
“ GUN, hvorfor er det så lett for Nara å sovne i det siste? Jeg har til og med sett ham sovne da du forklarte noe .... betalte du av nattens sport raskt i går kveld? (GUN, kenapa Nara akhir-akhir ini mudah sekali tertidur? Bahkan aku pernah melihat dia tertidur waktu kamu menjelaskan sesuatu.... apa malamnya kamu habis membayar hutang puasa olah raga malam?) “ pertanyaan Barra yang tanpa filter membuat Afkar tersenyum tipis.
Tanpa Afkar menjawab pun Barra sudah bisa menebak jawaban Afkar, dengan sedikit memaksa akhirnya Nara bangun dan sholat. Afkar mengajaknya pulang ke apartemen. Mereka pulang ke apartemen dengan berjalan kaki dan tentunya Ines juga 4 orang pengawal mengikutinya.
“ mas.... gendong “ ucap Nara manja saat mereka sudah sampai di lobi apartemen.
Afkar menatap Nara heran, karena baru kali ini Nara minta gendong saat mereka baru sampai di lobi. Biasanya Nara baru minta gendong bila sudah berada di lantai 4.
“ serius? “ tanya Afkar meyakinkan Nara dan Nara menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Afkar.
Dengan tersenyum Afkar segera mengangkat Nara seperti menggendong seekor panda dan kedua tangan Nara melingkar di leher Afkar. Nara merasa nyaman dan menempelkan kepalanya di bahu kiri serta menyembunyikan wajahnya yang tertutup kain niqab di ceruk leher Afkar.
“ sayang berhenti.... geli.... “ protes Afkar yang merasakan hembusan halus udara hangat dari lubang hidung Nara.
“ tapi Nara suka begini “ ucap Nara yang mulai cemberut mendengar penolakan Afkar.
Ines yang berada satu lift dengan meraka hanya bisa menunduk diam tak bersuara, sampai di lantai 4 dengan sigap Ines menahan pintu lift agar tidak menutup sebelum Afkar keluar dari lift
“ takk .... bare bli her i dag .... dere vil bare hvile, men prøv å ikke la vaktene gå ned ..... Jeg så at han fulgte etter oss og prøvde nesten å komme inn i lobbyen .... heldigvis sikkerheten til leiligheten holdt ham tilbake fordi de ikke kjenner personen som bosatt i denne leiligheten (terima kasih.... hari ini di sini saja.... kalian istirahat saja tapi usahakan jangan lengah penjagaan kalian..... aku lihat tadi dia mengikuti kita dan hampir berusaha masuk ke lobi.... untung keamanan apartemen menahannya karena mereka tidak mengenal orang itu sebagai penghuni apartemen ini) “ ucap Afkar pelan.
“ ok sir .... takk .... vi vil alltid være på utkikk nedenfor (baik tuan.... terima kasih.... kami akan selalu waspada di bawah) “ ucap Ines dengan tegas.
Afkar membawa masuk Nara dan mendudukkan Nara di meja dapur sehingga tinggi mereka sama, Afkar melepas simpul ikatan niqab juga hijab Nara.
“ sayang mau makan malam apa? “ tanya Afkar sambil melepas sarung tangan Nara bergantian.
“ hmmm..... Nara ingin makan..... “ suara Nara terhenti dan mendekatkan bibirnya di telinga kiri Afkar untuk membisikkan sesuatu.
__ADS_1
Seketika kedua mata Afkar menatapnya dengan heran.
“ jangan menggoda mas.... apa sayang sudah lupa bagaimana sayang minta mas berhenti? “ ucap Afkar sambil mengangkat tubuh Nara berpindah ke sofa.
Nara meringis mendengar ucapan Afkar, bagaimana Nara bisa lupa.
“ mas tanya sekali lagi..... kalau jawaban sayang masih sama... jangan salahkan mas kalau besok pagi sayang tidak bisa berjalan.... sayang mau makan apa malam ini? “ ucap Afkar sambil membuka kancing paling atas kemeja yang dia kenakan dan mengeluarkan bagian bawah kemeja yang terselip di dalam celana.
“ hehehe.... mas mau makan apa? Nara makan apa yang mas makan saja... “ ucap Nara sambil berdiri dan meletakkan dua kaos kaki di tempat pakaian kotor.
