Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Perpustakaan


__ADS_3

Setelah kedatangan Diqi dirumah pratama, suasana jadi lebih baik, walaupun masih banyak masalah yang belum terselesaikan.


Sehari hari Lira hanya berkutat dengan layar laptopnya, entah itu melakukan pekerjaannya, bermain Game atau menonton film. Lira tidak suka menonton drama drama yang berbau cinta, karena menurutnya drama drama itu sangat jauh dari kenyataan.


Lira juga jarang keluar rumah, dia lebih suka berada diperpus akhir akhir ini, sepertinya dia tertular virus kutu buku Dea.


Seperti saat ini, dia tengah duduk bersama dengan Dea, mereka duduk berdampingan namun tidak ada suara yang terdengar. Mereka sangat pokus membaca buku jadi tidak ada waktu untuk mengobrol.


Seseorang datang menghampiri Lira dan Dea, dia duduk didepan mereka berdua. Namun Lira dan Dea masih pokus dengan bacaan mereka.


"yak kalian sungguh mengabaikanku" gerutunya.


"diamlah jangan ganggu!" kata Lira masih menatap buku.


"Ra main yuk" ajaknya seperti anak kecil yang mengajak bermain.


"..."


Diqi menggoyang goyangkan buku yang Lira pegang dan membuat siempunya mulai kesal.


"yak Diqi Anggara. bisakah kau tidak mengganggu?" tanya Lira dengan wajah kesal.


"yang lain sedang sibuk. kadi aku ingin bermain denganmu saja" katanya tersenyum cerah.


"tidak bisa, aku lagi membaca. kalau kau bosan lebih baik ikut membaca bersama kami" tawar Lira.


Diqi melirik Dea yang sedang pokus membaca, dan tidak terganggu dengannya sama sekali.


"apa aku menggangu?" tanya Diqi melirik Dea.


Dea yang sadar bahwa Diqi bertanya padanya menjawab dengan gelengan kecil.


Lira hanya tersenyum hambar melihat interaksi kedua orang itu. Lira tau apa yang ada dipikiran Diqi ketika melihat Dea.


☆☆☆


Hari sudah mulai menjelang sore, namun Lira masih berada diperpustakaan pribadi itu. Di sampingnya ada Diqi yang sedang membaca dengan serius. Sedangkan Dea sudah pergi dari tadi meninggalkan mereka berdua.


Mulut Lira sudah gatal ingin menanyakan sesuatu kepada Diqi namun dia sedikit ragu. Namun kali ini dia memberanikan diri.


"kau menyukai Dea?" tanya Lira tepat sasaran dan itu membuat Diqi terkesiap.


"apa?" tanya Diqi pura pura tidak mengerti.


"Sudahlah jangan belaga tidak tau. aku bukan anak kecil yang bisa dibohongi" kata Lira. "namun kau harus tau bahwa Dea sangat mencintai Sam, jadi jangan bertindak berlebihan" lanjutnya.


"aku tau..makanya aku diam" kata Diqi sedikit menekuk wajahnya.

__ADS_1


"jangan seperti itu. jelek tau Diq" Lira berusaha menghibur Diqi. tangannya mencubit pipi Diqi gemas dan Diqi juga membalasnya.


"Ekhem" suara deheman kecil menghentikan acara mari saling cubit itu.


"oh kak Shean sudah pulang?" tanya Diqi dengan tersenyum, namun yang diberi senyum hanya menampilkan wajah datar.


Shean berjalan mendekati Lira dan Diqi " kenapa masih disini?" tanya Shean dengan nada dinginnya itu.


"aku? aku menemani Lira disini" jawab Diqi jujur.


Melihat Shean yang hanya berdiri mematung membuat Diqi jadi kikuk, sedangkan Lira malah cuek dengan keberadaan Shean, dia lebih tertarik untuk membaca buku.


"ah haha.. bagaimana kalau kak Shean menemani Lira disini, aku akan keluar dulu" kata Diqi dan bergegas pergi keluar perpustakaan. Dia sudah tidak sanggup dengan aura dingin yang sudah dikeluarkan oleh Shean.


Shean duduk disamping Lira yang sedang pokus membaca, wajahnya masih saja tanpa ekspresi.


