NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 139 TIDAK BIASA


__ADS_3

Sejak pulang dari markas Shield, Nara lebih banyak menghabiskan waktu di dalam apartemen. Selama berdiam di dalam apartemen Nara lebih banyak menghabiskan waktu dengan bersantai, setiap kali selepas sholat Nara akan berdzikir dan murojaah sebanyak 2 atau 3 lembar, memanjakan diri dengan mengenakan pakaian rumahan yang nyaman selalu bergelayut manja di sekitar Afkar dan tentunya mulut yang tidak pernah berhenti mengunyah.


Nara baru berhenti mengunyah bila hendak sholat, membersihkan diri serta hendak tidur. Terkadang Nara harus memasak atau membuat sendiri makanan yang ingin dia makan karena makanan yang dia inginkan tidak tersedia di Oslo atau pun restauran Destin sedang tidak membuatnya. Bila bahan makanan yang tersedia di dapur tidak ada, mood Nara akan berubah drastis dan membuat Afkar menjadi repot sendiri. Bila itu sudah terjadi, Nara akan merajuk atau menangis. Membuat Afkar harus selalu memenuhi setiap lemari pendingin dengan buah-buahan, sayuran segar, daging hingga ikan segar yang siap di olah juga makanan kecil. Begitu juga dengan lemari-lemari kecil di atas lemari pendingin harus selalu ada makanan. Hal inilah yang membuat Afkar tidak tega dan lebih memilih mengalah menemani Nara berdiam di dalam apartemen, dengan terpaksa Afkar membawa pekerjaannya ke Apartemen membuat Lief kerepotan yang harus bolak balik apartemen gedung Rosenkrantz.


“ sir .... dette er filen du ba om (tuan.... ini berkas yang anda minta) “ ucap Lief sambil meletakkan setumpuk berkas di meja tepat di depan Afkar duduk.


“ er den personen fremdeles foran leiligheten (apa orang itu masih di depan apartemen)? “ tanya Afkar yang mulai merasa bosan dengan keberadaan sosok tersebut.


“ fortsatt sir (masih tuan) “ jawab Lief singkat.


“ Har du fortalt Holger og Fredrik at jeg ikke kommer inn i dag (apa kamu sudah bilang pada Holger dan Fredrik kalau hari ini aku tidak masuk lagi)? “ tanya Afkar sambil meraih sebuah berkas yang harus dia tanda tangani.


“ sir .... i ettermiddag vil herr Fredrik være her ..... han sa at det var noe han ville snakke om (sudah tuan.... nanti sore tuan Fredrik akan kemari..... beliau bilang ada hal yang ingin dibicarakan) “ ucap Lief.


Afkar kembali fokus pada berkas-berkas Rosenkrantz group, Afkar merubah salah satu sudut ruang tengah menjadi tempatnya bekerja sementara selama menemani Nara yang tidak mau keluar apartemen. Seperti pagi ini, hari ketiga suasana hati Nara masih malas menyentuh gadget.


“ sayang.... sudah 3 hari ini sayang tidak mau keluar apartemen.... kalau begini terus bagaimana D4rkC0d3 bisa berlatih ..... “ ucap Afkar yang sudah duduk bersila di bawah Nara yang duduk di sofa menghabiskan kue kering buatan Afkar.


Nara masih merasa nyaman berdiam di dalam apartemen mengenakan celana pendek yang hanya setinggi pangkal paha dan T-shirt dengan lengan setinggi 5 centimeter dari bahu.


“ Nara masih malas melihat monitor....” ucap Nara dan seketika suasana hatinya berubah dan mulai cemberut.

__ADS_1


Nara meletakkan toples kue kering di meja dan melangkah masuk ke dalam kamar. Afkar tertunduk diam tidak bisa merayu Nara untuk keluar dari apartement, Afkar menarik nafas panjang berdiri dan melangkah menyusul Nara. Tapi saat hendak membuka pintu kamar seketika Afkar terkejut karena Nara sudah menguncinya dari dalam, hal yang tidak biasa Nara lakukan.


“ sayang...... buka pintunya.... sayang jangan merajuk seperti ini...... sayang.... mas minta maaf..... sayang... ayolah jangan merajuk.... “ panggil Afkar sambil mengetuk pintu.


