
Afkar memikirkan baik buruknya menerima posisi CEO di Rosenkrantz, karena secara silsilah dalam garis keturunan Rosenkrantz Afkar hanya keturunan luar tidak seperti Fredrik, Holger dan Kalle yang memiliki nama belakang Rosenkrantz. Afkar masih mengingat jelas perbincangannya dengan Erhan.
“Fredrik har vært i stillingen som Chief Operating Officer fra for tre år siden, Holger som Chief Financial Officer siden for **** år siden, og Kalla har også hatt stillingen som Chief Marketing Officer fra fem år siden. De erstattet alle sine fedre ... Hvis det var Abbaen din som overtok stillingen som administrerende direktør, hva med Surendra-gruppen? Broren din har allerede stillingen som administrerende direktør i Surendra corp. Du er den eneste Rosenkrantz blodlinjen som ikke har besatt en stilling i Rosenkrantz (fredrik sudah menduduki posisi Chief Operating Officer dari tiga tahun yang lalu, holger sebagai Chief Financial Officer sudah dari enam tahun yang lalu dan Kalla juga sudah memegang posisi Chief Marketing Officer dari lima tahun yang lalu. Mereka semua menggantikan ayah mereka..... kalau Abba kamu yang mengambil alih posisi Chief Exceutive Officer lantas bagaimana dengan Surendra group? Abang kamu sudah memegang posisi CEO Surendra corp. Hanya kamu satu-satunya garis keturunan Rosenkrantz yang belum menduduki posisi di Rosenkrantz)” ucapan Erhan yang terdengar sedikit sedih masih terngiang di telinga Afkar.
“Hvis du fremdeles er tung med Shield og Surendra cyber, overlater du Shield-saken til Nanwei og Surendra cyber til Dean. Du overvåker bare ytelsen deres hvis noe ikke samsvarer med visjonen og oppdraget ditt, fullfør det raskt (kalau kamu masih berat dengan Shield dan Surendra cyber, serahkan urusan Shield pada Nanwei dan Surendra cyber pada Dean. kamu awasi saja kinerja mereka bila ada yang tidak sesuai visi misi mereka, kamu segera selesaikan dengan cepat).” Ucapan Erhan terdengar sedikit putus asa bila Afkar tidak bersedia menduduki pucuk pimpinan group Rosenkrantz, terlintas jelas di pikiran Afkar.
Meskipun saat ini mata dan tangan Afkar tertuju pada sebuah laptop yang menampilkan semua jadwal kompetisi musim depan, tapi pikirannya masih fokus pada ucapan Erhan.
“mas..... mas Afkar.....” panggil Nara yang sudah berdiri di belakang Afkar sambil melihat layar laptop yang berada di depan Afkar.
“ya sudah.... kalau tidak mau di ganggu..... Nara cari harta karun lagi saja....” ucap Nara pura-pura merajuk sambil memainkan rambut Afkar.
Seketika Afkar tersadar dari lamunannya, dan segera menarik tangan kanan Nara untuk duduk di pangkuannya.
“ada apa sayang..... ini kenapa cemberut? Tahu tidak.... kalau sayang cemberut begini...... mas jadi ingin mempercepat malam.” Ucapan Afkar membuat kedua pipi Nara bersemu merah seperti tomat.
“mana bisa..... manusia mempercepat malam” ucap Nara sambil memainkan jari jemari tangan kanannya yang sudah berada di tengkuk Afkar.
“ada apa sayang mencari mas? Ada sesuatukah yang ingin sayang lakukan?” tanya Afkar sambil memainkan ujung rambut hitam Nara yang sudah mencapai pinggang.
“mas..... boleh tidak kotak yang berisi rangkaian chipset buat Nara.” Tanya dengan mengedipkan kedua kelopak matanya mencoba merayu Afkar.
“maksud sayang......kotak yang di ruang basement tepat di samping ruang penyimpanan wine milik kakek buyut mas?” tanya Afkar memperjelas maksud Nara.
__ADS_1
Nara menganggukan kepalanya dengan mata berbinar-binar membenarkan pernyataan afkar.
