
Setelah mengucapkan terima kasih pada petugas keamanan gedung, mereka berjalan pelan menuju Rialto tower meski pun sesekali Nara menarik tas punggungnya memberi isyarat dbuq agar berhenti sejenak.
“ Kom igjen... overleve, kan du gjøre det... Rialto-tårnet har blitt sett (ayo... bertahan kamu pasti bisa.... Rialto tower sudah terlihat) “ ucap dbuq memberi semangat Nara.
“ sett fra tidligere (dari tadi juga terlihat) “ ucap Nara pelan dengan tangan kanannya memijat pelan paha sebelah kanan.
“ hehehehe..... “ suara tawa dbuq membuat Nara sedikit bersemangat dan kembali berjalan pelan menuju Rialto tower.
Butuh beberapa menit lebih lama menuju Rialto tower tidak seperti saat menuju winston tower, dari mulai lobi Rialto tower hingga hendak masuk ruang kompetisi dbuq dan Nara mendapat tepuk tangan meriah. Saat mereka berdua masuk ruang kompetisi, dua orang kru kompetisi segera membantu Nara tapi Nara menolaknya dengan memberi isyarat tangan. Tepuk tangan meriah dari semua tim, manager juga penonton membuat dbuq terharu.
dbuq membawa Nara berdiri tepat di samping Marius, dengan sisa sisa kekuatan kaki Nara mencoba berdiri dengan berpegangan pada lengan Marius. Seorang juri menyerahkan satu buah trofi dan sebuah papan yang bertuliskan sejumlah uang yang berhak mereka dapatkan. D4rkC0d3 memenangkan kompetisi kali ini dengan selisih 20 point lebih unggul dari the duck.
“ it turns out that you are more dangerous when you outside (ternyata kamu lebih berbahaya berada di luar) “ ucap Saika yang sudah berdiri di depan Nara.
“ see you on the next competition (sampai ketemu di kompetisi berikutnya) “ ucap Marius menyadarkan saika yang menatap tajam Nara.
Kompetisi berakhir tapi kali ini Nara tidak ikut melakukan press conference yang sudah pihak penyelanggara jadwalkan, Nara duduk di ruang tunggu pemain menunggu Afkar dan yang lainnya. Mendapati Nara duduk dengan kedua kaki lurus membuat hati Afkar pedih.
“ capek.... mana yang sakit? “ ucap Afkar sambil memijat kedua kaki Nara bergantian.
Nara menunjukkan mana yang tidak nyaman dan Afkar memijatnya pelan, Mari dan Zarya datang segera memeriksa keadaan Nara. Mari meraba-raba perut Nara mencari posisi kepala kedua janin.
“ posisjonen er allerede låst (posisinya sudah mengunci di bawah) “ ucap Mari membuat Afkar juga Lief bingung.
__ADS_1
Melihat tatapan mata heran Afkar membuat Mari menarik nafas panjang.
“ fosteret ditt kan ikke spinne lenger..... morens lille holdning gjør at plassen for fosteret blir smal i tillegg til at størrelsen på fosteret ditt er stort.... det er mulig at Naras sittestilling gjorde dem ukomfortable så de beveget seg nedover alle sammen .... fra nå av gå sakte .... prøv å ikke knekke fostervannet og bli født for tidlig (janin kalian sudah tidak bisa berputar-putar lagi..... postur tubuh ibu yang kecil membuat ruang gerak janin sempit selain itu ukuran janin kalian besar.... kemungkinan posisi duduk Nara tadi membuat mereka tidak nyaman sehingga mereka bergerak ke semua ke bawah.... mulai sekarang berjalan pelan-pelan saja.... berusaha jangan sampai air ketuban pecah dan lahir prematur) “ penjelasn Mari buakn membuat Afkar tenang tapi semakin kuatir.
Press conference selesai, Barra dan D4rkC0d3 mencari keberadaan Nara. Mendapati wajah Afkar yang terlibat jelas tidak seperti biasa dan sedikit kuatir membuat Barra dan yang lain heran.
“ hvorfor Nara.....? hva er problemet med innholdet?