Lira selesai membaca bukunya dan berdiri untuk menyimpan buku ditempat semula, namun langkahnya terhenti oleh genggaman tangan Shean.


"apa lagi ini?" batin Lira


☆☆☆


Lira beguling guling diatas tempat tidur mencari tempat yang nyaman untuknya. Namun matanya seakan tidak mau untuk terpejam.


Lira memposisikan dirinya untuk duduk, dan menatap kosong kedepan. Namun setelah itu dia melirik kearah pria yang sedang tertidur pulas diatas sofa.


Lira berjalan perlahan dan tidak ingin membuat suara. Dia berjalan kearah pintu untuk membukanya dan keluar dari sana.


Kaki mulus Lira berjalan menuruni tangga, disana terlihat sepi karena semua orang sudah tidur sekarang.


"apa aku ke perpus saja?" tanya Lira entah pada siapa.


Setelah menuruni tangga, dia berjalan menuju arah perpus. Ketika sudah sampai didepan pintu, langkahnya terhenti oleh suara suara aneh dari dalam perpus.


"ada apa disana?" lagi lagi Lira bermonolog.


Lira adalah orang yang penasaran dan selalu ingin tau. Dia berjalan menuju pintu perpus yang sedikit terbuka. Matanya membola seketika melihat apa yang dia lihat disana, namun sedetik kemudian tangannya ditarik oleh seseorang.


"Lepas!" kata Lira setelah menjauh dari perpus.


"apa yang kau lakukan malam malam?" suara datar itu tentu dari Shean.


"bukan urusanmu" Lira bergegas meninggalkan Shean menuju kekamarnya.


Lira masih syok dengan apa yang dilihatnya tadi diperpus. Sungguh mereka benar benar berani pikirnya.


Shean masuk kedalam kamar dan mendapati Lira sedang terduduk disamping tempat tidur, namun pikirannya entah kemana.

__ADS_1


"jangan dipikirkan" kata Shean dan berlalu menuju sofa tanpa menunggu respon dari Lira.


"kau tau?" tanya Lira "jika kau tau kenapa membiarkan mereka, kasihan kan kak Min dan Ria" lanjutnya sedikit emosi.


"itu bukan urusanku" kata Shean enteng, dan mencoba untuk merebahkan diri.


Lira berjalan kesamping Shean dengan menghentakan kakinya.


"jadi apa urusanmu sebenarnya Shean pratama" bentak Lira.


Shean membuka matanya dan memposisikan dirinya untuk duduk, kemudian menatap Lira dalam.


"apa kau tidak peduli dengan saudara saudaramu hah?" Lira mulai emosi.


"..."


"KAU- sudahlah.." Lira menghentikan perkataannya, lagian percuma juga dia marah marah.


"lalu apa pedulimu tehadap mereka?"


"karena mereka sudah menjadi keluargaku sekarang, walau hanya untuk beberapa bulan lagi"


☆☆☆


Suasana dimeja makan sangat hening pagi ini. Tidak ada yang bersuara selain suara alat alat makan yang bergesekan.


"Ra. mau temenin Diqi gak?" tanya Diqi memecah keheningan.


"kemana?" kata Lira.


"mm. jalan jalan" jawab Diqi.


"baik-" perkataan Lira terpotong.


"tidak bisa" itu dari Shean yang sudah memperhatikan mereka dari tadi.


Semua orang yang ada dimeja makan mengalihkan atensinya pada Shean. Pasalnya Shean tidak pernah bicara saat makan kalau tidak penting penting banget.


"kenapa?" tanya Lira heran.


Lira bukan hanya heran karena perkataan Shean, namun dia juga heran kenapa akhir akhir ini 'pendengarannya' tidak mempan pada Shean. Padahal dia masih bisa membaca isi hati orang lain, apakah Shean memang tidak berbicara dalam hati atau memikirkan sesuatu saat bersama dengan Lira? itulah yang Lira heran.


"aku ada perlu dengannya" kata Shean singkat dan kembali menyantap makanan.


Semua orang tau tabiat Shean, dia tidak bisa dibantah, makanya mereka hanya diam atau mengangguk. Tapi Lira beda, dia bukan seseorang yang bisa begitu saja menuruti orang lain, selain ayah dan kakaknya.


"perlu apa?" Lira mulai sinis.

__ADS_1


"perlu berduaan denganmu"


__ADS_2