“mau sayang pakai buat apa? Itu hanya berisi barang-barang mas sewaktu di ungdomsskole” ucap Afkar yang semakin gemas melihat Nara memgerucutkan kedua bibirnya.
“tidak boleh ya.....” ucal Nara pura-pura cemberut.
“boleh..... apa sih yang tidak buat sayang.....hmmmm" ucap Afkar sambil mencubit gemas dagu Nara.
“terima kasih" ucap Nara gembira sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher dan mencium pipi kiri Afkar.
Afkar senang melihat Nara gembira.
“kalau boleh tahu...... mau sayang apakan barang-barang mas?” seketika Nara memandangi kedua mata afkar.
Afkar melihat raut wajah Nara penuh dengan pertanyaan, mereka saling memandang satu sama lain seperti sedang berbicara dengan bahasa hati.
“boleh mas tahu rencana sayang?” tanya Afkar yang semakin gemas melihat ekspresi wajah Nara yang terlihat bahagia.
Nara mengambil alih laptop Afkar dan menunjukkan sebuah website yang menampilkan pertarungan antara dua robot, Afkar mengamati pertarungan dua robot itu dan melihat Nara bergantian dengan tatapan penuh tanya.
“sayang mau ikut kompetisi ini?” tanya Afkar heran.
Nara menggelangkan kepala menjawab pertanyaan Afkar, Nara mempercepat rekaman pertarungan dua robot hingga memperlihatkan sosok yang mengendalikan salah satu robot tersebut dan menekan tombol pause sehingga terlihat jelas sosok itu.
__ADS_1
“mas lihat ini..... mas ingat tidak dengan sosok ini?” tanya Nara membuat Afkar semakin heran dan bingung.
“apa mas sudah lupa dengan orang ini?” sekali lagi Nara bertanya membuat Afkar mencoba mengingat-ingat sosok itu.
“mas...... ini siska.... dia ikut kompetisi ini dengan nama Ai Xing.” Ucap nara menyakinkan Afkar.
“Ai Xing....? sayang yakin ini siska?”tanya Afkar heran.
Akhirnya Nara menceritakan semua pembicaraannya dengan siska melalui skype hingga Nara yakin bahwa Ai Xing adalah siska meskipun Siska tidak mengakui secara langsung tapi cukup membuat Nara yakin.
“mas tidak percaya? Sama awalnya Nara juga tidak percaya kalau siska membuat robot untuk kompetisi ini..... “ ucap Nara yang masih melihat sosok seperti siska di layar laptop Afkar.
Nara mulai menceritakan kembali kecurigaannya bahwa Ai Xing adalah Siska karena selama pertarungan robot itu siska mengenakan topeng yang menutupi wajah dari dahi pipi hingga di bawah hidung dan hanya memperlihatkan bibirnya.
“sebentar mas akan cari tahu tentang Ai Xing.... kalau benar Ai Xing adalah siska.... mungkin mas bisa membantu mengarahkan hingga masuk kualifikasi robot battle di Boston.” Ucap Afkar yang sudah meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
Nara masih memperhatikan rekaman pertarungan robot di layar laptop Afkar dan sesekali memperhatikan raut wajah suaminya yang terlihat serius.
“tadi mas menghubungi siapa?” tanya Nara heran.
“MathiasHammel..... dia ada divisi robot, mas minta tolong ke dia untuk mencari tahu tentang Ai Xing" jawab Afkar sambil mencubit pelan dagu Nara.
“ooooo..... kalau begitu sekarang Nara boleh bongkar kotak milik mas?” tanya Nara yang sudah berdiri dari pangkuan Afkar.
__ADS_1
“ayo..... kita bongkar kotak itu sama-sama" ucap Afkar yang sudah menggenggam tangan Nara.
Mereka berdua melangkah ke ruang tengah dan melihat beberapa kotak yang lumayan besar terletak tidak jauh dari sofa, mereka mulai membongkar kotak itu dan mengeluarkan satu per satu isi dari kotak itu. Terlihat jelas Nara sangat antusias sesekali memperlihatkan pada Afkar apa yang dia temukan dengan wajah gembira membuat Afkar tersenyum bahagia.