(kenapa Nara.....? apa kandungannya bermasalah?) “ pertanyaan Barra membuat Zarya menariknya sedikit menjauh.
Zarya menjelaskan keadaan Nara, membuat Barra melihat Nara dan mengusap kasar wajahnya.
“ Ra... kan du fortsatt gå til lobbyen? Vi reiser tilbake til Jakarta i morgen etter frokost (Ra.... masih bisa jalan ke lobi? Kita kembali ke jakarta besok setelah makan pagi) “ Nara menganggukan kepala menjawab pertanyaan Barra.
Sampai di hotel kembali Afkar berjalan pelan mengimbangi jalan Nara yang pelan, mereka langsung masuk ke dalam kamar masing-masing. Berita kemenangan D4rkC0d3 sampai ke telinga Erhan, Selo juga Freya dan tentunya Fajrin juga. Afkar tidak menceritakan keadaan Nara, Afkar tidak ingin mereka semua kuatir.
Malam ini Nara hanya ingin meluruskan punggung hingga kakinya tapi setiap kali Nara mencoba berbaring miring atau pun terlentang, setiap kali pula kedua janinnya bergerak-gerak membuat Nara serasa kesulitan menarik nafas dan merasa tidak nyaman berbaring miring mau pun terlentang. Afkar yang sedang membaca laporan dari Fredrik menjadi tidak bisa fokus karena sedikit saja Nara bergerak membuat konsentrasi Afkar terpecah.
“ sayang...... kenapa belum tidur? “ ucap Afkar sambil meletakkan tablet di meja.
“ tidak enak semua..... bingung mau tidur..... begini berasa sulit nafas..... begini perut tidak enak..... “ ucap Nara sambil memperagakan posisi tidur yang membuatnya tidak nyaman.
Afkar berjalan mendekati tepi ranjang dan mendapati uluran tangan Nara, Afkar membantu Nara duduk di tepi ranjang. Nara berjalan menuju sofa dimana Afkar tadi duduk.
__ADS_1
“ mas..... Nara ingin duduk sini “ Afkar menarik nafas panjang heran dengan keinginan Nara yang cepat sekali berubah.
Afkar membantu Nara duduk, dengan perlahan Nara mengangkat kedua kaki di meja.
“ sepertinya tidur di sini enak “ ucapan Nara membuat otak Afkar serasa berhenti bekerja sesaat.
“ Nara tidur disini saja “ ucap Nara yang sudah menyandarkan kepalanya di sandara sofa hingga menyentuh dinding.
Afkar segera paham keinginan Nara dan mengambil sebuah bantal untuk menyangga kepala Nara, Afkar mencoba melakukan apa yang membuat Nara nyaman untuk tidur. Dan benar saja setelah kepala Nara bersandar di bantal, seketika itu pula kedua mata Nara terpejam. Afkar tertegun melihat Nara yang sudah terlelap dengan posisi duduk kedua kaki lurus di meja.
“ apa nyaman tidur begini “ gumam Afkar heran sambil mengamati Nara dari ujung kaki hingga kepala.
Afkar melihat kesekeliling memikirkan sesuatu untuk menahan kaki Nara tetap lurus selain menggunakan meja, kedua matanya menatap sofa berbentuk footstool yang berada tidak jauh dari ranjang.
“ mungkin ini bisa menggantikan fungsi meja “ gumam Afkar sambil menatap meja dan footstool bergantian.
Afkar berpikir bagaimana mengganti meja dengan footstool tanpa harus membangunkan Nara, akhirnya Afkar memutuskan menghubungi Barra dan Zarya yang secara otomatis Mari juga ikut ke kamar Afkar.
“ hva er det (ada apa)? “ tanya Barra yang sudah berdiri di depan pintu.
“ Du går først (kalian masuk dulu) “ ucap Afkar sambil memberi isyarat tangan pada mereka agar segera masuk.
Barra, Zarya juga Mari terkejut saat Afkar menunjukan posisi tidur Nara.
__ADS_1
“ hvorfor ikke bare sove der (kenapa tidak tidur di sana saja)? “ tanya Barra heran.