
Belum sempat Afkar bertanya siapa yang Johan maksud, Johan sudah mengirim video rekaman Nara pada seseorang.
“ hvem sendte du til...... båndet..... ikke vær som deg..... (kamu kirim ke siapa...... rekaman itu..... jangan macam-macam kamu.....) “ suara dingin dan geram Afkar membuat Johan tersenyum geli.
“ veldig besittende...... rolig ingen...... sikkert svoger får hilsen snart (posesif sekali...... tenang bukan siapa-siapa...... pasti kakak ipar sebentar lagi dapat salam) “ ucap Johan santai.
Afkar masih geram dan tidak terima dengan apa yang Johan lakukan pada wanitanya, belum sempat Afkar meraih kerah jaket Johan. tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk dan Johan segera memperlihatkan pesan itu pada Afkar, seketika kedua mata Afkar membulat sempurna tidak percaya dengan apa yang dia baca.
“ Når gifter du deg? Hvilken kvinne vil gifte seg med deg? Tvang du kvinnen? Hvem er ditt offer denne gangen? Tvang du familien hans? (kapan kamu menikah? Wanita mana yang mau menikah denganmu? Apa kamu memaksa wanita itu? Siapa korbanmu kali ini? Apa kamu memaksa keluarganya?) “ pertanyaan Afkar yang terkesan mengintimidasi membuat Johan sedikit kecewa.
“ hvor ille er hjernen din med meg..... så dårlig...... du vet dette jeg hilser ikke på deg...... (seburuk itukah otakmu tentangku..... jahat sekali...... tahu begini aku tidak menyapamu......) “ ucap Johan pura pura sedih dan menggeser-geser layar ponselnya.
Kedua mata Afkar sekali lagi membulat sempurna saat melihat beberap foto yang Johan geser-geser dengan ibu jari tangan kanannya.
“ dette er ikke tvang (ini bukan pemaksaankan)? “ pertanyaan Afkar membuat Johan menyerahkan ponselnya dengan suka reka.
Afkar menggeser-besar layar ponsel Johan hingga seketika apa yang menjadi pemikiran di otaknya tentang sikap Johan seketika pudar, sebuah video singkat dimana Johan berjabat tangan dengan Fajrin mengucap kalimat ijab. Afkar tidak mampu berkata-kata karena Afkar melihat wanita yang Fajrin nikahkan dengan Johan. perlahan-lahan Afkar menyerahkan ponsel Johan dan menepuk bahu kiri Johan.
“ ta vare på ham....gjør ham til den eneste i livet ditt... Fajrin vil ikke være oppriktig hvis du får ham til å felle tårer (jaga dia.... jadikan dia satu-satunya wanita di hidupmu.... Fajrin tidak akan ihklas bila kamu membuatnya meneteskan air mata) “ ucapan sedih Afkar membuat Johan tertegun.
Karena baru kali ini Johan mendengar suara hangat Afkar, Johan tersenyum bahagia karena mendapatkan dukungan dari manusia kutub.
“ ro deg ned..... Jeg forstår det allerede..... Fajrin er skumlere enn deg..... ordene hennes er som en kniv uten en sløv side..... bare denne kvinnen tør å avvise meg.. ... men det gjør meg mer tiltrukket av ham
(tenang..... aku sudah paham hal itu..... Fajrin lebih menakutkan dari pada dirimu..... ucapannya seperti pisau tanpa sisi tumpul..... hanya wanita ini yang berani menolakku..... tapi itu semakin membuatku tertarik dengannya) “ ucapan bahagia Johan membuat Afkar tertawa.
__ADS_1
Nara yang berdiri tak jauh dari Afkar segera menatap Afkar heran, melihat Johan berdiri di dekat Afkar membuat Nara mendekat.
“ mas Afkar kenapa? Ada yang lucu? “ tanya Nara heran.
“ kakak ipar...... pria tua ini menertawakan kakak iparnya “ seketika Afkar menatap tajam Johan.
Johan yang merasa bahwa Afkar akan menerkamnya segera berdiri di belakang Nara.
