
“Apricots are also good for pregnant women (aprikot juga bagus buat ibu hamil)” ucap Marius sambil memetik dua buah aprikot yang tepat berada di atas kepala Afkar.
“how do you know…… you don't even have a girlfriend (kalian tahu dari mana...... pacar saja kalian belum ada)" ucap Afkar di sambut tawa Murat dan Felissa.
“they can't date, they have to chase their dreams first and get married like you (mereka tidak boleh berpacaran, mereka harus mengejar impian mereka dulu dan langsung menikah seperti kamu)" ucapan Murat seperti sebuah ultimatum bagi kakak beradik Yilmaz.
Marius menunjukkan layar ponselnya pada Afkar memperlihatkan manfaat buah aprikot bagi ibu hamil.
“Then tomorrow when we go back to Oslo, you guys bring a lot of grapes and apricots for your sister-in-law (kalau begitu besok kita kembali ke Oslo, kalian bawa anggur dan aprikot yang banyak untuk kakak ipar kalian)" ucap Afkar sambil meraih dua buah aprikot dari tangan Marius.
Sepanjang siang hingga menjelang sore, mereka bertujuh menghabiskan waktu dengan bercanda dan berbicara di bawa pohon aprikot. Karena mereka berbicara dengan bahasa Turki dan Nara tidak paham sama sekali hanya bisa menghabiskan makanan dan minuman yang Felissa sajikan. Sesekali Afkar tersenyum melihat tingkah Nara yang terlihat jelas dari sorot matanya sangat bahagia sekali.
“sesederhana inikah membuatmu bahagia?” gumam Afkar sambil tersenyum simpul melihat Nara yang bersemangat menghabiskan makanan yang Felissa sajikan.
Selepas makan malam bersama dengan keluarga besar Yilmaz, mereka berbincang-bincang di ruang keluarga membuat Nara merasa senang. Keluarga besar Yilmaz sangat ramah dan baik pada Nara, meski pun Nara tak mengerti bahasa Turki tapi bila mereka menyajikan makanan kecil pasti Nara akan sangat senang dan sangat menikmati sajian mereka. Afkar dan kakak beradik Yilmaz tersenyum melihat tingkah Nara yang tidak berhenti memasukan makanan apa saja tapi keluarga Yilmaz memaklumi dan menyadari kondisi Nara yang sedang mengandung janin kembar.
Tepat pukul sepuluh malam waktu Uskudar Afkar meminta ijin untuk masuk ke kamar yang mereka pakai untuk bermalam terlebih dahulu, Nara mengikutinya dari belakang karena memang Afkar menggenggam erat tangan kirinya. Nara membuka jendela kamar dan menikmati udara malam suasana desa distrik Uskudar.
“sayang..... di tutup jendelanya..... nanti sayang kedinginan" ucap Afkar yang sudah menutup kembali jendela yang tadi Nara buka.
“kalau begitu mas duduk sini dan peluk Nara” ucap Nara yang sudah merentangkan kedua tangannya.
Dengan terpaksa Afkar membuka sedikit jendela tadi, duduk di belakang Nara dan memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
“mas.... terima kasih sudah membawa Nara jalan-jalan" ucap Nara sambil mencium lengan kanan Afkar yang melingkar tepat di bawah dagunya.
“selama sayang senang..... mas akan lakukan untuk sayang.” Ucap Afkar dan mencium rambut Nara.
“mas..... ada yang ingin Nara katakan" ucap Nara pelan
“katakan.... mas akan mendengarkan” ucap Afkar yang kembali mencium rambut Nara tapi sedikit lebih lama dari ciuman tadi.
“mas.... black riley sebenarnya nama jaringan Nara, Nara memakai nama itu kalau kak Fajrin meminta Nara untuk melakukan sesuatu” ucapan Nara bukannya membuat Afkar terkejut tapi membuat Afkar tertawa kecil.
“hahahahaha...... sudah mas duga pasti sayang yang memperbaiki sistem kemanan Escape Room..... sejak kapan pakai nama itu?” pertanyaan Afkar membuat Nara berpikir sejenak.
“sejak kapan ya..... sebentar Nara ingat-ingat dulu..... hmmm..... kalau tidak salah.... semester satu waktu kak Fajrin minta tolong mencari rekaman CCTV..... “ucap Nara sambil mencoba mengingat-ingat rekaman apa yang dia cari waktu itu.
