Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Key Tau


__ADS_3

Beberapa minggu kebelakang ketika Key masuk kedalam kamar Shean, dia menemukan sesuatu yang membuatnya sangat terkejut sekaligus kecewa dengan adiknya itu. Saat itu Key bergegas pergi untuk menemui pengacara keluarganya ditempat orang itu bekerja, namun setelah Key sampai, pria itu tidak berada disana dan sedang berada diluar kota. Alhasil Key harus menunggu selama dua hari untuk mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya.


"maaf tuan Key, saya hanya menjalankan perintah tuan Shean" kata seorang pria paruh baya didepan Key.


Key tidak mengatakan apa pun, wajahnya sudah merah padam menahan marah, dia ingin menghajar orang didepannya namun pria itu hanya lah seorang pengacara.


Orang didepan Key yang sedang menundukan pandangan diatas sofa adalah pengacara keluarga Pratama.


Beberapa menit yang lalu Key sampai di sebuah apartement dimana pengacara itu tinggal, dan langsung membanjiri dia dengan banyak pertanyaan. Setelah mengetahui kebenarannya, Key sangat kecewa sekaligus merasa bersalah. Key tau Shean memang orang yang dingin dan tidak banyak bicara, dia juga tau jika Shean masih mengharapkan mantannya. Namun Key tidak pernah menyangka Shean akan memikirkan hal itu, yang bisa membuat tuan pratama marah besar jika beliau tau.


"kenapa kau menurutinya?" tanya Key setelah menetralisir amarahnya dan duduk di sofa tunggal.


"sa-saya tidak berani menolak, tuan" jawab pengacara itu.


"lalu kenapa kau tidak memberi tau ku atau papah tentang 'Perjanjian Pernikahan' itu?"


"tuan Shean melarangnya. Dan mengancam akan memecat saya" jawab pengacara itu jujur.


"lalu- ah sudahlah..." Key hanya mengehembuskan nafas kasar, percuma jika memperdebatkan masalah itu sekarang.


Key berdiri dari duduknya dan menatap tajam pria yang lebih tua darinya itu.


"untuk sekarang, jangan beri tau yang lain apalagi papah! aku yang akan mengurusnya" kata Key penuh dengan perintah.


Pengacara itu hanya mengangguk tidak berani menatap mata Key yang sama tajamnya dengan Shean ketika marah.


Key beranjak dari apartement itu dan keluar dengan membanting pintu apartement, emosinya masih belum reda.


"kalau terus seperti ini, aku bisa mati karena tatapan tajam keluarga pratama (berlebihan)" monolog pengacara itu dan mengelus dadanya pelan.


☆☆☆


BRAK


Suara pintu dibanting dengan keras membuat seseorang yang duduk dikursi kebesarannya langsung menatap ke arah pintu yang terbuka. Seseorang dengan tinggi yang tidak beda jauh darinya sedang berdiri dengan tatapan tidak bersahabat.


"kak Key?" tanya Shean setelah tau siapa yang ada didepan pintu ruangannya.


"ada apa kak?" tanya nya lagi.


Key tidak menjawab apa pun, dia masuk kedalam ruangan dan menguci pintunya. Shean yang melihat itu otomatis berdiri, karena sikap Key yang tidak seperti biasanya, ramah dan murah senyum. Key berjalan mendekati Shean dengan langkah pasti.


"kak-"


BUG

__ADS_1


Key melayangkan sebuah pukulan keras ke rahang tegas Shean, membuat siempunya langsung terhuyung kebelakang.


Shean mentapa Key penuh tanya, sorot matanya tidak menunjukan kekesalan. Dia masih memegangi pipinya yang sudah terlihat warna biru keunguan.


Key masih memancarkan kilat dimatanya dan sepertinya akan kembali melayangkan pukulan diwajah tampan Shean. Dan benar saja, Shean kini mengusap darah yang keluar dari sela sela bibirnya karena pukulan kedua dari Key.


"..."


"..."


Setelah dua pukulan yang dilayangkan Key, untuk beberapa saat keduanya tidak ada yang berbicara. Namun setelah itu, Key menghembuskan nafas kasar dan mendudukan dirinya dikursi.


Shean masih berdiri dengan wajah tampan yang sudah dihiasi sedikit warna yang tidak indah, dia menatap datar kakaknya itu.


"duduklah!" kata Key.


Shean menuruti perkataan Key dan duduk kembali dikursi kebesarannya yang berhadapan dengan Key.


"sebenarnya aku ingin marah padamu..." Key menjeda sejenak "tapi kurasa dua pukulan sudah cukup" kata Key dan masih dengan nada tidak bersahabat begitu pula dengan ekspresinya.


