NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 159 MERAJUK


__ADS_3

Untuk beberapa menit Mari mengamati grafik detak jantung yang di beberapa detik terlihat ada sedikit perbedaan.


“ kan dette være da Afkar kontaktet meg (apa mungkin ini saat Afkar menghubungiku)? “ gumam Mari sambil mengeluarkan ponselnya.


Mari mencoba mencocokkan grafik rekam jantung janin dengan waktu Afkar menghubunginya semalaman. Mari menarik nafas panjang melihat grafik tersebut.


Afkar yang terbangun karena pergerakan tangan kiri Nara, seketika terkejut saat melihat Mari sudah duduk di sofa. Afkar segera turun dari ranjang dan mendekati Mari, mereka terlihat serius sedang membicarakan sesuatu. Sesekali Afkar melihat keadaan Nara, menyisir kasar rambutnya serasa menjadi suami yang tidak berguna karena tidak mampu menenangkan Nara dan dua janin mereka.


“ hvis pulsregistreringen er bra i dag.... i ettermiddag kan Nara reise hjem, men vær så snill... prøv å ikke få stingene i vannet så de tørker raskt... før jeg drar hjem skal jeg bytte såret dekk med gasbind ... jeg skal vise deg hvordan du behandler såret slik at det tørker raskt og prøv å ikke bruke hansker først.... slik at det blir utsatt for vinden (bila sehari ini hasil rekam detak jantung ini bagus.... nanti sore Nara bisa pulang tapi tolong di jaga.... usahakan luka jahitnya jangan terkena air dulu biar cepat kering.... sebelum pulang aku akan mengganti penutup luka itu dengan kasa... aku akan tunjukkan bagaimana cara merawat luka itu biar cepat kering dan usahakan jangan memakai sarung tangan dulu.... biar terkena angin) “ penjelasan Mari membuat Afkar ragu.


“ hvor vil du ikke bruke hansker (mana mau tidak pakai sarung tangan) “ ucap Afkar sambil menyisir kasar rambutnya.


“ det er din sak.....det er den eneste måten å behandle suturer hos gravide..... Jeg tør ikke gi smertestillende eller antibiotika... (itu urusan kamu..... hanya itu cara merawat luka jahit pada ibu hamil..... aku tidak berani memberikan obat pereda nyeri atau pun antibiotik..... ) “ ucap Mari yang sudah berdiri dari sofa.


Afkar menatap Nara dengan frustrasi.


“ mana mau tidak memakai sarung tangan “ gumam Afkar bingung.


Bangun dari tidurnya, Nara masih merasakan perih di tangannya dan kembali meringik kesakitan. Yang Afkar bisa lakukan hanya meniup luka itu berharap rasa perih itu hilang. Menjelang siang Nara sudah tidak meringik lagi dan saat sore hari Mari kembali melihat hasil cetak rekam jantung janin mereka, Mari tersenyum dan mengizinkan Nara pulang. Tapi sebelum keluar dari ruang rawat inap, Mari menunjukkan pada Afkar bagaimana cara merawat luka jahit agar cepat kering.

__ADS_1


Afkar dengan serius memperhatikan setiap gerakan yang Mari lakukan, apa saja yang Mari berikan pada luka jahit Nara.


“ mas sarung tangan “ pinta Nara membuat Afkar tidak tega dan Afkar mencoba mengabaikannya.


“ hva vil du ha din kone (minta apa istrimu)? “ tanya Mari curiga.


“ hansker (sarung tangan) “ jawab Afkar singkat.


Mari tersenyum mendengar ucapan Afkar dan memegang tangan kiri Nara.


“ until the wound is completely dry..... don't use gloves and don't get into the water..... this is an ointment.... to help speed up the drying process of this wound... apply three times a day (sampai luka ini benar-benar kering..... jangan gunakan sarung tangan dan jangan terkena air dulu..... ini ada salep.... untuk membantu mempercepat proses pengeringan luka ini.... oleskan 3 kali sehari) “ ucap Mari membuat Nara sedikit meringis.


