NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 228 I'M in


__ADS_3

Afkar menatap Barra mencari tahu maksud dari dua kompetisi yang Barra maksud.


“ apa yang kamu maksud kompetisi bawah tanah...... ? “ ucapan Afkar membuat Barra tidak sanggup menggeleng atau menganggukkan kepala.


Afkar menggelengkan kepala menolak pemikiran apa pun yang terlintas di otak Barra.


“ hanya itu dua kompetisi hack quest yang tersisa...... kompetisi online..... mereka hanya perlu mengakses satu IP address black hole.... atau paling parah satu Dead IP address..... “ ucap Barra mencoba meyakinkan Afkar.


Barra bisa berkata seperti ini karena Barra tidak tahu kalau Nara memiliki beberapa nama jaringan yang di kenal oleh para grey hack atau peretas abu-abu, tapi tidak dengan Afkar. Afkar sudah tahu beberapa nama jaringan yang Nara pakai di lingkungan para peretas abu-abu.


Afkar memijat tengkuknya, Afkar tidak ingin Nara menjalani profesi agen ganda seperti dirinya di masa lalu. Karena sekali saja Nara bertemu dan berhadapan dengan peretas hitam, bisa di pastikan bahwa Nara akan menjalani apa yang pernah Afkar jalani di masa lalu.


“ aku pikirkan dulu....... beri aku waktu tiga hari “ ucap Afkar mencoba bernegosiasi.


“ satu hari.... “ tawar Barra.


“ dua hari.... “ nego Afkar.


“ baiklah.... satu hari “ ucap Barra berpura-pura menyerah dengan negosiasi Afkar.


Afkar mengumpat tertahan karena tidak bisa membuat Barra memberinya waktu untuk berpikir.


Barra kembali masuk ke dalam rumah sementara Afkar mengeluarkan ponselnya mengetik sesuatu dengan cepat dan beberapa menit kemudian Afkar terlihat sedang berbicara dengan seseorang. Terlihat terkadang Afkar memijat tengkuknya, pelipis atau pun dahinya.


“ fine..... I'm in (baiklah..... aku ikut) “ ucap Afkar yang akhirnya mencapai kata sepakat dengan seseorang di ujung sambungan telepon.


Afkar menarik nafas panjang sebelum kembali masuk ke dalam rumah, mendengar tawa bahagia Nara membuatnya harus bisa bersikap profesional apa pun kondisinya.


Afkar kembali duduk di sebelah Nara dan Nara langsung memeluk lengan kiri Afkar.


“ lama sekali..... “ gerutu Nara.


Afkar tersenyum gemas membalas ucapan Nara.


“ baru sebentar..... cepat sekali kangennya “ bisik Afkar membuat Nara memainkan kelopak matanya.

__ADS_1


Morten yang sedari tadi memperhatikan Zarya yang bercerita juga yang lainnya, melihat Afkar dan Nara yang terlihat mesra menjadi tergelitik ingin menggoda.


“ dere to forstyrrer øynene mine...... gå opp på rommet ditt..... (kalian berdua mengganggu pemandanganku...... masuk kamar sana..... ) “ ucap Morten sambil melempar sebuah jeruk.


Tapi dengan sigap Afkar menangkapnya.


“ du ønsker det.... så fullfør college først... Jeg skal fortelle deg onkel og tante hvis du vil bli som oss (iri..... makanya selesaikan dulu kuliah kamu.... nanti aku bilang uncle ama aunty kalau kamu ingin seperti kami) “ ucap Afkar dengan tangan kanan yang sudah menggenggam jeruk.


Marius menatap tajam Morten membuat Morten menundukkan kepala dalam-dalam.


“ du kan ikke komme i forkant av meg...... jeg var den gang deg.... og det betyr at etter at jeg ble uteksaminert postgraduate... fikk det..... (kamu tidak bisa mendahuluiku...... aku dulu baru kamu.... dan itu berarti setelah aku lulus pasca sarjana.... mengerti.....) “ ucap Marius tegas membuat Morten semakin tertunduk.


Afkar dan yang lainnya menjadi tertawa melihat sikap Morten yang tidak berkutik dengan ucapan Marius.


“ ayo mas..... kita naik.... kasihan Morten iri melihat kita..... nanti dia kepikiran sampai terbawa tidur..... “ ucap Nara sambil berusaha berdiri dari sofa.


“ dere fortsetter historiene...... vi går opp først (kalian lanjutkan cerita-ceritanya...... kami naik dulu) “ ucap Afkar yang sudah berdiri mengikuti Nara dan tak lupa melempar kembali jeruk ke arah Morten.


Membuat Morten terkejut karena tidak siap menerima jeruk dari Afkar.


Afkar dan Nara naik ke lantai dua, kakak beradik Yilmaz dan yang lainnya kembali berbincang-bincang menceritakan hal-hal yang membuat mereka terkesan dengan kota Jakarta.


