NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 197 TERHALANG


__ADS_3

Karena tidak mendapatkan jawaban dari orang itu, Nara hendak duduk kembali. Belum sempat Nara duduk, orang tadi bersuara dan menyerahkan 4 buah kain pakaian seragam.


“ ini seragam yang harus anda pakai di pesta nanti sebagai keluarga yang mendampingi mempelai pria di pelaminan “ ucapan orang itu membuat Nara menatap pakaian yang ada di tangannya dengan heran.


Karena orang itu sudah pergi menjauh, Nara membentangkan pakaian itu dan menatapnya dengan bingung.


“ pakaian apa ini.... mana mungkin aku pakai ini" gumam Nara bingung.


Afkar yang sedari tadi sedang berbincang-bincang dengan para saudara sepupu dari pihak keluarga Selo memperhatikan Nara. Afkar tersenyum melihat Nara yang terlihat jelas bingung dengan apa yang dia pegang.


“ sebentar aku kesana dulu “ ucap Afkar pada saudara sepupunya.


Afkar berdiri di belakang Norin tersenyum gemas melihat apa yang Nara lakukan saat ini, memandangi pakaian kebaya klasik modern. Afkar meletakkan kedua tangannya dan memijat bahu Norin membuat Norin menengadahkan kepalanya.


“ Nara disuruh pakai ini..... mana muat “ ucap Nara bingung.


Afkar tersenyum melihat sorot mata Nara yang terlihat jelas bingung bagaimana memakai pakaian kebaya klasik dengan ukuran proposional. Belum juga Nara berhenti dari rasa bingungnya, Freya mendekatinya.


“ Nara..... dapat dari mana kebaya seragam ini? “ tanya Freya heran.


“ tadi ada mbak-mbak yang mencari Nara bawa ini.... katanya Nara harus pakai ini “ ucap Nara polos.


“ duh.... kenapa jadi begini sih..... padahal tadi sudah Amma bilang kalau kamu sedang hamil jadi tidak bisa mendampingi Fajrin di pelaminan...... sudah biar Amma yang pakai saja..... pakaian seragam ini untuk mendampingi Fajrin di pelaminan. “ dengan senang Nara menyerahkan kebaya yang dia pegang pada Freya.

__ADS_1


“ Afkar... kamu minta pakaian seragam kamu.... biar Abba yang memakainya..... “ mendapat perintah Freya membuat Afkar sedikit bingung.


“ sudah sana kamu cari Davis..... Amma tunggu disini “ Afkar tidak berani menolak perintah Freya dengan cepat mencium kepala Nara dan mencari Davis di ruangan sebelah.


Freya terlihat mengamati 4 kain berbeda warna yang dia pegang kebaya brukat klasik modern berwarna indigo, bawahan batik dengan warna dominan ungu, pakaian dalam kebaya berwarna abu-abu dan hijab segi empat berwarna abu-abu


“ ini bawahan..... ini pasti kebaya.... ini dalamnya kebaya..... ini untuk apa? “ ucap Freya heran.


Nara ikut mengamati pakaian yang Freya pegang.


“ Amma.... ini hijab segi empat “ bisik Nara membuat Freya menatapnya heran.


Nara menganggukan kepala meyakinkan Freya.


“ mana bisa Amma pakai hijab begini.... sudah ini kamu yang pakai..... Amma pakai punya Amma sendiri “ ucap Freya sambil menyerahkan hijab lebar segi empat berwarna indigo pada Nara.


Beberapa menit kemudian Afkar kembali dan membawa sebuah pakaian berupa beskap modern, songkok, kain jarik dan celana yang berwarna senada dengan beskap modern.


“ sini biar Abba kamu yang pakai.... dia sudah paham cara pakai ini “ ucap Freya sambil meraih apa yang ada di tangan Afkar.


Belum sempat Afkar mengatakan apa-apa, Freya sudah melangkah meninggalkan mereka yang terlihat jelas bingung dengan semua ini.


“ Afkar.... setelah tim kamu selesai berganti pakaian... kamu sama yang lain ganti pakaian..... pakaian kamu sama Azkar juga Dean sudah Amma titipkan pada Helen “ ucap Freya sedikit keras membuat Afkar sedikit malu karena semua saudara sepupu dari pihak Selo melihat ke arahnya.

__ADS_1


Merasa bahwa para pria melihat ke arah Afkar juga Nara, seketika Nara bergeser di belakang Afkar. Membuat Afkar gemas dan ingin sekali mencubit pipi Nara.


