NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 86 22 KARAT


__ADS_3

Akhirnya Afkar mengenakan T-shirt juga meskipun ada beberapa jejak merah di leher yang tidak bisa di sembunyikan. Fajrin melangkah ke dapur dan memanggil Ines untuk membantunya menyajikan makan pagi. Ines meletakkan semangkuk stamppot untuk Afkar dan Nara serta jus apel hangat untuk mereka berdua.


“ bagaimana kakak membuat stamppot? Kapan beli berasnya? “ tanya Nara heran.


“ nasinya kakak ganti dengan kentang tumbuk “ jawab Fajrin yang sudah duduk di sebelah Nara.


Sementara Afkar menikmati makan pagi buatan Fajrin, terbersit di kepala Fajrin untuk menggoda Nara sekali lagi juga Afkar. Fajrin merubah posisi duduknya menghadap Nara dan memiringkan kepalanya ke kiri juga ke kanan untuk melihat jejak merah kecil di kulit leher Nara.


“ sa..tu, du...a, ti....ga..... “ suara pelan Fajrin membuat Nara menutupi jejak merah di lehernya dnegan tangan kiri.


Fajrin terdiam seperti mencoba mengingat sesuatu, beberapa detik kemudian.


“ wa...... ternyata di kulit Afkar lebih banyak dari pada di kulit kamu dik.... “ ucapan Fajrin kembali membuat Afkar tersenyum lebar dan menggelengkan kepala heran melihat Fajrin yang suka sekali menjahili Nara.


“ kak..... berhenti menggoda Nara.... ini juga kakak yang mengajari.... “ ucap Nara cemberut dan meneguk setengah gelas jus apel hangat.


Fajrin puas sekali menjahili Nara karena apa yang sudah dia ajarkan sedikit mampu membuat Nara berimprovisasi sendiri.


“ Afkar...... kalau sudah selesai periode pertamanya.... kamu coba yang halaman 42 “ Afkar bingung dengan ucapan Fajrin tapi tidak dengan Nara yang sudah membaca semua isi buku yang Fajrin berikan.


“ kakak..... “ ucap Nara cemberut dan memasukkan sesendok terakhir stamppot ke mulutnya.


Nara berdiri dari kursi dan melangkah ke dapur untuk meletakkan mangkok dan gelas kotor bekas dia makan pagi. Nara membersihkan peralatan makannya dengan cemberut dan terkadang terdengar suara tawa Afkar membuat Nara semakin cemberut.


“ pasti kak Fajrin cerita tentang buku itu.... awas ya... nanti Nara balas kalau kakak sudah menikah. “ gumam Nara dalam hati.


Saat Nara mencuci mangkok sambil melamun tiba-tiba satu lengan besar memeluknya dari belakang dan menjadikan puncak kepalanya sebagai sandaran dagu.


“ terima kasih pelayanannya tadi pagi..... sangat memuaskan “ ucap Afkar sambil meletakkan mangkuk dan gelas kotor bekas makan paginya.

__ADS_1


Pipi Nara bersemu merah mendengar kalimat Afkar.


“ mas tidak ke kantor? “ tanya Nara untuk mengalihkan topik pembicaraan.


“ tidak..... besok saja.... apa sayang sudah membeli sesuatu untuk Fajrin bawa ke Jakarta? “ Nara menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Afkar.


“ kalau begitu siang ini kita belikan sesuatu untuk kakak kamu bawa pulang “ ucap Afkar sambil mencium puncak kepala Nara.


Afkar melangkah ke ruang tengah untuk berbincang-bincang santai dengan Fajrin yang mulai memasukkan beberapa barang yang sudah dia beli ke dalam sebuah koper yang sudah berisi pakaiannya.


“ serius kembali malam ini? “ Fajrin menjawab pertanyaan Afkar dengan menunjukkan pesan singkat dari seseorang.


“ oooo..... baiklah.... apa sudah mendapat informasi jadwal penerbangan Sundth Air? “ tanya Afkar sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Lief.


“ tadi aku menghubungi Roby untuk kontak pihak Sundth Air katanya sedang di usahakan “ ucap Fajrin sambil memasukan 2 buku yang di belikan Nara.


“ aku hubungi Lief untuk percepatan jadwal penerbangan Sundth Air “ ucap Afkar sambil menekan nomor Lief.


“ Lief sudah mendapatkan alokasi jadwal penerbangan dari pihak AirNav... jam 19.15 jadwal penerbangan Sundth Air. “ ucap Afkar dan membuat Nara kembali cemberut.


“ kak.... pulang lusa saja.... Nara masih kangen kakak. “ ucap Nara kembali cemberut.


“ kangen kakak apa kangen Afkar....? kakak harus pulang dik....... sudah 1 minggu kakak disini..... tidak enak sama yang lain “ ucap Fajrin sambil menutup koper.


“ janji..... kalau kakak nikah bilang sama Nara.... jangan nikah sendiri “ ucapan Nara membuat Fajrin menatapnya heran dan mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.


Afkar tersenyum mendengar ucapan Nara dan respons Fajrin.


“ iya..... nanti kamu harus datang.... tapi kalau kamu sudah hamil.... tidak usah datang saja.... kasihan calon keponakan kakak nanti kecapekan “ ucap Fajrin sambil mengacak-acak rambut Nara.

__ADS_1


Selesai Fajrin memasukkan barang-badannya, Afkar mengajak Nara juga Fajrin untuk membeli sedikit buah tangan yang bisa Fajrin bagikan ke rekan-rekan kerjanya nanti. Karena souvenir di Oslo adalah barang-barang branded Fajrin menolak tawaran Afkar, dengan sedikit paksaan dan rayuan Nara akhirnya Fajrin menyerah dan membiarkan Nara memilih apa yang akan di berikan pada Fajrin. Nara meminta Afkar untuk mengantar ke sebuah toko perhiasan dan tanpa menunggu lama Nara memilih sebuah Moonlight grape emas 22 karat karya seorang designer George Jensen. Sebelum menyerahkan kotak kalung tersebut Nara mengambil nota pembelian.


“ jangan mahal-mahal..... nanti uang Afkar habis “ ucap Fajrin dengan tangan masih terlipat di dada.


“ ini Nara beli pakai uang hadiah kompetisi kak “ ucap Nara menarik paksa tangan kiri Fajrin dan menyerahkan sebuah kotak kalung yang dia beli.


Fajrin tersenyum dan memeluk erat Nara.


“ terima kasih dik.... tapi buat siapa benda ini? “ pertanyaan Fajrin membuat Nara mencubit pinggangnya.


“ tidak perlu di sembunyikan.... Nara sudah tahu “ Fajrin meringis mendapatkan cubitan dari Nara.


“ doakan yang terbaik buat kakak.... kakak masih berusaha merayu yang di Atas “ ucap Fajrin sambil menarik nafas panjang.


Afkar menepuk punggung Fajrin mencoba menguatkan kakak iparnya.


“ pasti kamu bisa..... kami akan selalu mendoakan dirimu. “ ucapan Afkar membuat Nara memeluk erat Fajrin.


“ kak..... bisakah saat kakak menikah, Nara yang membelikan mahar untuk kakak? “ pertanyaan Nara membuat Fajrin melepas pelukan Nara.


Melihat dalam-dalam mata Nara mencari tahu maksud dari ucapan Nara.


“ adik sudah tahu siapa yang akan kakak nikahi? “ tanya Fajrin heran.


Nara tersenyum terlihat dari sudut matanya yang menyipit.


“ Nara tahu.... siapa wanita yang sudah menyembuhkan luka kakak, membuat kakak egois, membuat kakak serakah “ ucapan Nara membuat Fajrin tersenyum tipis mengingat semua hal yang dia lakukan selama ini.


“ hanya demi dia kakak bisa bersikap egois dan serakah “ ucap Fajrin sambil membolak balik kan kotak perhiasan yang dia pegang.

__ADS_1


Nara dan Afkar tersenyum mendengar jawaban Fajrin yang sangat jujur, Afkar mengajak Fajrin untuk duduk di sebuah cafe karena ingin mendengarkan cerita detail Fajrin bagaimana membuat calon kakak ipar Nara menurut pada Fajrin yang jelas-jelas sangat idealis. Fajrin menceritakan semuanya yang terkadang membuat Nara tersenyum bangga menatap Fajrin, Afkar sesekali mencium punggung tangan Nara yang selalu dia genggam. Afkar memperhatikan interaksi antara kakak beradik yang saya ini menjadi bagian dalam hidupnya dengan penuh kehangatan.


__ADS_2