
Tiba di teras rumah Balin tidak menemukan sosok Gia. Ternyata yang ia harapkan tak sesuai. Gia pergi entah kemana.
Balin meraih kunci mobil, mengeluarkan mobil dari garasi. Di sana mobil milik Gia ada, berarti wanita itu pergi berjalan kaki.
Sepanjang jalan komplek pandangannya ke penjuru arah. Mencari sosok itu tapi sayangnya sosok itu tak ditemukan. Sampai pencarian ke tempat-tempat keramaian.
"Dimana kamu Gia? tolong jangan melakukan sesuatu yang bodoh. Aku minta maaf sayang..... kamu boleh salah paham tapi sumpah aku mencintaimu dengan tulus. Kembali lah pulang," gumam Balin dengan mata memerah.
Karena cukup panik ia turun dari mobil, satu-persatu menanyakan kepada orang-orang di sana sembari menunjukan foto Gia.
"Ya Tuhan kamu kemana Gia?" Balin mengusap wajah frustasinya itu berkali-kali.
Malam semakin larut hingga jalanan sudah sepi. Rintik hujan mulai menyirami Ibu kota, seakan tahu isi hati yang menyelimuti hati pria tersebut.
Balin berjalan, duduk di kursi yang terdapat di sebuah taman kota. Ia frustasi karena tidak menemukan Gia. Ia tak peduli dengan guyuran hujan yang mulai turun deras.
Pria itu tak tahan lagi hingga mengeluarkan air mata. Ya ia menangis dalam diam, biarlah malam serta hujan ini yang menjadi saksi bisu hatinya sekarang.
"Pulanglah sayang.....aku minta maaf!" Lirih nya seraya mengusap foto Gia di layar ponselnya.
TING
Pesan masuk di ponselnya hingga membuat lamunannya membuyar.
__ADS_1
[Bawa Gia pulang Nak. Bicarakan dengan hati dingin.]
Pesan itu tertulis. Balin tersenyum getir setelah membaca pesan tersebut.
Tidak ingin mertuanya menunggu dan berharap, ia segera beranjak. Masuk kedalam mobil dengan tubuh basah kuyup.
Sepanjang jalan bayangan wajah Gia terus-menerus menyelimuti isi kepalanya. Rasa takut dan khawatir tak bisa ia pendam lagi.
Tiba di rumah balin segera masuk dengan langkah gontai serta wajah muram. Ia pulang tanpa berhasil membawa sang istri.
"Nak mana istrimu?" suara bariton tepat di ruang keluarga menghentikan langkah gontai tersebut. Balin mendongak menatap pria paruh baya tersebut. Raut wajah sembap tak bisa disembunyikan di guratan wajah menua tersebut.
"Aku tidak dapat menemukan Gia Pi. Sudah dicari ke mana-mana tapi aku tak menemukannya," tutur Balin dengan nada serak.
"Papi tenang," dengan secepat kilat Balin merapat tubuh itu yang hampir saja tersungkur ke lantai.
"Gia, Gia....!" Lirih nya dengan wajah pucat.
Rasa penyesalan kini menjeratnya, apa yang diduga tak sesuai yang terjadi. Ia anggap Gia hanya mengancam saja tapi rupanya anak itu nekat.
"Sayang Papi minta maaf, kembalilah!" Gumamnya dengan sendu.
***
__ADS_1
Di Bandara
Gia duduk di ruang tunggu, mendekap jaket yang dibelikan Putra untuknya sebelum berangkat ke bandara.
Satu-persatu penumpang melakukan pengecekan, dan segera masuk kedalam pesawat.
Didalam pesawat Gia duduk dengan wajah sendu. Pandangannya tak lepas dari jendela, kebetulan ia duduk di sebelah jendela.
Putra sebenarnya ingin membeli tiket first class, tapi itu dilarang oleh Gia. Ia tidak ingin semakin merepotkan Putra.
Ini pertama kalinya ia naik pesawat kelas ekonomi, berbaur dengan penumpang kelas bawah. Mulai sekarang ia harus terbiasa jauh dari kemewahan yang selama ini mengelilinginya.
Pesawat mulai mengudara.
"Aku sudah membuka hati, dan rasa cinta ini mulai tumbuh tapi semuanya hancur dalam sekejap. Kamu berhasil masuk kedalam hatiku hingga rasa sakit, kecewa ini tak menghilangkan perasaan itu. Aku mencintaimu.....! Ini sangat bodoh bukan? jelas-jelas perbuatanmu itu tak bisa dimaafkan," batin Gia tanpa sadar meneteskan air mata.
Seketika bayangan wajah paruh baya terlintas. Dimana orang satu-satunya yang ia miliki.
"Papi Gia sangat menyayangi Papi tapi Papi selalu mengecewakan Gia. Kadang Gia berpikir jika Gia bukanlah putri kandung Papi," gumamnya kembali dengan dada sesak.
Bersambung.....
🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi