NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 215 DINDING TEBAL


__ADS_3

Satu minggu penuh sudah D4rkC0d3 berlatih dengan Neptunia berada di posisi defender, sedangkan Marius dan Morten berlatih sebagai attacker begitu juga dengan dbuq dan javex yang banyak mendapatkan ilmu baru dari posisi Nara saat ini.


“ I denne konkurransen vil du faktisk bruke det utstyret…… (kompetisi kali ini kalian akan benar benar menggunakan peralatan itu..... ) “ ucap Barra mengingat D4rkC0d3 agar memeriksa sekali lagi peralatan yang sudah mereka masukkan ke dalam tas jinjing mau pun tas punggung.


Kompetisi kali ini membuat Barra harus meminjam beberapa perlengkapan juga peralatan milik RedShield, peralatan yang tidak pernah di miliki oleh Shield Norwey. Barra yang baru tiga hari lalu mendapatkan informasi detail peralatan yang wajib di bawa oleh peserta kompetisi, cukup membuatnya kerepotan untuk mempersiapkan peralatan tersebut. Diantaranya Software Defined Radio, Bus Pirate atau Bus Blaster versi 3.6a, Solder, router Adsl, dongles RTLSDR radio, dan 3.3V USB-UART adapter. D4rkC0d3 hanya memiliki waktu dua hari untuk mengenal fungsi peralatan tersebut.


Nara memilih duduk diam di sofa selagi menunggu jadwal penerbangan Sundth air, otaknya mencoba mengingat-ingat kembali peralatan yang dia bawa.


“ apa kali ini kami harus benar-benar meretas perangkat secara langsung..... sampai harus membawa dongles segala... “ gumam Nara dalam hati.


Setelah menunggu kurang lebih selama empat puluh lima menit, akhirnya seorang kru Sundth air menghampiri Barra dan meminta semua orang segera masuk ke dalam pesawat. Kali ini Nara sengaja memilih tempat duduk yang terpisah dengan yang lainnya. Afkar menarik nafas panjang melihat tempat duduk pilihan Nara.


“ kenapa duduk disini? “ tanya Afkar sambil meraih tangan kanan Nara.


“ lagi ingin sendiri “ jawaban singkat Nara membuat dada Afkar terasa seperti di tusuk oleh sebuah pedang.


Karena private jet akan segera bergerak menuju landasan pacu, Afkar memilih duduk di kursi yang paling dekat dengan Nara.


Penerbangan Jakarta ke Sydney membutuhkan waktu enam jam lima puluh menit, Nara benar-benar terlihat jelas tidak mau di ganggu. Sepanjang penerbangan Nara lebih memilih memejamkan kedua matanya, hanya tiga kali Nara membuka kedua matanya yaitu saat dirinya merasa ingin buang air kecil. Tapi setelah selesai buang air kecil, Nara kembali duduk dan kembali memejamkan kedua matanya.


Barra merasa bahwa Nara seperti membangun dinding tebal tembus pandang di sekitarnya, tidak hanya Barra saja yang merasakan hal itu tapi Afkar juga Lief dan Zarya merasakan hal yang sama. Nara merasa perjalanan kompetisi kali ini akan terasa berat baginya mengingat usia kehamilan yang semakin bertambah dan berat kedua janin yang semakin bertambah.


Tepat pukul tiga waktu Sydney, private jet Sundth air mendarat sempurna di bandar udara international Sydney. Nara dan yang lainnya satu persatu keluar dari private jet dan berjalan menuju sebuah mobil Toyota Granace berwarna hitam, kali ini Nara memilih satu mobil dengan D4rkC0d3. Afkar hanya bisa membuka kedua tangannya dengan kecewa melihat bahwa Nara mengabaikannya, terasa sakit dada Afkar melihat apa yang Nara lakukan. Dengan yakin Nara masuk ke dalam mobil dan meletakkan tas punggungnya tepat di depan kedua kakinya.

__ADS_1


“ vær tålmodig... kanskje han har mange ting på hjertet..... gi ham litt tid for seg selv (sabar.... mungkin banyak hal yang sedang dia pikirkan..... berikan dia waktu untuk sendiri) “ ucap Mari sambil menepuk bahu Afkar.


Sepanjang perjalanan menuju hotel tempat mereka bermalam, membuat hati Afkar terasa tidak tenang. Afkar memikirkan apa kesalahan yang sudah dia buat hingga Nara mengabaikannya.


Sampai di lobi hotel, dengan meletakkan tas punggungnya di bahu sebelah kanan, Nara dan yang lainnya menunggu pembagian kunci kamar.


