
Sudah dua bulan pernikahan Lira dan Shean, namun perkembangannya begitu begitu saja, monoton. Karena mereka terpatok oleh sebuah perjanjian yang Shean buat sendiri, dan Lira setujui.
Shean yang selalu sering bertemu dengan Selena mantan kekasihnya sekaligus cinta pertamanya. Dan Lira yang lebih suka menghindari hal hal yang merepotkan seperti CINTA.
Lira sudah cukup melihat, bagaimana situasi yang disebabkan oleh perasaan cinta itu. Seperti Dea dan suaminya yang masih belum membaik. Dan Mia yang selalu menjadi penyebab semua masalah yang terjadi dikediaman pratama.
Hari ini adalah hari minggu. Min yang merupakan kakak tertua mereka, meminta untuk semua orang harus berada dirumah untuk hari ini, karena mereka akan kedatangan seseorang.
Delapan orang penghuni utama rumah megah itu tengah duduk diatas sofa ruang keluarga, sedangkan Lira masih berada didalam kamar, masih sibuk dengan pekerjaannya.
Ada yang berbincang bincang dan ada juga yang memainkan ponsel pintarnya.
"HALO SEMUANYAAA" Seseorang berteriak dari arah pintu utama.
Atensi semua orang beralih kearahnya.
Pria tampan berkulit putih pucat dengan memakai pakaian kasualnya berjalan menghampiri mereka dengan koper berwarna hitam yang berada ditangan kanannya.
"kau sudah sampai Q" kata Min dan langsung memeluk pria yang lebih muda darinya itu.
"ya kak" jawab nya lalu memeluk satu per satu anak anak tuan pratama.
Mereka kembali duduk diatas sofa dan mulai mengintrogasi pria bernama DiQi.
"apa kau mau tinggal disini?" tanya Bym tepat sasaran.
"kau tau saja Bym" kata DiQi dengan cengirannya itu.
"bagaimana kuliahmu?" tanya Key.
"baik kak. aku sudah lulus, makanya aku pulang" jawabnya.
"habis ini kamu mau kerja atau gimana?" tanya Min.
"rencananya si kerja.. tapi kayaknya mau istirahat dulu selama beberapa minggu ini" kata Diqi "oh ya kak Shean, mana kakak iparku?" tanya Diqi menanyakan Lira.
Shean yang dari tadi hanya menyimak akhirnya menjawab.
"diatas" katanya singkat.
Diqi hanya mengangguk dan ber oh ria.
☆☆☆
Lira dari tadi hanya melihat layar laptopnya. Ada sedikit masalah dengan pekerjaannya, maka dari itu dia tidak turun menemui sepupu Shean.
Berulang kali Lira mencoba memperbaiki data data yang ada dilaptopnya itu, namun data yang sudah dihapus tidak bisa dikembalikan.
__ADS_1
"masa aku harus mengulangnya" dia bertanya pada diri sendiri.
"tidak tidak. aku lulusan IT, masa tidak bisa mengatasi ini. bukan Lira banget" lagi lagi Lira bicara pada diri sendiri.
Kali ini Lira pokus untuk mengembalikan data yang tidak sengaja terhapus. Usahanya tidak sia sia, dengan kepintaran yang dia punya, bahkan data yang terhapus bisa kembali.
Lira memekik senang karena prestasi kecilnya. Dia meloncat loncat seperti bocah yang baru saja mendapat permen, dan dia tidak menyadari seseorang yang tengah terkikik kecil didepan pintu.
Lira mendengar suara cekikikan itu dan berbalik untuk melihatnya. Disana berdiri seorang pemuda berkulit putih pucat yang sedang terkikik lucu.
Lira salah tingkah karena bertingkah konyol, kemudian menghampiri pria itu.
"kau pasti sepupunya Shean?" tanya Lira sedikit ragu.
"betul sekali kakak ipar, aku Diqi. dan kakak pasti kak Lira ya" kata Diqi tersenyum cerah.
"ya aku Lira. jangan panggil kakak, panggil Lira saja. sepertinya umur kita sama" kata Lira dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.
"wah. kalau berlama lama disini aku bisa diabetes.." kata Diqi.
"makanya cepat pergi" suara itu bukan dari Lira. melainkan Shean yang baru saja datang.
"aku hanya ingin menyapa kakak iparku saja kak. lagi pula aku hanya berdiri didepan pintu bukan berada didalam kamar"
Ya. Diqi dari tadi hanya berdiri didepan pintu dan tidak berniat untuk masuk kamar.
