NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 107 EMOSI


__ADS_3

Berulang kali Afkar menghubungi Ines mau pun pengawal yang lain tapi semua panggilan tidak terjawab.


Nara kembali ke Markas Shield dengan pengawalan penuh saat menyeberang di persimpangan antara jalan Dronning Eufemias dan jalan Rostockgata, karena banyaknya para pejalan kali yang menyeberang. Tepat di tengah penyeberangan seseorang menabrak bahu kiri Nara.


“ I'm sorry (maafkan saya) “ ucap Nara pada orang tersebut sambil menangkupkan kedua tangannya dan sedikit menunduk.


Ines dan para pengawal yang berjalan di belakang Nara segera berjalan cepat memperpendek jarak dengan Nara.


“ madam are you okay (nyonya tidak apa-apa)? “ tanya Ines kuatir.


Nara menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Ines.


Sampai di Shield Nara langsung naik ke lantai 3, semua mata manager mau pun pemain yang berpapasan dengan Nara selalu mengacungkan kedua ibu jarinya. Nara hanya bisa membalas dengan mengucapkan “ thanks" dan menangkupkan kedua tangannya.


sayup-sayup terdengar suara keras Afkar, membuat Nara mencari keberadaan Afkar. Seketika Nara terkejut saat mendapati Afkar sedang memarahi kakak beradik Yilmaz dan membuang semua berkas yang Afkar pegang. Nara memberanikan untuk melangkah mendekati ruang kerja Barra, Barra melihat Nara yang berjalan pelan hingga mendekati pintu hanya bisa memberi isyarat tangan agar jangan masuk tapi sia-sia Nara mengabaikan isyarat Barra.


“ hvorfor gjør du den samme feilen, vær oppmerksom på prestasjonsgrafen din ... hver runde handler du bare etter femten minutter og tretti minutter ..... dette er det som gjør at laget ditt bare kan være på tredjeplass (kenapa kamu melakukan kesalahan yang sama, perhatikan grafik performansi kamu... setiap babak kamu baru beraksi setelah 15 menit 30 menit ..... ini yang membuat tim kalian hanya bisa menduduki peringkat 3) “ suara Afkar yang keras dan dingin sambil melempar berkas grafik performansi pemain D4rkC0d3 tepat mengenai di wajah Morten.


Nara terkejut melihat apa yang Afkar lakukan tapi hanya bisa diam berdiri dengan masih memegang gagang pintu kaca, Barra yang tidak bisa mencegah Nara masuk hanya bisa menepuk dahinya sedangkan Nanwei dengan mengangkat tangan melihat Nara seperti isyarat menyerah.


“ mas... “ suara pelan Nara yang hampir tidak terdengar oleh Afkar.


“ og du ...... Jeg sa til Singgih å utnevne til lagkaptein fordi du er rask til å ta avgjørelser ... men hvorfor var du så treg i går kveld ... Neptunia kunne ikke være lagkaptein ... . dere vet alle hvorfor Neptunia ikke kan være lagkaptein (dan kamu...... aku menyuruh Singgih menunjuk sebagai kapten tim karena kamu cepat dalam mengambil keputusan.... tapi kenapa tadi malam kamu lambat sekali.... Neptunia tidak bisa menjadi kapten tim.... kalian tentu tahu kenapa Neptunia tidak bisa menjadi kapten tim) “ suara Afkar penuh dengan emosi dan terkesan dingin semakin membuat kakak beradik Yilmaz menunduk semakin dalam.

__ADS_1


“ mas.... “ sekali lagi Nara memanggil Afkar.


Afkar melihat ke asal suara


“ Neptunia, hvor er du fra (Neptunia, dari mana kamu) “ suara bentakan Afkar membuat hati Nara sakit.


Dada dan tenggorokan Nara terasa sesak kedua mata terasa panas mulai berkaca, entah Afkar sadar atau tidak dengan ucapannya yang keras dan bernada tinggi. Tapi apa yang Nara dengar sudah cukup membuatnya untuk menahan tangis, Barra yang melihat mata Nara yang berkaca-kaca segera menghampiri dan menjadi penghalang Nara agar tidak melihat Afkar yang emosi.


“ Singgih, hvorfor beskytter du Neptunia .... Neptunia tar også feil (Singgih,untuk apa kamu melindungi Neptunia.... Neptunia juga salah....) “ tiba-tiba Nanwei yang sudah tidak tahan dengan suara emosi Afkar segera menarik paksa tangan kiri Afkar.