Akhirnya Afkar memutuskan membuat Kjøttkaker, makanan khas Norwegia Hidangan sederhana berbahan dasar daging sapi cincang dibumbui dengan garam, merica, dan bawang. Dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil dan di rebus dengan sayuran kacang polong, kubis, brokoli serta wortel. Nara yang sudah selesai membersihkan diri berpakaian santai berupa celana pendek setinggi paha dan kemeja yang menyerupai daster, duduk di kursi dapur melihat Afkar memasak makan malam mereka.
“ buat bakso ya.... “ ucap Nara polos sambil mengaduk-aduk panci yang berisi makan malam mereka.
Afkar gemas mendengar pertanyaan Nara dan mencubit pipi kiri Nara.
“ ini namanya kjøttkaker.... makanan khas sini.... memang secara bentuk menyerupai bakso... hanya bedanya kalau bakso dagingnya benar-benar halus juga di campur tepung... kalau ini hanya daging cincang.... sayang “ jelas Afkar sambil mencubit pipi kiri Nara sekali lagi.
“ oooo..... bakso urat “ ucap Nara asal membuat Afkar gemas melihatnya.
Setelah kurang lebih 30 menit menunggu makan malam matang, Nara dapat mencium wangi bau bawang juga sayuran. Nara sudah siap di kursi meja makan menunggu Afkar menyajikan dua mangkuk Kjøttkaker bersama roti lefse serta jus kiwi.
“ mas.... suapin “ ucap Nara dengan manja.
Afkar semakin heran dengan perubahan sikap Nara, biasanya Nara akan langsung memakan makanan yang Afkar sajikan tanpa menunggu dirinya. Tapi kali ini Nara minta Afkar menyuapinya, dengan tatapan heran dan penuh tanya Afkar menyuapin Nara sendok demi sendok kjøttkaker.
“ enak? “ tanya Afkar sambil menyuapi Nara.
__ADS_1
Nara hanya menganggukan kepala menjawab pertanyaan Afkar, Afkar tersenyum melihat Nara yang lahap sekali makannya.
Selesai makan malam menghabiskan satu setengah mangkok kjøttkaker dan segelas jus kiwi, Nara masih mencari sesuatu di dalam lemari es.
“ cari apa sayang? “ tanya Afkar sambil mencuci mangkok dan gelas bekas mereka makan malam.
“ mas.... ini boleh Nara makan tidak? “ tanya Nara sambil menunjukkan semangkuk Risalamande pada Afkar.
Afkar menghentikan aktifitasnya dan menatap Nara heran.
“ masih belum kenyang? Itu puding kentang susu.... sayang mau? “ Nara menganggukan kepala menjawab pertanyaan Afkar.
Nara dengan tidak sabar menunggu Afkar memotong Risalamande dan memberi topping berupa saus cherry dan almond tumbuk, mengikuti kemana pun Afkar bergerak sampai Afkar sengaja menggodanya dengan sengaja bergerak kesana kemari.
“ mas Afkar.... kenapa lama sekali “ suara manja Nara membuat Afkar semakin gemas dan menghentikan tangannya yang sudah memegang sesendok almond tumbuk.
“ jadi manja sekali.... “ ucap Afkar yang sudah memalingkan tubuhnya menghadap Nara dan mencoba menghalang-halangi Nara yang ingin melihat Risalamande untuknya.
“ tidak boleh kalau Nara manja sama mas..... ya sudah Nara turun ke bawah saja.... Nara mau manja-manja sama kak Barra saja.... “ suara manja dan cemberut Nara menjadi satu semakin membuat Afkar gemas dan dengan lengan kirinya menarik pinggang Nara agar menempel di pelukkan Afkar.
“ makin hari makin manja.... sudah manja sekarang lebih manja lagi.... kenapa? Hmmm.... “ pertanyaan Afkar membuat Nara mengerucutkan kedua bibirnya cemberut.
“ ayo..... itu puddingnya.... “ ucap Nara sambil berjinjit hendak mencium bibir Afkar tapi hanya mencapai setinggi dagu saja.
“ hahahahaha..... “ tawa Afkar yang gemas melihat aksi Nara.
“ iya... ini mas siapkan buat sayang. “ ucap Afkar dan mencium kecil bibir Nara.
__ADS_1