“kalau tidak salah waktu kakak ada project di India..... “ ucap Nara sedikit ragu.
“sekarang sayang jawab jujur..... berapa kali sayang menggunakan nama jaringan black Riley? “pertanyaan Afkar membuat Nara terdiam mencoba menghitung berapa kali memakai nama itu.
Sepuluh detik, lima belas detik, dua puluh detik, satu menit, dua menit, tiga menit Nara masih mencoba mengingat-ingat berapa kali dia menggunakan nama black Riley dan untuk apa saja dia memakai nama itu.
“kenapa diam? Mas tanya berapa kali sayang pakai nama itu?” tanya Afkar sekali lagi yang mulai curiga bahwa Nara tidak sekali dua kali atau tiga kali memakai nama itu untuk meretas sistem keamanan jaringan.
“heeee...... Nara lupa berapa kali" ucap Nara tertunduk malu membuat Afkar menarik nafas panjang.
__ADS_1
“sepuluh kali? Atau lebih?” tanya Afkar sekali lagi.
“sepertinya le.....bih" ucap Nara pelan membuat Afkar memeluk erat tubuh Nara.
“mulai hari ini..... setiap kali sayang memakai nama black riley..... sayang harus bilang dulu pada mas...... jangan masuk jaringan dengan nama black riley tanpa sepengetahuan mas..... janji?” Nara menganggukan kepalanya berkali-kali sebagai tanda kesanggupannya.
“mas Afkar tidak marah?” tanya Nara yang sudah merubah posisi duduknya menghadap dan bertumpu di paha Afkar.
Afkar menatap tajam kedalam mata Nara seperti mencari sesuatu yang lain yang kemungkinan masih di sembunyi oleh Nara.
“nama group?” tanya Afkar dengan wajah sangat serius.
“MOD" ucap Nara tertunduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
Afkar menatap tajam semakin tidak percaya bahwa istrinya yang saat ini duduk di hadapannya adalah salah satu anggota grey hat MOD atau Masters Of Deception, kelompok peretas yang beroperasi secara berbeda dalam banyak hal dengan kelompok peretas yang lain. Afkar paham betul bagaimana mereka bekerja dan bagaimana mereka berkomunikasi di dalam group peretas Masters Of Deception, meskipun mereka secara terbuka berbagi informasi satu sama lain. Tapi mereka memiliki pandangan kontroversial tentang berbagi informasi di luar kelompok mereka. Semua orang yang tahu tentang sepak terjang kelompok grey hat ini meyakini bahwa untuk bisa mengetahui hasil peretasan mereka, maka untuk mendapatkannya harus melalui beberapa test tingkat keyakinan dan rasa hormat yang tinggi sebelum mendapatkan hasil peretasan mereka. Daripada melepaskan informasi yang kuat ke alam liar di mana dapat dimanfaatkan untuk tujuan kejahatan, dan memerlukan tanggung jawab yang tinggi dari pihak yang menggunakan hasil peretasan mereka. Maka mereka membuat semacam test untuk menentukan bahwa orang tersebut layak mendapatkan informasi hasil pementasan mereka atau tidak. Dan sepengetahuan Afkar, test itu sangat sulit di lalui dan selama ini hanya empat orang yang dapat menggunakan informasi hasil peretasan Masters Of Deception.
Nara merasa heran tidak mendengar tanggapan apa pun dari Afkar, Nara memandang wajah Afkar dengan tatapan heran dan penuh tanya. Untuk beberapa detik kedepan mereka terdiam membisu saling menatap satu sama, hanya jarum jam dinding yang terdengar.
“mas.... mas tidak percaya dengan yang Nara katakan tadi?” tanya Nara sedikit ragu.
“hmmm.......” Afkar semakin menatap tajam mata Nara tidak percaya.
“ya sudah..... kalau tidak percaya..... Nara tidur saja.” Ucap Nara sambil bangkit dari paha Afkar dan berjalan mendekati ranjang.
__ADS_1
Afkar menatap punggung Nara dengan tatapan tidak percaya, Afkar berdiri mengunci jendela dan berjalan ke ranjang. Nara tidur dengan posisi membelakangi Afkar membuat Afkar gusar karena baru kali ini Nara membelakanginya. Afkar meraih lengan kanan Nara dan merubah posisi tidur Nara untuk menghadapnya.