“ kalian lanjutkan melihat-lihatnya.... aku pergi dulu “ ucap Johan dan melangkah menjauh dari tatapan tajam Afkar.
Afkar masih menatap Johan dengan tatapan tajam dan Nara berusaha mensejajarkan kedua matanya dengan kedua mata Afkar meski pun tidak sampai tapi gerakan yang Nara lakukan cukup membuat perhatian Afkar beralih padanya.
Afkar tersenyum dan menangkup kedua pipi Nara.
“ ayo mas.... kembali ke hotel “ katakan Nara membuat Afkar mengeluarkan suara keras sekali untuk memanggil kakak beradik Yilmaz, dbuq juga javex.
Mereka melangkah ke hotel dan masuk ke lobi mendapati Barra yang sudah memegang kunci kamar hotel. Melihat Afkar dan yang lainnya, Barra segera menyerah kunci kamar masing-masing.
“ frokost starter klokka fire til åtte i tredje etasje og vi går til konkurransestedet, konkurransen starter klokka åtte..... vi samles i lobbyen nøyaktig halv fem.
(makan pagi mulai jam 4 sampai jam 8 di lantai 3 dan kita berjalan kaki ke lokasi kompetisi, kompetisi di mulai tepat pukul 8.... kita berkumpul di lobi tepat pukul 5 lebih 30) “ ucap Barra menjelaskan jadwal mereka besok pagi.
“ frokost tidlig (pagi sekali makan paginya) “ gerutu pelan Nara tapi Barra dapat mendengarnya dengan jelas.
“ fordi klokken er førtifem minutter over fire Solen har stått opp og solen går ned er tjuesju minutter over...... har du flere spørsmål (karena pukul 4 lebih 45 menit Matahari sudah terbit dan Matahari terbebani pukul 20 lebih 7 menit...... apa ada pertanyaan yang lain) “ ucap Barra sambil melihat Nara yang sudah menggeser posisi berdirinya sedikit tersembunyi di balik lengan kiri Afkar.
__ADS_1
Nara merasa malu karena ini pertama kali dirinya menginjakkan kaki di Moscow sehingga Nara tidak paham pukul berapa Matahari terbit mau pun terbenam.
Satu persatu dari mereka melangkah menuju lift untuk menuju lantai di mana kamar mereka berada. Kamar mereka kali ini saling bersebelahan satu sama lain, karena hanya di lantai ini Barra mendapatkan kamar.
Nara dengan perlahan melepas kain hitam yang menutupi tubuhnya, Afkar membuka kedua koper mereka.
“ mas..... disini sama dinginnya seperti di Oslo ya...... “ ucap Nara sambil melepas abaya.
Afkar tersenyum tipis dan melangkah mendekati Nara.
“ besok pakai jaket panjang.... jangan sampai sayang kedinginan di tengah kompetisi..... “ ucap Afkar sambil menggosok kedua lengan Nara dengan kedua telapak tangannya.
Nara tersenyum dan memeluk Afkar dari samping.
“ ok..... “ jawab Nara singkat.
Selesai membersihkan diri, Nara duduk di sofa sambil meluruskan kedua kakinya yang mulai terasa berat. Di saat Afkar masih di dalam kamar mandi tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar mereka, membuat Nara berusaha bangkit dari sofa dan menerobos masuk ke kamar mandi.
“ mas.... ada yang menekan bel pintu kamar “ ucap Nara dengan sedikit gagap karena nafasnya yang memburu.
Afkar tersenyum melihat sorot mata ketakutan Nara, baru kali ini Afkar melihat sorot mata Nara seperti itu. Nara baru sadar bahwa Afkar baru saja selesai mandi dan belum mengeringkan badannya, membuat kedua pipi Nara bersemu merah melihat tubuh polos Afkar. Afkar tersenyum gemas melihat kedua pipi Nara yang memerah.
“ sayang mau terus berdiri di situ atau..... “ belum selesai Afkar berbicara, Nara dengan sedikit gugup melangkah keluar dari kamar mandi.
Afkar tersenyum gemas melihat sikap Nara yang terkadang masih terlihat malu malu kucing saat melihat dirinya polos.
__ADS_1