Sampai di apartemen Nara melepas semua kain hitam dan masuk ke kamar mandi, mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Afkar dengan cepat menahan pintu agar Nara tidak menutupnya.


“ sini mas mandikan sayang “ ucap Afkar sambil menahan pintu kamar mandi dengan kaki kirinya.


“ yakin? “ tanya Nara meyakinkan Afkar.


“ mas tidak mau luka sayang terkena air dan basah...... bukankah sejak sayang hamil.... mas yang mandikan sayang “ ucap Afkar sambil melangkah masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


“ baiklah.... “ ucap Nara yang berusaha duduk di dekat wastafel.


Melihat Nara yang terlihat kesusahan naik di atas wastafel membuat Afkar menjadi tidak tega dan akhirnya mengangkat Nara untuk duduk di pinghir wastafel. Selesai dengan urusan Nara, Afkar melepas semua kain yang menutupi tubuhnya.


“ jangan memancing mas.... ingat tangan kiri masih sakit.... kali ini mandi saja.... tidak ada kegiatan lain “ ucap Afkar berusaha menahan diri untuk tidak siaga satu.


Nara merajuk mendengar ucapan Afkar memilih memalingkan wajah menatap ke arah yang lain, Afkar paham Nara merajuk tapi Afkar mencoba mengabaikannya karena Afkar tidak bisa memakan Nara dengan luka jahit yang terlihat jelas masih basah.


Selesai dengan urusan membersihkan diri Afkar merawat luka jahit Nara, menyuapi Nara mengabaikan ponselnya yang sedari tadi berdering tidak henti-hentinya. Selama 3 hari Afkar sama sekali tidak menyentuh gadget bila Nara tidak tidur, Afkar tidak ingin pikirannya terpecah antara merawat Nara dan pekerjaannya. Luka jahit di tangan Nara membuat punggung tangannya bengkak dan pada hari ke 5 ukuran tangan Nara sudah kembali normal, tapi tetap tidak boleh menggunakan sarung tangan.


Padahal satu minggu lagi Nara akan mengikuti kompetisi, meski pun Nara merajuk merengek agar Afkar mengizinkan Nara mengikuti kompetisi tetap saja Afkar melarang Nara untuk menggerakkan jari jemarinya. Karena saat Nara mencoba mengepalkan tangan kirinya, ada beberapa titik yang seharusnya sudah menutup kembali menjadi terbuka meski pun sudah tidak mengeluarkan darah. Membuat Afkar harus kembali mengoleskan salep.


Nanwei membatalkan semua jadwal wawancara Neptunia juga membatalkan 1 kompetisi Neptunia, membuat D4rkC0d3 harus berkompetisi tanpa Neptunia. Bahkan Afkar melarang keras Nara untuk sekadar menyentuh ponsel, setiap kali Nara mencoba mencuri-curi ingin memegang ponselnya maka setiap kali pula Afkar melihatnya maka Afkar akan menyimpan ponsel Nara di laci meja kerjannya.


Luka jahit Nara pelan-pelan mengering dan menyisahkan keropeng, dengan susah payah setiap pagi siang dan sore Afkar mengajak Nara keluar di taman tengah apartemen untuk mencari angin agar luka jahit di tangan Nara cepat kering. Meski pun di awal-awal Nara selalu merajuk dengan bujuk rayu Afkar untuk mengeluarkan tangan kirinya yang selalu dia sembunyi di balik hijab saat Afkar mengajaknya bersantai di taman tengah apartemen, tapi karena Afkar tidak henti-hentinya merayu Nara pada akhirnya Nara mau mengeluarkan tangan kirinya.


“ susah sekali merayu sayang “ keluh kesah Afkar membuat Afkar menangkup kedua pipi Nara yang tertutup rapi dengan niqab.


Nara tertunduk malu mendengar keluh kesah Afkar, dengan sabar Afkar memegangi tangan kiri Nara agar terkena matahari siang juga angin. Afkar berharap luka ini cepat kering supaya Nara bisa kembali mengenakan sarung tangan, karena Afkar tidak suka bila ada orang yang melihat tangan Nara.

__ADS_1


__ADS_2