Nara.


“ ket...to... pak “ ucap Ines terbata-bata sulit mengucapkan kata ketoprak.


“ I think you can’t make it (aku rasa kalian tidak bisa) “ ucap Nara tertunduk dan menutup kedua mata dengan kedua tangannya.


“ madam wait (sebentar nyonya) ” ucap Ines dan berjalan cepat menemui koki.


Nara tertunduk sedih dadanya terasa sesak dan tenggorokannya terasa sulit untuk sekadar menekan air ludah, kembali menatap makanan di atas meja tanpa berkeinginan untuk menyentuhnya sama sekali. Kedua matanya mantap kosong ke depan seperti berusaha menembus pintu mencari tahu keberadaan Afkar, sementara Ines kebingungan apa yang akan dia lakukan terhadap makan yang sudah pelayan sajikan di atas meja. Untuk beberapa menit Nara menatap pintu dengan pandangan kosong, tiba-tiba pintu yang dia lihat terbuka dan terlihat sosok Afkar yang sangat berantakan seperti tidak tidur semalaman. Pandangan Nara mengikuti langkah kaki Afkar yang masuk ke dalam ruang kerja, Nara menatap pintu ruang kerja Afkar dengan pandangan kosong.


Lief berjalan melewati ruang makan menuju dapur dan memberi hormat dengan menundukkan kepala untuk sesaat pada Nara, tak terasa kedua mata Nara berkaca-kaca. Ines yang melihat Nara berusaha menahan agar air matanya tidak terjatuh hanya bisa melihat dan membuka melipat selembar tisu berkali-kali. Nara menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruang makan seperti berusaha menahan agar air matanya agat tidak membasahi niqab yang menutupi kedua pipinya. Nara menarik nafas panjang berkali-kali menahan rasa sesak di dada dan berusaha menghilangkan rasa cekat di tenggorokannya yang semakin sulit untuk menekan ludah.


Saat Lief melewati ruang makan dengan membawa satu nampan menu makan pagi Afkar, Nara berdiri tepat di depan Lief.

__ADS_1


“ give it to me (berikan padaku) “ ucap Nara sambil mengulurkan kedua tangannya yang sudah tertutup rapi dengan sarung tangan hitam.


Ines memberi isyarat mata pada Lief agar mau menyerahkan nampan yang dia bawa pada Nara. Dengan terpaksa Lief menyerahkan nampan itu meskipun pada awalnya berat di tangan Nara, tapi Nara berusaha membawanya masuk ke ruang kerja Afkar. Dengan bantuan Ines untuk membuka pintu, Nara mendapati Afkar yang tertidur di sofa dengan masih mengenakan pakaian kerja lengkap. Nara meletakkan nampan makan pagi Afkar di sebuah meja tepat di depan sofa.


Nara menatap wajah lelah Afkar dengan lingkaran hitam di sekitar mata, Nara menyingkirkan anak rambut yang menutupi bekas luka di dahi dan menciumnya untuk sesaat. Tak terasa air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya terjatuh juga dan setetes air mata jatuh tepat di dahi Afkar, Nara segera menghapus air mata itu dengan ujung jari kelingkingnya. Nara mengedarkan pandangannya melihat tumpukan kertas yang sudah tertandai masing-masing, Nara mencoba membaca lembar paling atas terdapat tulisan FP eiendom. Nara mengerutkan kulit di antara kedua alisnya seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu.


“ seperti pernah melihat tulisan ini..... tapi dimana ya...... “ gumam Nara sambil berdiri dan melangkah mendekati beberapa tumpukkan kertas yang lain.


Saat Nara mengamati satu persatu tulisan di kertas tumpukan berkas paling atas, tiba-tiba Afkar mengeliat dan mengeluarkan suara berat.


“ sedang apa sayang? “ suara Afkar yang tiba-tiba membuat Nara terkejut dan hampir saja menjatuhkan laptop dari atas meja.


“ kom inn (masuk) " teriak Afkar dengan suara dingin.


“ sir beklager å avbryte, det er nyheter fra dem (tuan maaf mengganggu, ada kabar dari mereka) “ ucapan Lief membuat Afkar menjatuhkan dahinya tepat di atas kepala Nara.


Untuk beberapa detik baik Nara mau pun Afkar terdiam dengan posisi dahi Afkar menempel di puncak kepala Nara, Lief yang merasa bahwa saat ini bukan saat yang tepat untuk membahas pekerjaan dengan pelan-pelan menutup kembali pintu ruang kerja. Afkar memeluk erat tubuh Nara seperti takut kehilangan sosok Nara.


“ I love you “ ucap Afkar pelan dan terdengar jelas di telinga Nara.

__ADS_1


Nara membalas pelukkan Afkar dengan melingkarkan kedua tangannya di tubuh Afkar tepat di area sekitar pinggang, dengan menarik nafas panjang menghirup bau badan suaminya Nara mencoba menahan air matanya agar tidak kembali jatuh.


“ I love you more “ ucap Nara pelan dan cukup membuat Afkar tersenyum bahagia.


“ setelah semua ini beres.... kita jalan-jalan lagi “ ucap Afkar sambil mengecup puncak kepala Nara.


Lief kembali mengetuk pintu dan langsung membukanya tanpa menunggu jawaban Afkar, membuat Nara segera melepas pelukkannya dan sedikit mendorong tubuh Afkar.


“ hva skjer Lief (ada apa Lief)? “ tanya Afkar dengan suara dingin sambil menengadahkan kepalanya seperti menahan sesuatu.


“ beklager sir, de venter på din neste bestilling (maaf tuan, mereka menunggu perintah tuan selanjutnya) “ ucapan Lief membuat Afkar memalingkan tubuhnya menghadap Lief dengan mata dingin.


“ hold dem i noen dager for at de andre ikke skal finne ut av det og bare gi dem vann å drikke til vi de vil tilstå ... og en til kommer ikke inn med mindre jeg ber deg komme (tahan mereka beberapa hari jangan sampai yang lain tahu dan hanya beri mereka air minum saja sampai mereka mau mengaku... dan satu lagi jangan masuk kalau aku belum menyuruhmu masuk). “ ucapan Afkar yang terdengar sangat dingin membuat Lief merinding.


“ mas, ada masalahkah dengan perusahaan kakek? Sampai mas membawa sebanyak ini berkas pekerjaan.... apa mas tidak bisa meminta para ahli di perusahaan mas untuk melakukan semua ini? “ pertanyaan Nara sukses membuat Afkar menatapnya dengan heran.


“ sayang tahu dari mana kalau perusahan kakek bermasalah? Mas tidak pernah menceritakan kalau perusahan kakek ada masalah? “ tanya Afkar heran dan menatap tajam kedua mata Nara.


“ dulu kak Fajrin juga sering membawa gambar designnya pulang kalau ada masalah di kantor “ ucap Nara asal.

__ADS_1


“ oooo..... kalau pun perusahaan kakek ada masalah.... mas masih bisa mengatasinya “ ucap Afkar sambil meraih satu lembar berkas bertuliskan FP eiendom yang tadi Nara lihat.


__ADS_2