“ ini.... kamarmu dan Afkar “ ucapan singkat Barra membuat Nara sadar dan mencari keberadaan Afkar yang ternyata belum sampai di hotel.


Setelah menunggu kurang lebih lima menit, mobil yang membawa Afkar dan yang lainnya datang. Nara berjalan pelan mendekati Afkar.


“ maaf.... Nara lupa kalau ada mas “ suara pelan Nara sudah cukup membuat hati Afkar terasa segar dan hangat.


Afkar meraih tas punggung Nara hendak membawanya tapi Nara menolaknya dan Nara memeluk lengan Afkar.


“ sayang..... apa yang sayang pikirkan.... sayang harus lupakan kekalahan kemarin....... dan bersenang-senanglah untuk besok..... kalau sayang seperti ini.... bagaimana sayang akan menghadapi kompetisi besok? “ ucapan Afkar membuat Nara terduduk di sofa.


“ Nara sudah melupakan kompetisi kemarin..... tapi Nara tidak bisa melupakan apa yang sudah Morten katakan. “ suara Nara yang pelan membuat Afkar menarik nafas panjang.


Afkar berlutut di depan Nara dan menggenggam kedua tangan Nara.


“ mas tidak tahu dan tidak paham apa yang sudah Starsiv katakan tentang sayang..... kalau pun ada ucapan starsiv yang membuat sayang sakit hati..... sebaiknya saat ini sayang lupakan.... jangan sampai ucapan starsiv membuat fokus sayang terganggu “ kali ini Afkar sedikit berusaha menasehati Nara.


“ besok akan Nara buktikan pada yang lain bahwa pemain wanita bukan beban...... “ ucapan Nara yang pelan terdengar sedikit menakutkan di telinga Afkar.

__ADS_1


“ tidak ada yang perlu sayang buktikan...... sayang bukan beban.... “ ucap Afkar mencoba menenangkan hati Nara yang mulai terlihat bergejolak seperti hendak mengeluarkan suatu rasa kecewa juga amarah.


Nara menatap dalam dalam kedua mata Afkar, mata yang selalu menatapnya dengan penuh kehangatan.


“ mas tidak tahu bagaimana rasanya tidak di percaya orang..... apa lagi kalau orang itu sampai merusak apa yang sudah terencana.... “ suara Nara sedikit lebih tinggi dari sebelumnya dan kedua matanya mulai memerah berusaha keras menahan amarah.


Nara tidak ingin sampai mengeluarkan kata-kata bernada tinggi di depan Afkar, Nara tidak ingin rasa kecewa juga amarahnya pada Morten berimbas pada Afkar.


“ jangan ambil hati apa yang sudah Morten katakan..... abaikan saja..... jangan di simpan..... buang jauh jauh rasa kecewa juga amarah sayang “ ucap Afkar sambil berpindah duduk di sebelah Nara.


Afkar meraih bahu Nara dan mencoba merebahkan di dadanya, tapi Nara menolaknya membuat Afkar memejamkan kedua matanya sesaat menahan rasa sakit penolakan Nara. Nara berdiri dari sofa dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi, Nara sadar sudah tidak bisa membersihkan diri secara menyeluruh dan kembali keluar menarik tangan Afkar.


“ Nara ingin mandi..... gerah “ ucapan singkat Nara sambil menarik Afkar masuk ke dalam kamar mandi.


Afkar tersenyum tipis melihat perubahan drastis suasana hati Nara. Afkar tidak melewatkan kesempatan ini meski pun pada awalnya hanya membantu Nara membersihkan diri tapi dengan perlahan namun pasti Afkar mencoba menggoda Nara dengan sentuhan lembut di beberapa area sensitif, yang pada akhirnya membuat Nara menginginkan lebih dan lebih.


Satu jam kemudian Nara juga Afkar keluar dan mulai membuka koper pakaiannya, terlihat jelas Nara hanya mengeluarkan pakaian santai.


“ sayang tidak makan malam? Atau makan malamnya mau di antar ke kamar? “ tanya Afkar sambil mengenakan tshirt berwarna gelap.


“ makan malam di kamar saja...... Nara lagi tidak ingin melihat Morten “ ucap Nara yang sudah melangkah menuju sofa.


Mendengar jawaban jujur dan apa adanya dari Nara membuat Afkar mengusap kasar wajahnya. Akhirnya Afkar menuruti permintaan Nara dengan makan malam di kamar, Afkar memesan beberapa menu sesuai arahan Mari.

__ADS_1


__ADS_2