“ GUN .... husk Neptunia er ikke bare en Shield -spiller .... Neptunia er også din kone (GUN.... ingat Neptunia bukan hanya pemain Shield.... Neptunia juga Istrimu) “ ucapan Nanwei seketika membuat mata Afkar membulat.


Barra yang sudah memalingkan tubuhnya membelakangi Nara untuk menjaga jarak agar Afkar tidak bertindak lebih, tidak mengetahui bahwa Nara sudah berlari keluar dari ruangan Barra.


Afkar membalikkan badannya dan melihat Nara yang sudah berlari mendekati tangga menuju lantai 2, segera mengejarnya.


Afkar semakin melebarkan langkahnya untuk memperpendek jarak dengan Nara, saat jarak semakin pendek Afkar segera meraih bahu kanan Nara dengan tangan kanannya.


“ sayang jangan lari..... maafkan mas “ ucap Afkar sambil menahan bahu kanan Nara yang membuat Nara terpaksa berhenti.


Afkar memutar tubuh Nara dan memeluknya erat, tapi Nara tidak membalas pelukan itu membuat Afkar semakin erat memeluk Nara.


“ sayang... maafkan mas... bukan mas bermaksud memarahi sayang.... tapi mas harus bersikap profesional.... mas tidak bisa pilih kasih pada kalian “ Nara tidak bergeming dengan ucapan Afkar dan tetap diam tidak membalas sedikit pun pelukkan Afkar.

__ADS_1


“ sudah selesai marahnya? “ suara pelan Nara yang terdengar sangat kecewa di telinga Afkar membuat Afkar memeluknya semakin erat.


Saat pelukkan Afkar turun ke pinggang, Afkar merasakan sesuatu yang tidak biasa. Kain hijab Nara sisi kiri belakang lebih pendek dari sisi kanan, Afkar memegang ujung hijab tersebut dan melihatnya dengan terkejut. Kedua mata Afkar membulat sempurna seketika melonggarkan pelukkannya dan memegang kedua bahu Nara. Mata Afkar merah melihat ada sobekkan di pinggang kiri Nara, dengan cepat Afkar memegang sobekan tersebut dan memutar tubuh Nara melihat sepanjang apa kain Nara yang sobek.


“ sayang kamu dari mana “ suara Afkar bergetar karena kuatir apa yang di kuatirkan selama ini terjadi saat ini.


Nara masih diam tak menjawab pertanyaan Afkar, Nara masih kecewa dengan amarah Afkar sebagai GUN.


“ sayang keluar gedung tanpa pengawal? “ tanya Afkar ragu.


“ Ines...... “ suara keras Afkar yang menggema di seluruh lantai 3 membuat semua manager juga pemain melihat ke arahnya.


Barra, Nanwei juga kakak beradik Yilmaz segera berlari mendekati Afkar dan Nara yang masih berdiri di anak tangga. Ines dengan tergopoh-gopoh berlari mendekati Afkar.


“ hva er galt sir (ada apa tuan)? “ suara takut Ines membuat Afkar kembali emosi.


“ hvor har du vært, ikke ta vare på kona mi (kemana saja kamu, apa kamu tidak menjaga istriku)? “ suara tinggi Afkar membuat Nara mundur 1 langkah menjaga jarak dengan Afkar.


Dengan rasa takut Ines menjelaskan kemana Nara pergi pagi ini. Afkar mendengarkan penjelasan Ines dan sekali lagi membulatkan kedua matanya.


“ Hvis du tar vare på kona mi ... kan det ikke være en tåre i min kones liv (kalau kalian menjaga istriku... tidak mungkin ada sobekkan di pinggang istriku) “ suara emosi Afkar membuat Ines terkejut begitu juga dengan Barra, Nanwei, kakak beradik Yilmaz juga Nara sendiri.


Nara segera meraih kain yang menutupi pinggangnya seketika kedua mata dan mulut Nara membulat sempurna, tangan kanannya menarik kain yang sudah sobek selebar kurang lebih 20cm. Nara tidak percaya bahwa abaya dan hijab yang dia pakai sobek selebar itu. Nara berusaha mengingat apa yang dia lakukan dari sejak keluar markas Shield hingga kembali ke markas, seketika Nara menggelengkan kepalanya seperti menyangkal sesuatu.

__ADS_1


“ tidak mungkin “ ucapan Nara membuat Afkar melihatnya dan menahan tubuh Nara yang terlihat mulai limbung.


“ sayang kenapa.... apa sayang mengingat sesuatu? “ belum sempat Nara menjawab hanya melihat mata Afkar tiba-tiba pandangan matanya menjadi gelap.


__ADS_2