NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 201 BERGETAR


__ADS_3

Tawa Azkar dan Afkar kembali pecah.


Satu persatu para tamu undangan berangsur-angsur berkurang hingga menyisahkan keluarga kedua mempelai. Fajrin dan Divya yang sudah berganti pakaian melangkah pelan dengan menggenggam tangan kiri Divya mendekati meja dimana Nara berada.


Terlihat Nara sedang bergelayut manja di lengan Afkar yang sesekali memasukkan makan kecil ke mulutnya.


“ dik.... “ suara pelan Fajrin belum membuat Nara melihat dirinya, begitu juga dengan Afkar.


Tapi Azkar, Dipta dan Johan melihat keberadaan Fajrin juga Divya. Azkar memberi isyarat mata pada Afkar, Afkar melihat isyarat mata dari Azkar dan melihat ke belakang.


Fajrin dan Divya, Davis juga Ditya sudah berdiri di belakang mereka.


“ sayang.... ada Fajrin “ bisik Afkar membuat Nara melihat ke belakang.


Nara melihat Fajrin yang sudah berdiri dengan posesif pada Divya, juga Davis dan Ditya yang berdiri di sebelah Divya.


Nara tersenyum tipis, senyum yang tidak bisa di lihat oleh semua orang kecuali Afkar dan Fajrin. Fajrin mulai memijat dahinya karena Fajrin paham betul arti dari pandangan mata Nara, Afkar hanya menarik nafas panjang.


Azkar, Dipta, Selo, Freya, Erhan, Wingga, Dean, Lief, bahkan saudara sepupu Divya dan Afkar memperhatikan ke mereka. Selo dan Erhan merasa akan perdebatan kecil antara Nara dengan Ditya. Erhan dengan bantuan Ralf menarik kursi dan duduk di sebelah Azkar, begitu juga dengan Freya dan Selo. Lief dan 4 orang pengawal sudah bersiaga bila Afkar memberi isyarat tangan pada mereka.


Martha yang sedari tadi mengekori Davis terlihat jelas ingin mendekati Afkar, tapi 2 orang pengawal menghalangi pergerakan Martha.


“ ada apa kak “ tanya Nara sambil meremas lengan kiri Afkar.


“ buka semua akun Ditya “ permintaan pelan Fajrin membuat orang yang tidak tahu apa permasalahan di antara Ditya dan Nara menjadi saling berbisik-bisik.

__ADS_1


Tapi tidak dengan keluarga Sadhat, Afkar terlihat menyungging senyum tipis. Senyum yang membuat Ditya kembali merinding, Azkar menatap tajam Ditya serasa ingin menghabisinya, Dipta memijat dahinya kecewa dengan sikap Ditya yang tidak berani mengatakan maaf pada Fajrin di depan Nara dan Davis memejamkan kedua matanya seperti menahan rasa kecewa juga penyesalan mendalam.


Nara menatap ke depan tepat di dada Ditya untuk sesaat.


“ assistent Lief... kan jeg låne et nettbrett til... bare et øyeblikk (asisten Lief... bisakah aku meminjam tablet lagi.... sebentar saja) “ suara Nara yang terdengar halus di telinga Ditya juga Evan membuat kedua jantung mereka seakan akan berhenti berdetak.


Tapi tidak dengan Afkar dan Azkar bahkan Fajrin, suara Nara lebih terdengar sedang menantang Ditya.


Lief dengan sigap menyerahkan tablet pada Afkar dan Afkar menyerahkan pada Nara, Nara duduk kembali di meja dan jari jemarinya mulai menari-nari di atas layar tablet. Hanya butuh waktu 5 menit bagi Nara untuk membuka script dan mengaktifkan program pengenalan suara.


“ mas..... “ Nara menyerahkan tablet pada Afkar.


Afkar mendekatkan tablet tersebut pada Ditya, membuat semua orang heran dan bertanya-tanya. Tapi tidak dengan Fajrin, Fajrin memijat dahinya dan memejamkan kedua matanya menahan rasa gemas pada Nara. Ingin rasanya Fajrin menjepit kedua pipi Nara, Afkar menatap tajam Ditya yang terlihat jelas tidak mengerti kenapa sebuah tablet berada tepat di depannya


“ katakan (say it) “ suara pelan dan halus Nara membuat Ditya juga yang lainnya yang tidak mengenal sosok Nara tiba tiba menjadi merinding tidak seperti tadi.


