
Saat Afkar mengamati dengan serius setiap baris bahasa pemprograman yang Nara buat, maka Afkar tersenyum tipis juga menggelengkan kepalanya dengan heran dan sesekali melihat kain pembatas yang menutupi Nara.
Tepat satu jam setelah masuk waktu Magrib Nara sadar dan melihat langit-langit ruangan yang sangat asing baginya, Nara mulai takut karena mencium aroma karbol rumah sakit.
Tiba-tiba sayup-sayup Afkar mendengar suara Nara.
“ mas..... mas.... mas Afkar “ suara pelan Nara yang mulai sadar bahwa dia berada di rumah sakit.
Afkar terdiam melihat ke arah kain pembatas meyakinkan diri sekali lagi bahwa dia mendengar suara Nara memanggilnya.
“ mas.... mas Afkar “ Afkar segera berdiri dari sofa dan mendekati Nara yang sudah sadar.
Afkar segera mencium setiap kulit wajah dan tangan Nara.
“ mas.... geli “ ucap Nara pelan dan terdengar manja.
“ terima kasih sudah bertahan, terima kasih sudah sadar “ ucap Afkar sambil mencium pipi Nara.
“ mas.... Nara mau ke toilet “ pinta Nara membuat Afkar sigap membuka selimut yang menutupi tubuh Nara.
Afkar sedikit terkejut karena Nara tidak mengenakan hipster dan hanya sebuah pembalut berbentuk handuk kecil yang menjadi alas tubuh bagian bawah Nara yang masih mengeluarkan darah. Afkar pucat melihat masih banyak darah yang keluar di antara kedua kaki Nara.
Nara mencoba menurunkan kedua kaki nya dan berjalan sedikit cepat ke toilet karena sudah tidak tahan untuk buang air kecil, Afkar meraih kantung infus dan mengikuti Nara masuk ke toilet. Menggantungkan kantung infus di tempatnya dan membantu Nara untuk buah air kecil, Afkar mengerti kalau kedua tangan Nara belum bisa di di gerakkan maka Afkar berinisiatif membersihkan area sensitif istrinya.
Saat Nara berdiri kembali darah keluar dari sela-sela kedua kaki Nara.
“ mas.... ada pembalut tidak? “ Afkar heran dengan pertanyaan Nara.
Melihat Nara sesaat.
“ sebentar mas lihat dulu “ ucap Afkar dan berjalan cepat mencari tas pakaian Nara.
__ADS_1
Saat Afkar sibuk membolak balikkan pembalut nifas karena tidak tahu cara memasang pembalut nifas, tiba-tiba Fajrin masuk dengan Barra.
“ Assalamu'allaikum “ salam Fajrin dan membuat Afkar terkejut.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Afkar dan kembali membolak balikkan pembalut nifas.
“ sini.... aku pasangkan “ ucap Fajrin sambil meraih pembalut nifas dan hipster Nara.
“ ini hispter Nara.... kenapa ukurannya tidak berubah dari terakhir kali aku melipatnya “ Afkar jengah melihat Barra dengan mengabaikan ucapan Barra dan meraih hipster dari tangan Fajrin.
Afkar kembali masuk ke toilet dan membantu Nara memakai hipster yang sudah ada pembalut nifasnya. Saat pertama kali kaki kanannya keluar, Nara melihat Fajrin yang sudah berdiri di dekat sofa melihatnya dengan tatapan sedih.
“ kakak..... “ ucap Nara dengan mata berkaca-kaca.
Fajrin menghampiri Nara dan memeluknya erat, hati Nara kembali sedih dan membuatnya kembali menangis.
“ maaf.... Nara tidak amanah “ ucap Nara sedih dan mulai meneteskan air mata.
Fajrin memeluk erat tubuh seorang adik yang sudah dia besarkan dengan susah payah, dengan tangan kanannya membelai halus punggung Nara dan pelan-pelan tangis Nara pun reda.
“ jelek...... sudah nikah masih saja menangis..... mana ingusan lagi “ ejek Fajrin sambil menyeka ingus Nara dengan kain kemeja lengan kirinya.
Afkar seperti melihat sosok Nara yang sebenarnya sosok polos yang masih ingin bermanja dan bermain. Fajrin dan Afkar membantu Nara kembali naik ke ranjang.