"apa kakak cemburu?" tanya nya dengan senyum jahil.
Diqi mengangkat kedua tangannya "Ok ok. aku pergi" katanya dan tersenyum kecil kearah Lira kemudian melesat pergi dari sana. Dia masih ingin hidup untuk menjalani hari hari esok.
Sedangkan Lira hanya berdiri mematung dengan apa yang dia 'dengar'.
"mungkin pendengaranku salah" batinnya.
☆☆☆
Kring
Kring
Ponsel diatas meja kerja berbunyi, itu adalah ponsel Shean, sedangkan orangnya berada didalam kamar mandi.
Lira mencoba mengabaikannya, lagi pula itu bukan urusannya. Ponsel terus berbunyi dan Lira terganggu karenanya. Dia memasang earphone dikedua telinganya lalu mendengarkan musik, mengabaikan ponsel yang terus berbunyi.
Bebera menit kemudian, sipemilik ponsel keluar dari kamar mandi dan mengangkat telepon.
Telepon ditutup oleh Shean dan dia berjalan menuju lemari pakaiannya untuk mengambil pakaian.
__ADS_1
"pacarmu?" tanya Lira santai dan menatap Shean.
"bukan urusanmu" jawab Shean.
Lira hanya mengangguk pelan dan kembali mempokuskan dirinya untuk melihat medsos miliknya.
Tok tok tok
Pintu kamar diketuk seseorang, dan itu kembali membuat Lira mengalihkan atensinya. Dia turun dari atas tempat tidur dan berjalan menghampiri pintu kamar, kemudian membukannya.
"hai ra" Diqi melambaikan tangannya.
"oh ada apa?" tanya Lira.
"begini. aku membawa oleh oleh waktu pulang. dan katanya kau sangat suka coklat. jadi aku mau memberikan ini" Diqi memberikan sebuah kotak berisikan coklat didalamnya kedepan Lira.
"Waaah. terima kasih, kau tau dari mana?" tanya Lira dan menerima coklat itu dari tangan Diqi.
"tau dari Dion" jawab Diqi.
"Dion? kakakku? kau mengenalnya?" tanya Lira penasaran.
"ya.. begitulah"
"ngapain disini?" lagi lagi Shean selalu menggangu suasana.
"kalau begitu aku pergi dulu kakak ipar. jangan lupa dimakan" kata Diqi dan melesat pergi.
Lira hanya garuk garuk kepala melihat tingkah Diqi.
Lira menutup pintu kamar dan berbalik, kemudian...
"Yak. bisakah kau bersuara? bikin jantungan saja" Lira tidak sengaja membentak Shean karena kaget tiba tiba Shean berada dibelakanya dengan masih menggunakan handuk dipinggangnya, menampakan dada bidang yang terekpos.
"minggir, dan pakailah pakaianmu. apa kau akan menjadi model dewasa?" Lira mendorong Shean dengan tangannya, namun pemuda itu tidak bergerak.
"ada apa lagi? aku mau memakan coklat ini" kata Lira tanpa curiga apapun, dia masih tetap santai.
Shean menatap Lira tajam, namun Lira tidak goyah karenanya. entah dia tidak peka atau memang sedang memikirkan sesuatu hal.
Lira berjalan kesamping untuk melewati Shean, namun jalannya terhalang oleh tangan kekar Shean yang saat ini menempel dipintu.
Walaupun posisinya sudah seperti itu, Lira benar benar tidak goyah sama sekali. Sebuah ide terbesit dipikirannya, dia tau kalau Shean tengah menggertaknya dengan tatapan mengintimidasinya itu.
Sebuah pemikiran Liar melintas dipikirannya. Tiba tiba dia melingkarkan tangannya dileher Shean dan membuat siempunya tertegun. Pandangan mereka bertemu, mata indah Lira membuat Shean membeku seketika.
Lira mendekatkan wajahnya dengan wajah Shean, dan tanpa sadar Shean melepaskan tangannya dari pintu sehingga itu membuat jalan bagi Lira keluar dari kukungannya.
__ADS_1
Semakin dekat Lira mendekatkan wajahnya dengan memejamkan mata, begitu pula dengan Shean, namun sedetik kemudian Lira tersenyum miring. Kemudian melesat kabur meninggalkan Shean yang kini tengah menjatuhkan rahangnya karena perbuatan Lira, dan dirinya yang tertipu karenanya.
"Rasakan. memangnya aku takut padamu?" Lira tersenyum menang.