NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 40 MENANGIS


__ADS_3

Saat Afkar masih berdzikir terdengar suara isakan tangis Nara, Afkar melihat kebelakang mendapati Nara menangis dalam keadaan bersujud. Afkar segera meraih tubuh Nara dan memeluknya erat, tangis Nara semakin keras dan air matanya semakin membasahi kedua pipi yang mulai cubby. Afkar hanya bisa memeluk membiarkan Nara menumpahkan semua rasa sakit yang selama ini dia pendam, mungkin selama ini Afkar melihat Nara sebagai perempuan yang kuat yang tegar. Tapi di balik itu semua saat prinsip yang sudah tertanam di dalam hati dan pikirannya dengan sengaja sudah di hancurkan oleh seorang yang dia hormati, maka yang ada hanya rasa benci jijik dan hilang sudah rasa hormatnya.


Seperti saat pertama kali Ubet sengaja menggenggam tangannya, yang pada awalnya Nara sangat menghormatinya sebagai seorang senior yang baik hati dan peduli. Tapi hilang sudah rasa hormat itu dalam hitungan detik dan berganti menjadi rasa benci juga jijik, Afkar paham betul apa yang Nara rasakan. Terlihat jelas saat pertama kali melihat Nara ada sesuatu yang berbeda dari diri Nara yang tidak bisa dia sentuh tanpa ikatan resmi. Berkat penjelasan Helen, semua menjadi jelas bagi Afkar.


Afkar semakin merasakan sesak di dadanya mendengar tangisan pilu Nara, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mengubah masa lalu dan hanya bisa memeluk erat tubuh Nara membiarkan Nara menumpahkan semua rasa sakit hatinya. Mungkin bagi sebagian orang berpegangan tangan, bersentuhan bahkan berjabat tangan dengan lawan jenis bukan mahram adalah hal biasa tapi tidak bagi Nara. Fajrin sudah mendidik Nara untuk tidak bersentuhan, berpegangan tangan atau pun berjabat tangan dengan laki-laki selain dirinya Barra dan Satya. Jangankan bersentuhan hanya sekadar menatap wajah pria selain dirinya Barra juga satya, Fajrin pun melarangnya. Saat Ubet memegang tangannya, Nara merasa bahwa sudah menghianati kepercayaan Fajrin jadi tidak mungkin Nara menceritakan semua itu pada Fajrin.


“menangislah....... keluarkan semua sakit hati sayang..... jangan sayang simpan lagi..... “ ucap Afkar yang masih memeluk erat tubuh Nara dengan tangan kanannya membelai punggung Nara.


Rasa sesak di dada Afkar tanpa sadar membuatnya hanyut dan kedua matanya berkaca-kaca.


“semua sudah berlalu..... sekarang mas yang akan menjaga sayang...... mas akan menyimpan rahasia ini hingga mas menutup mata" ucap Afkar berusaha menenangkan Nara dengan mata berkaca-kaca.


Tangis Nara pelan-pelan mulai reda meskipun masih terisak-isak, Afkar melonggarkan pelukkannya dan menatap kedua mata Nara yang sembab.


“sayang...... lihat mas...... itu semua sudah masa lalu..... sekarang sayang sudah ada mas.... tidak akan ada lagi yang bisa menggangu sayang...... sekarang sayang tanggung jawab mas..... “ ucap Afkar sambil menghapus sisa air mata di kedua pipi Nara dengan kedua ibu jarinya.


“apa yang sayang katakan pada Ubet.... itu sudah lebih dari cukup..... itu sudah cukup memberi dia bukti bawah sayang bukan Nara yang dulu....... Nara yang sekarang sudah berbeda" Nara menatap mata Afkar dengan heran.


Nara memicingkan kedua mata seperti berusaha memahami maksud Afkar.


“Nara yang sekarang sudah ada ini......” ucap Afkar pelan sambil menyentuh perut Nara, membuat Nara segera melingkarkan kedua tangannya ke leher Afkar.


“terima kasih..... maaf sudah bersabar untuk Nara" ucap pelan Nara membuat Afkar membelai punggung istrinya dengan lembut.


Saat Nara sudah mulai tenang dan sudah tidak terisak-isak lagi, dengan pelan Afkar membantu melepas mukena dan membantunya duduk di ranjang.


“hari ini kita menginap di rumah aunty Felissa lusa kita kembali ke Oslo.....”ucap Afkar sambil memasukkan semua pakaian miliknya dan milik Nara ke dalam satu koper besar miliknya.

