NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 5 AYASOFYA


__ADS_3

Afkar mengajak Nara untuk makan pagi di sebuah restauran hotel, Nara mengedarkan pandangannya melihat hamparan bermacam-macam buah anggur dan buah tin membuat Nara ingin mencoba semua. Nara mengambil satu tangkai kecil setiap buah anggur yang dia lihat membuat piring yang dia bawa penuh dengan sepuluh jenis buah anggur. Afkar tersenyum kecil melihat tingkah Nara yang ingin mencoba semua jenis anggur.


“sayang..... jangan banyak-banyak..... nanti mubazir....” ucap Afkar sambil menghentikan tangan Nara saat hendak mengambil satu buah tin.


Seorang staff restauran menghampiri mereka dan mengarahkan ke meja makan yang tersedia, staff restaurant menyerahkan dua buku menu. Dia menunggu Afkar untuk memesan menu makan makan.


“sayang..... sayang yakin akan mengunjungi semua tempat itu?” tanya Afkar yang sedikit kuatir bila Nara capek berpergian mengunjungi beberapa tempat wisata yang sudah dia lingkari.


“untuk yang ini ..... harus sama mas Afkar.... “ ucap Nara sambil menunjukkan sesuatu membuat Afkar tersenyum bahagia.


“iya...... mas akan selesaikan secepatnya..... ingat kalau lapar langsung minta marius untuk masuk restaurant jangan hanya makan coklat.” Ucap Afkar sambil membelai niqab Nara.


Beberapa menit kemudian seorang pelayan menyajikan beberapa menu makanan khas Turki di meja makan, Nara memandangi menu tersebut dengan mata berbinar-binar.


“ayo makan" ucap Afkar .


Mereka berdua makan tanpa ada pembicaraan apa pun. Selesai makan Afkar tidak langsung meninggalkan Nara, melainkan menunggu kedatangan marius dan morten yang akan menemani Nara selama Afkar sibuk dengan Kant Software. Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit tampak Morten dan Marius mendatangi mereka dengan membawa sebuah kotak.


“Assalamu'allaikum” salam Morten sambil menyerahkan sebuah kotak pada Nara.


“Wa'alaikumsalam, what is this (apa ini)? “ salam Nara dan Afkar hampir bersamaan.


Nara menerima sebuah kotak pemberian Morten dan memandang Afkar bertanya-tanya apa isi kotak ini.

__ADS_1


“just open it (buka saja)" mendengar ucapan Afkar, Nara segera membuka kotak tersebut.


Seketika senyum bahagia terulas di bibir Nara dan terlihat sangat jelas kedua mata Nara menyipit, Afkar tersenyum bahagia melihat Istrinya bahagia hanya dengan sekotak coklat dengan berbagai rasa.


“fra i dag og fremover overlater jeg svogeren din til virksomheten min med Kant Software er ferdig. Hvis svogeren din vil ha noe med kontanter, ikke bruk et kredittkort, bruk penger fra dette kortet (mulai hari ini aku titip kakak ipar kalian, sampai urusanku dengan Kant Software selesai. Kalau kakak ipar kalian ingin sesuatu pakai uang tunai jangan pakai credit card, pakai uang dari kartu ini)" ucap Afkar sambil menyerahkan sebuah kartu private banking dari sebuah bank terbesar di Norwey.


“ID er bursdagen min (PIN nya tanggal lahirku)" ucap Afkar sekali lagi membuat Morten terkejut.


“mas..... kartu yang dulu mas beri masih ada di Nara” ucap Nara heran.


“beda sayang..... selama disini pakai kartu yang Marius bawa..... minta apa pun ke dia..... dia pemilik sebuah pabrik coklat yang sayang pegang sekarang" bisik Afkar membuat Nara membulatkan kedua matanya.


“serius?” tanya Nara tak percaya.


“selamat bersenang-senang..... ingat sebelum Magrib kembali ke hotel. Assalamu'allaikum” ucap Afkar sambil mencium dahi Nara membuat Marius dan Morten tersenyum kecut.


Selepas kepergian Afkar, Morten dan Marius mengajak Nara masuk ke sebuah mobil dan menuju ke sebuah tempat. Sepanjang perjalanan Nara tak henti-hentinya kagum dengan keindahan kota Istanbul yang selama ini hanya dia dengar dari cerita Fajrin. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama dua puluh empat menit dengan melewati terowongan Avraysa, terowongan yang membelah selat Bosphorus dengan kedalaman seratus enam meter di dasar selat.