"aku mendatangi pengacara tua itu" kata Key.


Shean membolakan matanya mendengar perkataan Key, namun sedetik kemudian wajah datarnya kembali lagi. Dia tidak perlu menanyakan kenapa Key menemui pengacara keluarganya, pasti Key sudah melihat perjanjian itu. Sebab Key tidak pernah sekali pun berurusan dengan pengacara, dan juga Shean yang menyadari perubahan tata letak buku di kamarnya.


"kurasa tidak perlu ku beri tau kenapa aku kesana.." kata Key "aku tidak akan memberi tau yang lain apalagi papa. Tapi perbaiki ini semua! namun jangan harap aku sudah memaafkan kelakuanmu She".


Huh


Shean menghela nafas dalam, dia memutar kursi kebesarannya kearah jendela. Dia sudah tidak mood melanjutkan pekerjaan, dan tidak berniat untuk sekedar mengobati lukanya.


☆☆☆


Shean menatap datar tempat tidur yang rapi dan bersih itu, dimana seharusnya seseorang berada disana. Sudah beberapa hari Lira tidak berada dikediaman pratama, dan Shean juga tidak dapat kabar dari Lira. Shean tau Lira berada dirumah dady nya, tapi dia tidak bisa mendatanginya dan mengajak Lira untuk pulang.


Shean tidak ingin Lira bertanya tentang luka diwajahnya yang cukup kentara, dan Shean yang masih harus memikirkan cara untuk memperbaiki semuanya.


Huh


Shean kembali menghela nafas dalam.


Dia berjalan kearah sofa panjang dikamarnya, yang memang dia gunakan untuk tidur. Shean tidak ingin tidur di tempat tidur, dimana Lira seharusnya disana.


Shean mendudukan dirinya diatas sofa dan bersender pada punggung sofa. Sebelah tangannya dia simpan dikeningnya, dan matanya terpejam. Beberapa saat Shean dalam posisi seperti itu sampai sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.


Bisa kita ketemu She, aku rindu

__ADS_1


Begitulah isi pesan yang dikirim oleh Selena.


Shean bergegas masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan badannya yang lengket karena keringat, dan mengingat dia yang baru pulang dari kantor.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Shean berkutat disana, dia sudah memakai pakaian lengkap saat keluar dari kamar mandi. Pakaian yang dikenakannnya cukup rapih dan sepertinya dia akan keluar menemui seseorang.


Setelah dirasa dirinya sudah benar benar rapi, Shean menyambar kunci mobil yang tergeletak diatas meja. Kemudian bergegas keluar dari kamarnya.


☆☆☆


Disebuah restoran ternama dikota S, terduduk seorang wanita cantik menjurus ke sexy, tengah tersenyum kecil menatap keluar jendela. Menunggu seseorang yang sudah dia rindukan karena sudah beberapa minggu tidak ditemuinya.


Sret


Kursi didepannya ditarik oleh seseorang, dan duduklah pria tampan dengan wajah tanpa ekspresi.


"She kamu sudah datang?" Selena tersenyum senang "kamu kemana saja beberapa minggu ini, aku kangen tau" katanya manja.


Shean hanya menanggapinya datar "ada sesuatu yang harus aku katakan" kata Shean.


"mm. apa?" Selena masih berkata manja.


"jauhi aku. kita sudah tidak ada hubungan lagi" kata Shean.


"APA? tidak. Kenapa kamu mengatakan itu? apakah karena wanita itu" Selena mulai emosi.


"tidak, ini keputusanku sendiri"


"jangan bohong She! kamu masih mencintaiku kan? iya kan She?" Selena berkata sedikit keras, sampai sampai beberapa pengunjung restoran menengok kearahnya.


"kau benar, aku memang mencintaimu, tapi itu dulu sebelum kau menghianatiku untuk kedua kalinya" kata Shean.


"tidak She, beri aku kesempatan" mohon Selena, menggenggam tangan Shean diatas meja.


Shean menarik tangannya pelan dan berdiri dari duduknya, tatapannya tidak menunjukan apa apa.


"kuharap kau bisa melakukannya. Maaf aku tidak bisa memberimu kesempatan"


"tunggu She" selena menahan tangan Shean "apa kau mulai mencintai wanita itu?" tanya nya.


Shean terdiam beberapa saat, namun kemudian dia melepas tangan Selena dengan tangan sebelahnya lagi.


"Mungkin" jawab Shean tersenyum tipis.


Selena hanya bisa duduk mematung menatap punggung Shean yang sudah semakin jauh darinya.

__ADS_1


"aku tidak akan menyerah She. aku akan merebutmu kembali" Selena tersenyum ngeri.


__ADS_2