“ mulai manjanya keluar.... “ ucapan Barra membuatnya mendapat pukulan ringan dari Fajrin di lengan kanannya.
“ Dik... ganti pakaian ya.... ini ada bekas darah “ rayu Fajrin dan Nara menganggukan kepalanya.
Afkar segera melangkah mengambilkan pakaian santai Nara dan saat hendak menyerahkan pada Fajrin, dengan isyarat tangan Fajrin meminta Afkar saja yang menggantikan pakaian Nara sedangkan Fajrin hanya membantu meloloskan kantung infus dari lengan pakaian Nara.
“ kak.... terima kasih “ ucap Nara yang mulai berkaca-kaca karena sudah menikah pun masih menjadi beban pikiran Fajrin.
__ADS_1
Afkar duduk di tepi ranjang dan memijat pelan paha kiri Nara, sementara Fajrin berdiri memegang lengan kiri Nara.
“ kalian harus saling terbuka, setiap masalah yang kalian hadapi harus kalian selesaikan bersama jangan saling menyembunyikan sesuatu satu sama lain.... kalau sudah begini kalian sendiri yang rugi..... sekarang katakan pada kakak bagaimana kamu bisa kurus begini? Apa kamu malas makan? Apa Afkar tidak memberimu makan? “ pertanyaan Fajrin secara tidak langsung sudah menusuk dada Afkar.
Nara menggelengkan kepala menjawab semua pertanyaan itu.
“ Ra.... mau ini tidak? “ tanya Barra yang sudah memegang burger yang tadi dia beli setelah menjemput Fajrin di bandara.
Nara melihat burger yang Barra pegang dengan tatapan ingin sekali merebut burger tersebut.
“ hanya beli satu burger? “ tanya Afkar membuat Barra mengangkat kedua bahunya sekali.
Fajrin menggelengkan kepala melihat Barra yang sepertinya masih jengkel dengan Afkar.
“ sebelum ke sini kami tadi membeli beberapa bungkus burger dan pengawal kamu yang berjaga di luar kamar juga sudah aku bagikan burger. “ ucap Fajrin sambil mendorong Barra untuk mengambil burger yang tadi mereka beli.
Mereka berempat makan malam dengan burget dan segelas orange jus.
“ Ra.... kenapa ukuran hipster kamu masih sama seperti saat terakhir kali kakak melipatnya? Apa Afkar tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat hipster kamu naik satu atau dua ukuran? “ pertanyaan Barra yang terkesan vulgar membuat Afkar tersedak dan pipi Nara menjadi merah.
“ memangnya kapan terakhir kali kamu melipat hispter Nara? “ tanya Fajrin curiga sambil melipat kecil kertas bungkus burger.
“ waktu kamu di lombok “ jawab Barra santai sambil meraih segelas orange jus yang berada di sebuah meja kecil tepat di samping Nara.
“ sok tahu kamu.... memangnya kamu sendiri tahu bagaimana cara menaikkan ukuran hipster? “ goda Fajrin sambil memasukkan kertas bungkus burger ke tempat sampah.
“ tahu sedikit..... Afkar apa perlu aku ajari cara membesarkan ukuran hipster Nara “ ucap Barra dengan mengedipkan kelopak mata kirinya pada Afkar.
“ kak Barra.... bisa tidak jangan bahas hipster.... “ ucap Nara cemberut.
“ ya sudah.... kalau tidak mau kakak bahas itu.... kalau begitu tiga bulan lagi Afkar harus sudah membuat kamu hamil lagi.... kalau tidak.... “ ucapan Barra terhenti karena Fajrin membekap mulutnya.
__ADS_1
“ sudah dik.... adik istirahat saja biar cepat pulih cepat keluar dari rumah sakit, jangan pikirkan ucapan Barra.... Afkar setelah aku selesai mandi ada hal harus kita bicarakan “ ucap Fajrin yang masih membekap kuat mulut Barra.
Meski pun Barra mencoba menyingkirkan tangan Fajrin, tetap saja tidak bisa membebaskan mulutnya dan akhirnya hanya bisa pasrah. Sedangkan Nara dan Afkar saling melihat satu sama lain seperti sedang berbicara dengan mata mereka.