“This tunnel connects Kumkapı in the European side and Koşuyolu, Kadıköy, in the Asian side of Istanbul with a route of fourteen point six kilometers including the tunnel approach road and next to it is the Marmaray subway tunnel (terowongan ini menghubungkan Kumkapı di bagian Eropa dan Koşuyolu, Kadıköy, di Istanbul bagian Asia dengan rute sepanjang empat belas koma enam kilometer termasuk jalan pendekatan terowongan dan disebelah sana ada terowongan kereta bawah laut Marmaray)" penjelasan Marius membuat Nara memandangi sekeliling terowongan dengan mata takjub.


“where do you want to take me? Are we going to see Ayasofya?(kalian mau bawa aku kemana? Apa kita akan melihat Ayasofya?)”pertanyaan Nara membuat Morten memandangnya dengan heran.


“has sister-in-law ever been here (kakak ipar pernah kemari)?” tanya Morten heran.

__ADS_1


“this is my first time in Turkey (ini pertama kalinya Nara ke Turki)" ucap Nara santai.


“how did sister-in-law know that we were going to Ayasofya (bagaimana kakak ipar bisa tahu kalau kita akan ke Ayasofya?” tanya Marius yang juga heran.


“this morning before breakfast, I'm already broswing about Ayasofya (tadi pagi sebelum makan pagi, Nara sudah broswing tentang Ayasofya)" ucap Nara dengan nada suara bahagia karena bisa menginjakkan kaki di sebuah katedral yang sudah di rubah menjadi Masjid oleh Mehmed dua.


Sampai di sekitar area Ayasofya, Marius memarkir mobilnya di area parkir Sultan Ahmed Camii atau Masjid Biru.


“Come on, let’s spend the day around Ayasofya (ayo, kita habiskan sehari ini mengelilingi Ayasofya)” Ucap Morten sambil membuka pintu untuk Nara.


Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan kabasakal melewati Arasta Bazaar masuk ke jalan kecil Utangaç menuju jalan kecil Dalbasti dan mendapati sebuah taman dengan kolam air mancur Sultan Ahmad Maydan, mereka berhenti sejenak di taman ini karena tiba-tiba Nara berhenti dan memandangi sesuatu.


“is there anything around here that I can eat (apa di sekitar sini ada sesuatu yang bisa aku makan)?” tanya Nara tiba-tiba membuat Marius dengan sigap membuka suatu aplikasi di ponselnya.


“what do you want to eat (kakak ipar ingin makan apa)?” tanya Morten sambil melihat sekeliling.


“anything that can make me full (apa saja yang bisa membuat kenyang)” mendengar permintaan Nara, kedua kakak beradik itu saling memandang satu sama lain dengan pandangan heran dan bertanya-tanya.


“there is a cafe near Ayasofya. We can eat there (di dekat Ayasofya ada cafe. Kita makan disana saja).” Ajak Marius yang tiba-tiba mengingat sesuatu.


Akhirnya dengan perlahan Nara mengikuti langkah kaki kedua kakak beradik itu meskipun ada rasa lapar yang tidak bisa dia tahan. Mencium aroma makanan membuat Nara semakin merasa lapar, Morten segera mengajak Nara duduk di sebuah kursi dan seorang pelayan memberinya sebuah buku menu. Nara tidak paham bahasa turki tapi Nara sangat tertarik untuk memesan beberapa makanan.


“Sufle, Orman Meyveli Turta, piliç sinitzel and this one" tunjuk Nara pada buku menu membuat kedua kakak beradi itu semakin heran.

__ADS_1


“are you sure.... can eat it all (kakak ipar yakin.... bisa menghabiskan itu semua)?” tanya Marius semakin heran.


Nara menjawab pertanyaan Marius dengan anggukan kepala, sedangkan Marius dan morten hanya memesan sebuah latte. Saat pelayan meletakkan pesanan mereka, Nara segera memakan semua tanpa menyisakan sedikit pun makanan di piring juga minuman. Kedua kakak beradik itu menggelengkan kepala melihat nafsu makan Nara. Selesai makan mereka langsung menuju ke pintu masuk Ayasofya masuk melalui pintu sisi sebelah barat, Nara sangat terkesan dengan dekorasi mosaic yang terdapat di setiap dinding dan langit langit Ayasofya. Kedua bersaudara mengajak Nara berkeliling melihat seluruh ruangan dan seluruh sisi dari Ayasofya hingga menjelang Adzan Dhuhur. Kedua kakak beradik itu mengajak Nara untuk sholat Dhuhur di Sultan Ahmed Camii dan selepas dhuhur mereka mengajak Nara untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan menuju Topkapi Sarayi yang berjarak enam ratus meter dari Sultan Ahmed Camii.


__ADS_2