“ mas.... lihat ini.... ini kaki..... “ ucap Nara sambil menunjukkan tonjolan yang sedikit menyerupai kaki.


Afkar tersenyum dan membelai perut Nara.


“ sayang..... kangen juga sama Abba..... “ ucap Afkar yang sudah menyandarkan wajahnya dengan perut Nara.


Nara sedikit mencebikkan bibirnya mendengar kata kangen dari Afkar.


“ yang di perut kangen apa..... mas yang kangen ini “ ucap Nara sambil menunjuk apa yang dia maksud dengan kata ini.


Afkar tersenyum ternyata Nara mengerti apa yang dirinya maksud, dengan tatapan mata yang sudah tidak dapat menahan keinginan merasakan haknya. Afkar membisikkan sesuatu yang membuat Nara merinding, karena Afkar tidak hanya membisikan sesuatu tapi tangan kirinya sudah menjelajah area sensitif Nara. Afkar paham bahwa kondisi Nara tidak memungkinkan dirinya untuk aktif dan Afkar meminta Nara untuk aktif, pelan-pelan Afkar membimbing Nara bagaimana melakukan kewajibannya. Pada awalnya Nara terlihat jelas sangat canggung tapi dengan sabar Afkar membimbingnya hingga membuat Nara leluasa bergerak mengikuti instingnya.


“ sayaaang...... “ suara sesak tertahan Afkar saat Nara perlahan lahan menerima apa yang harus dia terima.

__ADS_1


Nara diam sesaat menyesuaikan diri dengan posisi yang baru pertama kali dia lakukan, karena selama ini Afkar yang bergerak sangat aktif.


“ gerak..... sayang “ ucap Afkar pelan.


Nara perlahan-lahan menggerakkan punggungnya sesuai arahan dari kedua tangan Afkar.


Afkar merasa terjepit dan terasa menyentuh batas terakhir area sensitif Nara.


Nara yang bergerak dengan pelan karena masih proses penyesuaian diri membuat Afkar tidak sabar dan meminta Nara bergerak lebih cepat, dengan bimbingan kedua tangan Afkar di pinggul Nara bergerak sedikit lebih cepat membuat Afkar tidak bisa menahan lagi untuk tidak mengeluarkan bagian terkecil dari dirinya. Begitu juga dengan Nara, beberapa kali sudah Nara mencapai puncak. Setiap kali Nara mencapai puncak, Afkar akan menahan kedua pinggul Nara agar miliknya tidak keluar. Tidak butuh waktu lama bagi Nara untuk membuat Afkar mengeluarkan bagian terkecil dari suaminya.


“ aaaaaaahhhh...... “ teriakan tertahan Afkar dengan kedua tangannya masih menahan kedua pinggul Nara.


“ maaasss....... “ teriakan tertahan Nara saat merasakan milik Afkar berdenyut mengeluarkan bagian terkecil.


Afkar masih menahan Nara tetap pada posisinya, kerjanya mengatur nafas. keringat membasahi seluruh kulit mereka, Afkar tersenyum puas. Beberapa menit posisi mereka masih tertahan.


“ mas..... sudah ya..... Nara ingin buang air kecil..... “ pinta Nara sambil memegang kedua tangan Afkar agar melepaskan pinggulnya.


Afkar tersenyum dan membantu Nara berdiri melepaskan miliknya, Nara segera berjalan cepat menuju kamar mandi.


Afkar tersenyum gemas melihat punggung Nara yang menurutnya terlihat lucu dan menggemaskan.


“ everyday you drive me like a crazy (kamu membuatku seperti orang gila setiap hari) “ gumam Afkar sambil melangkah masuk ke kamar mandi.


Melihat Nara masih belum selesai buang air kecil, membuat Afkar tersenyum.


“ cute “ ucap Afkar singkat.


Nara mencebikkan kedua bibirnya karena Afkar tidak berkedip melihatnya. Saat Nara hendak keluar kamar mandi, Afkar menahan tangan kirinya.


“ sayang.... jangan pakai apa-apa “ ucapan Afkar membuat Nara bingung karena terkesan ambigu di telinga Nara.


Nara memiringkan kepalanya kekiri.


“ mas.... ingin merasakan kaki kembar “ ucap Afkar sambil membelai perut buncit Nara mencoba mencari sedikit tendangan di perut Nara.

__ADS_1


“ oooo.... “ ucapan Nara singkat.


Malam ini mereka benar benar tidur dalam keadaan polos dan posisi tidur Nara sama seperti saat malam setelah kompetisi, Nara tidur dalam keadaan duduk. Dua bantal yang menahan punggung Nara dan Afkar tertidur dengan memeluk perut buncit Nara.


__ADS_2