__ADS_1


Nara membantu memisahkan pakaian kotor dan memasukkan ke sebuah koper miliknya. Pukul sembilan lebih lima belas menit Afkar dan Nara sudah berada di lobi menunggu Zehed yang sepertinya sedikit kesiangan, saat Nara bergelayut manja membuat Afkar berkali-kali mencium puncak kepala Nara. tiba-tiba seseorang menghampiri mereka tanpa mengucap salam atau pun basa-basi.


“Nara..... mereka semua masih mengatakan bahwa kamu belum menikah" ucap Ubet yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Nara yang sedang asik bercanda dengan Afkar.


Nara segera menggeser tubuhnya berdiri di belakang Afkar, Afkar mengusap keningnya dengan kasar melihat tingkah Ubet yang lebih terkesan kurang sopan santun.


“aku yakin..... big bos adalah salah satu kakak kamu seperti kakak kamu yang pernah memukulku" ucap Ubet dengan percaya diri.


Afkar terdiam menahan tawa mendengar ucapan Ubet karena baru kali ini bertemu seseorang yang terlalu percaya diri meskipun semua bukti sudah terucapkan.


“aku tidak melihat kamu atau pun big bos memakai cincin yang menunjukkan bahwa kalian adalah pasangan suami istri.” Ucap Ubet sambil menunjuk jari Afkar.


Sejak awal menikah memang Nara melarang Afkar memakai cincin emas, seorang pria haram hukumnya memakai emas karena itu sama seperti menggengam bara api neraka.


“Nara sudah menikah kak..... dan mas Afksr suami Nara....” ucap Nara dengan suara berat karena menahan sesak di tenggorokan.


“bukti apa yang kamu inginkan?” ucap Afkar dengan suara tegas dan lebih terdengar mulai dingin.


“saksi atau pun buku nikah" ucap Ubet semakin percaya diri bahwa dia berada di atas angin dengan kebenaran yang dia pegang.


Afkar memijat keningnya pelan, karena apa yang diinginkan Ubet tidak ada padanya saat ini. Afkar hanya membawa pasport Nara yang pastinya tidak membuat Ubet percaya begitu saja. Saat Afkar berpikir keras, Nara melangkah dan berdiri di samping Afkar membuat Afkar heran apa yang akan di lakukan oleh istrinya.


“kakak bisa bertanya pada kak Feri" ucap Nara pelan tapi cukup membuat kedua mata Ubet membulat sempurna.


Ubet sangat mengenal Feri yang Nara maksud karena Feri adalah saudara sepupu Ubet dari pihak ibu dan juga adik tingkatnya.


“Feri?...... Feri yang kerjanya hanya bermain di depan komputer itu?” tanya Ubet tidak percaya.

__ADS_1


“iya" jawab Nara singkat.


Ubet segera menghubungi Feri yang Nara maksud.


“......”


“Feri...... kamu masih ingat Nara mahasiswi di jurusan kita yang memakai cadar?” tanya Ubet memulai pembicaraan.


“.....”


“kamu tahu dia sekarang dimana?” tanya Ubet dengan suara keras.


“...... "


Seketika tubuh Ubet menegang menatap Afkar yang terlihat dingin.


“kamu serius dengan ucapanmu?” tanya Ubet sekali lagi.


“......” Ucap Remsio yang mulai emosi.


Ubet menatap punggung Nara yang sudah melangkah masuk ke mobil untuk membawanya ke mansion keluarga Yilmaz, masih tidak percaya bahwa mereka sudah menikah. Mobil melaju pelan meninggalkan area hotel, Ubet masih menatap mobil yang membawa Nara dan Afkar. Seketika Ubet berteriak histeris memanggil Nara dan menumpahkan semua air matanya karena kekecewaannya juga penyesalannya tidak mematuhi ucapan ayahnya saat itu.


“sayang..... siapa feri?” tanya Afkar sambil mengetik sesuatu pada ponselnya.


“Feri itu nama aslinya kak Remsio" ucap Nara santai sambil memainkan jari jemari tangan kiri Afkar yang ukurannya lebih besar dari jari jemari Nara.


“tapi mas.... kenapa kak Ubet bisa tahu kalau Nara menginap di hotel ini?” tanya Nara heran membuat Afkar melihat ke arah Zehed yang sedang menyetir.

__ADS_1


“oooo" ucap Nara mulai paham bagaimana Ubet mengetahui keberadaannya.


__ADS_2