
Afkar mengamati isi dari setiap folder dengan serius terkadang melihat kain pembatas dimana Nara yang saat sedang melakukan pengambil sampel darah untuk mengetahui kadar hemoglobin.
“ sudah ada tiga transaksi di atas 1 juta euro dan semua data aliran dana ini sudah terpublikasi dan IFA juga sudah mendapatkan data ini, dia melakukan hanya dalam ratusan baris script sedangkan aku mencari data ini butuh dua minggu lebih. Itu pun tidak sedetail ini “ gumam Afkar sambil tersenyum menatap kain pembatas ranjang pasien.
Saat Afkar memperhatikan kain tersebut, tiba-tiba laptop Nara menerima sebuah notifikasi. Afkar segera menekan notifikasi tersebut dan kali ini membuatnya tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“ sayang.... apa kamu meretas CCTV di seluruh benua ini? “ suara keras Afkar membuat Barra yang baru masuk kamar rawat inap dengan Zarya terkejut dan hampir saja menjatuhkan sekantung buah anggur.
Nara tersenyum mendengar pertanyaan Afkar tapi tidak dengan Fajrin yang melihatnya dengan tatapan seperti elang.
“ maaf..... tidak sengaja.... “ ucap Nara tertunduk.
“ tidak sengaja bagaimana? Tidak mungkin kamu tidak sengaja membuat script itu.... “ tatapan mata Fajrin semakin membuat Nara menenggelamkan wajahnya di balik kedua tangannya.
Afkar yang masih mengamati aliran dana Rosenkrantz dari laptop Nara, semakin terduduk lemas karena di dalam sebuah file terdapat foto seseorang yang sangat dia kenal. Afkar segera menghubungi pengacara di Inggris saudara dari MathiasHammel, Afkar terlihat serius membuat Barra mengabaikannya dan mengajak Zarya berkenalan dengan Nara.
“ Ra.... introduce.... this is your future sister-in-law (Ra.... kenalkan.... ini calon kakak ipar kamu)? “ ucap Barra yang sudah merangkul bahu Zarya dengan posesif.
Nara mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Zarya, mereka saling melempar senyum.
“ when is it legal? why are you holding it like this? (kapan halalnya? Sampai bisa pegang-pegang begini?) “ goda Nara membuat Zarya menepis tangan kiri Barra yang merangkulnya dengan posesif.
“ hear what Nara said.... it's halal first, then hugs and kisses.... while I'm here as soon as you can preach her (dengar apa kata Nara.... halal dulu baru peluk-peluk cium-cium.... selagi aku disini secepatnya kamu khitbah) “ ucap Afkar sambil memasukkan sebuah anggur pemberian Barra.
Afkar mendekati Nara dengan membawa laptop.
__ADS_1
“ sayang...... meretas jaringan CCTV ini termasuk illegal dan perbuatan kriminal.... “ ucap Afkar gemas melihat reaksi Nara yang merasa tidak bersalah.
“ mas.... Nara tidak sengaja meretas jaringan CCTV.... script Nara hanya mengikuti pergerakan dana sejak keluar dari rekening Rosenkrantz group sampai pengguna akhir dalam bentuk apa pun...... hanya itu script yang Nara buat “ ucap Nara cemberut karena suaminya sudah menuduhnya meretas jaringan CCTV di luar Oslo bahkan di luar Norwey.
Afkar menatap Nara tidak percaya begitu saja, Nara cemberut karena Afkar tidak mempercayai ucapannya.
“ kak Fajrin kapan pulang? Nara ikut kakak pulang “ ucapan Nara membuat Afkar memberi isyarat tangan pada Barra juga Fajrin untk memberi mereka sedikit ruang.
Afkar menarik nafas panjang mencoba untuk tidak membuat Nara mengeluarkan kata-kata itu lagi.
“ sayang..... bukan mas tidak percaya, tapi data ini sudah termasuk illegal dan tidak bisa mas gunakan sebagai bukti kejahatan pencucian mau pun penggelapan uang “ ucap Afkar gemas melihat raut wajah Nara yang merajuk.
Nara menyodorkan tangan kanannya seperti meminta sesuatu pada Afkar, Afkar melihatnya dengan bingung karena tidak mengerti maksud Nara.
