
Tepat pukul dua belas lebih dua menit malam hari atau saat Isya’ waktu Oslo, pesawat yang membawa Nara dari Turki mendarat di bandara Gardermoen. Lief dan satu orang supir sudah menunggu mereka di apron khusus private jet, Afkar dan Nara langsung kembali ke rumah sementara kakak beradi Yilmaz beserta Syver dan Inga kembali dengan sebuah mobil yang sudah Lief siapkan.
“ Alhamdulillah sampai rumah juga..... mas Nara mandi dulu ya " ucap Nara sambil melepas semua kain hitam yang dia pakai.
“ pakai air hangat.... mas tunggu di ruang makan ” ucap Afkar sambil berjalan keluar kamar.
Beberapa menit kemudian Nara keluar sudah dengan pakaian santai milik Afkar, membuat Afkar tersenyum menyambut Nara dengan menarik sebuah kursi untuk istrinya. Selesai makan malam Nara membersihkan peralatan makan mereka sementara Afkar membersihkan diri. Untuk beberapa menit Nara menunggu Afkar keluar dari kamar mandi tapi matanya yang lelah sudah tidak mampu lagi menahan kelopak mata yang sudah mulai terasa berat ingin segera menutup.
Afkar keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang menutupi asetnya, berjalan mendekati ranjang dan membelai rambut hitam Nara. Afkar melepas handuk berbaring di sisi kiri Nara dan tertidur dalam keadaan polos.
“ besok akan ada kejutan buat sayang " gumam Afkar sambil mencium dahi Nara dan ikut terlelap.
Kehamilan kembar yang membuat kandung kemih Nara tertekan sehingga menjelang Shubuh Nara terbangun dengan buru-buru untuk segera masuk ke kamar mandi. Afkar yang sudah terbiasa hanya melihatnya dengan tersenyum tipis, Afkar segera bangun untuk sholat Shubuh dengan Nara.
“ sayang mulai hari ini pakai kemeja mas saat tidur saja ya.... ” ucap Afkar sambil membantu Nara melepas mukena.
“ kenapa? ” tanya Nara heran.
“ mulai hari ini kakek menyuruh dua atau tiga pelayan untuk membantu kita membersihkan rumah dan memgurus semua keperluan kita.... jadi akan ada orang lain di rumah kita mulai pukul lima pagi sampai menjelang tengah malam. ” Jelas Afkar membuat Nara terdiam karena sangat paham maksud Afkar.
“ iya.....apa mereka semua laki-laki? ” tanya Nara ingin tahu.
“ untuk membersihkan rumah dan membuatkan kita makanan iya laki-laki tapi untuk mengurus pakaian kita.... kakek sudah menyiapkan pelayan wanita. ” Ucap Afkar sambil membantu Nara berdiri.
__ADS_1
“ dan satu lagi.... sayang harus mulai terbiasa kalau Lief pagi-pagi akan kesini dan sudah duduk di ruang tengah.... Lief akan menjadi asisten dan tangan kanan mas..... sayang sudah tahu....? ” tanya Afkar membuat Nara menganggukan kepalanya.
“ kalau mas akan menggantikan kakek di Rosenkrantz group sebagai CEO " ucap Nara sambil melangkah masuk ke kamar mandi.
Nara sudah memakai abaya hijab dan niqab berjalan di belakang Afkar untuk menuju ruang makan, seorang pelayan sedang menata makan pagi untuk mereka yang sudah di buat oleh seorang koki. Nara memperhatikan berapa orang laki-laki yang akan berada di rumah ini selain Afkar.
“ mas.... Nara ikut mas ya...... Nara tidak mau kalau di rumah sendiri sama mereka " bisik Nara sambil menunjukkan beberapa orang pelayan laki-laki yang berada di dapur dan di ruang tengah.
“ yakin sayang mau ikut ke kantor? Mas ada banyak jadwal dan Lief sudah mengatur jadwal itu " ucap Afkar sambil melihat Lief yang berjalan ke arahnya dengan membawa sebuah tablet.
“ kalau Marius dan Morten bagaimana? ” tanya Nara sedikit takut.
“ mereka hari ini sudah mulai latihan.... apa sayang mau mengganggu mereka? ” goda Afkar.