“ mas minta maaf kalau ucapan mas yang tadi membuat sayang marah..... sayang buka pin.... “ belum selesai Afkar berbicara, Nara sudah membuka pintu kamar dan sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan kain hitam.


Tanpa mengatakan apa-apa Nara menyodorkan kain niqab pada Afkar, Afkar menerima niqab itu dan membuat simpul di belakang kepala Nara. Afkar tersenyum senang akhirnya Nara mau keluar apartemen. Nara duduk di sofa dan memilih diam tidak melakukan apa-apa selagi menunggu Afkar bersiap.


Selama hampir 15 menit Nara menunggu Afkar yang berganti pakaian dan memasukkan beberapa berkas pekerjaan ke dalam tas kerjanya juga laptopnya. Saat Afkar sudah bersiap untuk keluar rumah, Nara membuka pintu apartemen membuat Afkar bingung dan segera keluar menyusul Nara.


“ sayang .... mana ponsel atau pun laptop sayang? “ Nara menjawab pertanyaan Afkar dengan menggelengkan kepala.


“ sayang..... sayang marah sama mas? “ Nara menjawab dengan menggelengkan kepala.


“ kalau sayang tidak marah.... lihat mas “ Nara melihat Afkar dengan tatapan biasa.


Tidak ada tatapan amarah, sedih, senang atau pun malas. Tatapan mata tanpa ekspresi sama sekali, membuat Afkar curiga. Nara menekan tombol pintu terbuka dan menyingkirkan jari Afkar dari tombol pintu tertutup. Nara melangkah keluar lift dan mencari Ines yang sedang duduk bersantai dengan 4 pengawal. Salah seorang pengawal seketika menjadi sigap saat melihat Nara menghampiri mereka, Afkar memperhatikan sambil melangkah menuju pintu lobi apartement.


Sepanjang perjalanan dari apartemen ke markas Shield, Nara memilih diam tidak bersuara sedikit pun hanya bibirnya yang bergerak dan jari jemari tangan kirinya yang tak berhenti berdzikir. Sementara Afkar yang merasa aneh dengan sikap Nara hanya bisa menggenggam dan meletakkan tangan kanan Nara di paha kirinya.


Sampai di depan markas Shield Nara segera turun tapi Afkar menahannya.

__ADS_1


“ sayang..... senyum dulu “ Nara tersenyum sesuai permintaan Afkar.


Afkar mengantar Nara hingga masuk ke lobi, sebelum mereka berpisah di lobi Nara meraih tangan dan mencium punggung tangan kanan Afkar.


“ Assalamualaikum “ salam Nara dan melangkah menuju ke lift untuk naik ke lantai 2.


“ wa'alaikumsalam “ Afkar menghela nafas dengan berat melihat punggung Nara hingga hilang masuk ke dalam lift.


Belum sempat Afkar membalikkan badan, Barra sudah mendekatinya.


“ Hvorfor (kenapa)? “ pertanyaan singkat namun terkesan curiga membuat Afkar sekali lagi menghela nafas dengan berat.


“ Jeg vet ikke, denne morgenen var fortsatt fin ..... men plutselig ble det stille da jeg sa at i dag må D4rkC0d3 øve (entahlah, tadi pagi masih baik-baik saja..... tapi tiba-tiba diam waktu aku bilang kalau hari ini D4rkC0d3 harus latihan) “ ucap Afkar bingung dan beranjak keluar dari lobi.


Barra menatap heran punggung Afkar dan pintu lift bergantian.


“ pasti ada yang tidak beres. “ gumam Barra dalam hati.


Barra segera menyusul Nara untuk mencari tahu, tapi Nara sudah terlihat serius menatap layar monitor komputer. Barra menarik nafas panjang memperhatikan sorot mata yang terlihat jelas tanpa ekspresi, tatapan mata yang sama seperti saat mendengar berita bahwa ibunya meninggal atau 5 hari sebelum kepulangan Fajrin.


Kakak beradik Yilmaz sudah duduk di kanan dan kiri Nara, mereka mulai memperhatikan setiap kata yang Barra ucapkan. Tapi tidak dengan Nara, kedua matanya menatap layar monitor tanpa ekspresi sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2