Para wanita dari keluarga Selo satu persatu berganti pakaian seragam berupa kebaya brukat klasik modern berwarna indigo dengan pola brukat yang berbeda dengan yang Freya pakai. Sementara para pria dari keluarga Selo mengenakan beskap dan celana berwarna abu-abu seal dengan asesoris pita kecil berwarna indigo di saku beskap sebelah kiri atas.


Tepat pukul 1, seorang staff wedding organizer masuk dan mencari-cari seseorang yang mengenakan pakaian yang sama dengan Davis juga Martha. Staff tersebut melihat Freya juga Selo dan meminta mereka untuk segera menempati posisi karena kedua mempelai sebentar lagi akan keluar dari lift, keluarga inti dari pihak Divya sudah berada di belakang Fajrin dan Divya. Di saat Nara memperhatikan Fajrin yang terlihat sangat bahagia, tiba-tiba seorang staff wedding organizer mencarinya.


“ maaf apa anda.... adik dari mempelai pria? “ dengan cepat Afkar yang menjawab karena Nara masih memusatkan perhatiannya pada Fajrin.


“ silahkan anda berdiri di belakang sini “ ucap staff tersebut.


Nara dan Afkar berdiri tepat di belakang Ditya dan Aileen, Afkar paham siapa yang berdiri di depannnya dan Nara memeluk lengan kiri Afkar dengan posesif. Afkar pun memberikan Nara ciuman kecil di kepala.


Meja bundar berukuran besar di dalam Grand Ballroom sudah mulai di penuhi oleh para tamu undangan para relasi bisnis Surendra mau pun para relasi bisnis yang mengenal Fajrin, termasuk rekan-rekan SMA mau pun kuliah Fajrin.


Nara, Afkar, Helen, Azkar, Dipta, Ningsih, Ditya dan Aileen mereka duduk dalam 1 meja. Kedua anak Azkar duduk bersama Norin juga Dean, Afkar dengan sigap menarik kursi untuk Nara duduk begitu juga dengan Azkar yang menarik kursi untuk Helen karena Helen sedang menggendong bayi mereka. Nara duduk di antara Helen dan Afkar, Ditya duduk tepat di samping kanan Afkar, Dipta yang sudah mengenal baik Azkar memilih duduk di samping kiri Azkar dam tentunya samping kanannya adalah Ningsih.


Meski pun hanya berbeda jarak 1 kursi tapi Ditya serasa mati kutu karena dia duduk tepat di sebelah kanan Afkar yang sudah memasang aura dingin membuat bulu-bulu halus di kedua tangannya berdiri semua. Dipta dan Azkar terlihat berbincang-bincang sangat akrab membuat hati kecil Ditya sedikit iri, sementara tangan kiri Afkar sudah berada di atas perut Nara sesekali menggerak-gerakkan ibu jari atau jari telunjuknya untuk membelai perut Nara. Sungguh pemandangan yang membuat hati Ditya seperti terhantam sebuah bola besi seberat 10 ton, ingin sekali Ditya berbicara dengan Nara tapi Ditya bingung ingin memulai dari mana.


Suasana menjadi canggung bagi Ditya juga Aileen yang berkali-kali melihat ke arah meja tempat Celina, Jessica dan Trinity berada. Afkar terlihat jelas menghalangi Nara agar Ditya tidak sedikit pun bisa melihat sosok Nara, di saat Ditya semakin canggung dan geram. Ditya di kejutkan kedatangan Mexrat yang sedang berjalan mengantri untuk bisa bersalaman dengan kedua mempelai.


“ sialan.... datang juga pria tua itu kemari “ umpat Ditya pelan sambil memandang punggung Mexrat.


Meski pun pelan, Afkar yang di sebelahnya dapat mendengar dengan jelas, Afkar mengabaikan Ditya yang mengumpat karena melihat satu persatu para tamu undangan yang kebanyakan para pebisnis atau pun pemilik perusahaan besar.

__ADS_1


Azkar dan Dipta memperhatikan Ditya dan berkali-kali menarik nafas panjang.


“ biarkan dia belajar dari pengalamannya.... dia belum pernah berada di bawah..... dia belum pernah merasakan bagaimana sulitnya mendapatkan kepercayaan orang lain “ suara pelan Azkar membuat Dipta menganggukkan kepalanya.


__ADS_2