“ say what you want to say to my brother....and make sure your voice doesn't tremble with nervousness or lies (katakan apa yang ingin anda katakan pada kakakku.... dan pastikan suara anda tidak bergetar karena gugup atau pun kebohongan belaka). “ suara datar dan halus Nara membuat Afkar heran.


“ apa sayang belajar bicara seperti ini dari mas?..... aaah.... aku harus merubah caraku berbicara kalau ada sayang.... “ gumam Afkar dalam hati.


Ditya semakin gugup karena seluruh pasang mata keluarga besarnya menatap tajam penuh tanya.


Suara keras Dipta membuat Nara terkejut dan meraih tangan kiri Afkar.


Mendengar permintaan Fajrin membuat Nara menarik nafas panjang dan mengambil alih tablet dari tangan Afkar.

__ADS_1


“ all your accounts will be open automatically if you say sorry and admit your actions (semua akun milik anda akan terbuka dengan sendirinya bila anda mengucapkan kata maaf dan mengakui perbuatan anda) “ suara datar Nara yang sudah mendekatkan tablet lebih dekat ke mulut Ditya.


Nara terkejut dengan apa yang Dipta lakukan di depannya tapi Nara berusaha untuk tidak terlihat terkejut atau pun takut.


“ baiklah kalau anda tidak mau mengatakannya.... “ ucap Nara sambil mendekatkan tablet yang dia pengang ke dadanya untuk menutup scriptnya.


Tapi belum sempat Nara menekan tombol keluar, Ditya mengucap satu kata begitu juga dengan Davis. Namun suasana kembali hening sesaat, Afkar mengambil alih tablet dari tangan Nara dan mendekatkan kembali pada Ditya.


Nara tersenyum tipis mendengar suara Ditya yang sangat jelas bergetar.


Afkar melihat script Nara mulai melakukan deteksi suara setelah menunggu kurang lebih 5 detik hasil deteksi suara keluar tapi apa yang Ditya ucapkan tidak sesuai dengan script database Nara.


Afkar memperlihatkan layar tablet pada Ditya membuat Dipta dan Fajrin juga ikut melihat layar tablet tersebut. Afkar tersenyum mendengar umpatan Ditya dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya.


“ I will give you a hint.... this script is made only to recognize your voice when you say sorry..... my actions..... to you..... whether you want to say it in Indonesian or English.. ...as long as your voice doesn't vibrate and there are no lies (aku akan memberimu petunjuk.... script ini di buat hanya untuk mengenali suaramu bila kamu mengucapkan kata maaf..... perbuatanku..... padamu..... entah kamu mau mengucapkan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris..... asalkan suaramu tidak bergetar dan tidak ada kebohongan) “ ucapan Afkar memecah keheningan suasana.


Para saudara sepupu Divya kembali berbisik-bisik membuat suasana grand ballroom seperti pasar raya.


Johan yang sedari tadi duduk diam mulai merasa terganggu dengan sikap pengecut Ditya, Johan berdiri dan melangkah tepat di depan Ditya. Ditya terkejut melihat keberadaan Johan.


Ucapan Johan yang semula terdengar jelas di telinga semua orang, tiba-tiba pelan karena Johan mendekatkan mulutnya beberapa centimeter di telinga kanan Ditya. Entah apa yang Johan bisikkan pada Ditya tapi saat Johan menormalkan posisi kepalanya, Ditya terlihat sangat takut dengan perlahan menggerakkan kepalanya menatap Afkar dan Nara bergantian.


Karena Ditya terlalu lama tidak mengatakan sepatah kata pun satu persatu keluarga besar Surendra keluar dari grand ballroom dan hanya menyisahkan Wingga, Selo, Azkar, dan Afkar. Helen beserta anak-anaknya juga Norin dan Dean memilih keluar dari grand ballroom. Begitu juga dengan keluarga besar Prakash Lohia mereka yang sudah tahu kebiasaan Ditya memilih keluar dari ballrom dan hanya saudara sepupu terdekat saja yang memilih tetap berada di grand ballroom.


Terlihat jelas Ditya berusaha keras menguatkan diri untuk mengucapkan kata sesuai petunjuk Afkar.

__ADS_1


Kata maaf dan pengakuan Ditya akhirnya meluncur bebas dari mulutnya, dan Fajrin mengatakan apa yang harus dia katakan pada Ditya.


__ADS_2