“ sayang mau pakai laptop ini?.... sayang bilang saja mau mengetik apa.... mas yang akan mengetik “ ucap Afkar dan sudah bersiap mengetik sesuatu sesuai ucapan Nara.
“ beri Nara dua puluh euro “ ucapan Nara semakin membuat Afkar bingung.
“ sayang mau uang mas..... ini buat sayang semua “ ucap Afkar sambil meletakkan laptop di pinggir ranjang dan mengeluarkan beberapa kartu bank dari beberapa bank yang ada di dalam dompetnya.
Nara semakin cemberut menatap Afkar yang memberinya semua kartu bank padanya.
“ Nara hanya minta dua puluh euro..... bukan kartu bank..... tidak ada gunanya buat Nara. ” Ucap Nara yang sudah merebut dompet Afkar.
Afkar semakin bingung dengan tindakan Nara, tapi Nara mengacuhkannya. Nara merebut paksa dompet Afkar dan melihat ada beberapa lembar uang pecahan lima puluh euro dan dua puluh euro. Nara mengeluarkan dua pecahan tersebut dan menyerahkan kembali dompet ke tangan Afkar.
__ADS_1
“ mas coba lihat bagian-bagian yang Nara tunjuk “ ucap Nara sambil menujukkan beberapa bagian fitur keamanan uang kertas euro.
Afkar mengamati setiap bagian yang Nara tunjuk tapi belum juga mengerti maksud Nara. Nara menarik nafas panjang menahan kegemasannya pada wajah Afkar yang bingung dengan apa yang dia tunjuk.
“ mas.... bantu Nara berdiri dulu “ ucap Nara tiba-tiba dan membuat Afkar menatapnya heran.
“ sayang mau kemana? “ tanya Afkar heran.
“ mas masih mau Nara menjelaskan bagaimana script Nara bekerja? “ Afkar semakin heran dengan pertanyaan istrinya.
“ kalau masih mau tahu.... mas bantu Nara duduk di sofa “ ucap Nara yang sudah memegang kuat lengan Afkar untuk turun dari ranjang.
“ tunggu sebentar “ ucap Afkar yang sudah berjalan cepat mengambil abaya juga hijab Nara.
Afkar membantu Nara berdiri dan memakai abaya juga hijabnya, dengan isyarat tangan Afkar meminta Barra untuk mengunci pintu kamar rawat inap.
Nara sudah duduk di sofa dengan Afkar duduk di sebelah kirinya dan Fajrin di sebelah kanannya, sedangkan Barra dan Zarya duduk tepat di depan mereka bertiga. Nara kembali membuka tangan kanannya dan mendekatkan pada Afkar.
“ mas..... beri Nara beberapa lembar uang Euro lagi “ kali ini Afkar menuruti permintaan Nara tanpa banyak tanya.
Afkar mengeluarkan enam lembar pecahan dua puluh Euro dan tujuh lembar pecahan lima puluh Euro pada Nara, Fajrin dan Barra melihatnya dengan heran. Mereka ingin bertanya tapi karena melihat sorot mata Nara yang serius, maka mereka mengurungkan niatnya.
“ big brother holds this, big brother as a bank that has a Rosenkrantz group account.... Mas Afkar as a money launderer inside of the Rosenkrantz group..... brother Barra as an intermediary and Doctor Zarya as the final recipient (kak Fajrin pegang ini, kakak sebagai bank yang memiliki rekening Rosenkrantz group.... mas Afkar sebagai pelaku pencucian uang di dalam Rosenkrantz group..... kak Barra sebagai perantara dan dokter Zarya sebagai pemerima akhir) “ penjelasan Nara masih belum bisa Afkar pahami.
Tapi mereka masih menunggu penjelasan Nara.
__ADS_1
“ here Nara's advantage is the number of CCTV cameras installed in every corner of the city even in urban areas there is CCTV. Not only that, in every border between countries has CCTV cameras (disini keuntungan Nara adalah banyaknya kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut kota bahkan sampai di area pedesaan pun ada CCTV. Tidak hanya itu saja di setiap perbatasan antar Negara pun ada kamera CCTV) “ jelas Nara membuat Afkar mulai berpikir begitu juga dengan Fajrin dan Barra yang masih menggengam tangan Zarya dengan posesif.