Afkar memberi isyarat tangan pada Lief untuk menunggunya dimana dia berdiri, Afkar menghampiri Nara di meja makan yang sepertiny mulai merajuk. Belum sempat Afkar menjelaskan sesuatu pada Nara, Lief mendekat.
“ beklager sir ..... Jeg har noe å si (maaf tuan..... ada yang harus saya sampaikan) ” ucap Lief yang sudah berdiri kurang lebih dua langkah di Afkar.
“ si (katakan) " ucap Afkar dengan suara dingin.
“ dette er en assistent for fru Nara (ini asisten untuk nyonya Nara) " ucap Lief sambil menunjukkan seorang wanita berumur kurang lebih dua puluh lima tahun.
“ Hvem er hun (siapa dia)? ” tanya Afkar dengan suara dingin.
__ADS_1
“ hun heter Ines, viser storherren Erhan henne som assistent og livvakt for fru Nara når Young master ikke er sammen med fru Nara. (namanya Ines, tuan besar Erhan menunjukkannya sebagai asisten dan pengawal nyonya Nara saat Tuan muda tidak bersama nyonya Nara.) ” Ucapan Lief membuat Afkar menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan tangan kiri.
“ Gjør du bønn (apa kamu sholat)? ” tanya Afkar singkat dan cukup membuat Lief bingung.
“ beklager sir spør meg (maaf apa tuan bertanya pada saya)? ” ucap Lief sedikit ragu.
“ hvorfor spør jeg deg om jeg allerede kjenner deg nok …… spurte jeg ham (untuk apa aku bertanya padamu kalau aku sudah cukup mengenalmu...... aku bertanya pada dia) “ ucap Afkar dingin sambil menunjuk Ines.
Lief tertunduk malu ini pertama kalinya dia bekerja dengan Afkar meskipun Lief sudah lama mengetahui bahwa Afkar memiliki kesan dingin dan cuek.
“ Jeg ber herr, familien min er innvandrer fra Marokko .... hvis du spør meg hvorfor jeg ikke bruker hijab som fru ... det er fordi ledelsen på min forrige arbeidsplass ikke tillot meg å bruke hijab (saya sholat Tuan, keluarga saya imigran dari Maroko.... kalau tuan bertanya kenapa saya tidak mengenakan hijab seperti nyonya.... itu karena pimpinan di tempat kerja saya yang sebelumnya tidak mengijinkan saya memakai hijab). " Jelas Ines sedikit takut bila Afkar akan menolaknya.
“ Fra og med i dag så lenge jeg ikke er i nærheten, vil du følge med kona mi hvor hun enn går (mulai hari ini selama aku tidak ada kamu akan menemani istriku kemana pun dia pergi)..... ” Ines tersenyum bahagia mendengar ucapan Afkar meskipun terdengar sangat dingin.
“ ikke bruk klær som dette og bruk hijab igjen (jangan memakai pakaian seperti ini dan pakai kembali hijabmu). ” Ines terkejut mendengar Afkar menyuruhnya memakai pakaian tertutup dan mengenakan hijab.
Dengan isyarat tangan dari Afkar, Lief dan Ines menjauh dari ruang makan. Afkar melihat mata Nara yang terlihat jelas tidak suka dengan kehadiran orang-orang baru di dalam rumah ini, tapi Afkar hanya bisa menenangkan Nara karena tidak mungkin Afkar mengusir semua orang ini mengingat kesibukan dia sudah terlihat jelas.
Selesai makan pagi saat Afkar hendak melangkah ke ruang tengah dimana Lief sudah menunggu.
“ mas.... boleh Nara pakai internet? ” tanya Nara singkat dan cukup membuat Afkar tertegun untuk sesaat.
Afkar mendekati Nara dan mengajaknya masuk ke sebuah ruangan yang bersebelahan dengan ruang kerja Afkar. Selama mereka di Istanbul, Afkar meminta Lief untuk mencari orang untuk melakukan sedikit perbaikan di beberapa ruangan. Salah satunya adalah memindah kamar mereka di bawah, menyiapkan satu ruangan khusus untuk Nara berlatih dimana terdapat tiga komputer lengkap dengan peralatan simulasi kompetisi dan juga satu ruang kerja Afkar yang tepat di samping ruangan khusus untuk Nara.
__ADS_1
Nara melihat seisi ruangan tidak percaya, di sebuah meja terlihat jelas laptop juga keyboard pemberian Fajrin. Seketika Nara melompat memeluk leher Afkar.