Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Cemburu


__ADS_3

Sudah enam bulan pernikahan Lira dan Shean, namun mereka masih tidur ditempat yang berbeda, bahkan belum melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar berpelukan.


Shean yang selalu gagal untuk melakukan lebih ke Lira karena sipengganggu Diqi yang selalu datang disaat yang tidak tepat, dan Lira yang masih belum yakin dengan perasaannya.


Suasana dikediaman pratama mulai berangsur angsur membaik, setelah kejadian waktu itu. Min yang dengan berbesar hati untuk memaafkan istrinya dan juga hubungan Dea dan Sam yang sudah ada perkembangan.


Dipagi hari Lira sudah rapi mengenakan setelan jeans dan hoody dengan warna yang senada juga sepatu sneaker warna putih yang dia pakai dan tidak lupa dengan tas kecil yang disampirkan dibahu kirinya.


Lira turun dari lantai dua dan berniat menyapa yang lainnya yang sedang berada di meja makan, dia tidak berniat untuk bergabung hanya sekedar menyapa.


Kebetulan hari minggu, semua libur dan berada dirumah dengan pakaian santai mereka, kecuali Lira sendiri tentunya yang sudah rapih untuk jalan dengan Say.


"pagi semuanya.." sapa Lira semangat.


"wah kamu mau kemana ra?" tanya Diqi yang tengah duduk itu.


"mau keluar" jawab Lira singkat.


"bareng kak Shean?" tanya Bym.


"tidak. aku bareng teman" jawab Lira lagi.


Teman?


Semua yang ada dimeja makan bertanya tanya siapa teman Lira, karena semenjak Lira menjadi bagian dari keluarga mereka, Lira belum pernah membawa teman kesana. Namun berbeda dengan Shean yang dari tadi pokus dengan makanannya, dia sudah tau siapa orang yang Lira maksud.


"nona. ada yang mencari anda" kata asisten rumah tangga yang berada didepan pintu.


"suruh masuk saja!" titah Lira pada asisten rumah tangga itu.


Tak lama setelah itu, seorang pria tampan dengan setelan jas warna abu abu, datang menghampiri mereka dengan langkah santai namun tetap elegan.


"hai ra" sapa Say lelaki tampan yang baru saja datang itu. Suara Say yang merdu dan lembut membuat orang yang mendengarnya jadi damai sendiri, kecuali satu orang yang tengah mengeluarkan api dimatanya (berlebihan).


"wah tampan sekali ra. siapa ra?" tanya Diqi. Dia yang notabenenya adalah seorang laki laki saja bilang kalau Say tampan, apalagi perempuan yang melihatnya.


Namun walaupun Say tampan, tapi masih kalah tampan oleh Shean, cuman karena Say yang murah senyum menjadi nilai plus sendiri dimata orang lain.


"dia Say temanku" Lira memperkenalkan dan Say hanya tersenyum simpul untuk semuanya.


"wah dia-"


BRAK


Shean bangun dari duduknya dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Key yang melihatnya hanya bisa terkikik kecil.


☆☆☆


"kau cemburu?" tanya Key yang kini berada dikamar Shean.


Shean dari tadi terus mempokuskan diri pada layar laptopnya dan entah apa yang dia lakukan. Dia bahkan tidak menyadari jika Key masuk kedalam kamarnya jika Key tidak bersuara.


"Shean"

__ADS_1


"..."


"jadi kau beneran cembu-"


"tidak" akhirnya Shean membuka suara.


"Ohh benarkah? lalu kenapa kau tiba tiba pergi dan tidak menyelesaikan sarapanmu?" tanya Key tersenyum miring.


"itu.... aku kenyang" jawab Shean.


"ohh. terus kenapa kau tidak menyambut sahabatnya Lira tadi?" Key masih belum selesai dengan acara menggodanya.


"itu karena..." Shean sepertinya ragu untuk menjawab pertanyaan Key, atau bahkan dia tidak tau harus menjawab apa.


"ya sudahlah tidak usah dijawab. kamarmu rapih juga" tiba tiba Key mengganti topik pembicaraan, membuat Shean lega karenanya.


Key berjalan mengelili kamar Shean dan menelisik setiap sudut kamar adiknya itu, dia cukup kagum dengan kamar Shean yang simple dan rapih. Shean melanjutkan acara menatap layar laptopnya dan tidak mempedulikan apa yang sedang Key lakukan.


Tiba tiba Key berhenti disebuah rak buku kecil yang ada disana, walaupun kecil rak itu cukup banyak diisi dengan buku buku namun bukan novel atu komik melainkan buku buku pengetahuan. Key menyentuh buku buku itu satu persatu dan tidak berniat untuk membacanya atau sekedar mengambil buku itu dari rak.


Langkahnya terhenti diujung rak kecil itu dan setelah itu dia...


"Shean aku pergi dulu" kata Key dan langsung pergi dari kamar Shean tanpa menunggu jawaban darinya.


Shean juga hanya bergumam tanpa mengalihkan perhatiannya pada benda tak bergerak itu. Dan dia juga tidak menyadari jika Key baru saja pergi dengan raut wajah yang rumit dan sulit diartikan.


"ini salah"


Key keluar dari kamar Shean dengan langkah cepat dan turun kelantai satu, kemudian keluar dari rumah megah itu dengan terburu buru.


☆☆☆


"ra. kita mau kemana setelah ini?"


Lira dan Say sedang berada disebuah Mall yang cukup besar dikota S dan sedang berkeliling untuk sekedar menikmati keramaian.


"mm kemana ya?" Lira terlihat berpikir "bagaimana kalau kebioskop saja?" usul Lira.


"baiklah"


"kebetulan hari ini film fantasi kesukaan ku baru saja rilis" kata Lira antusias "AYO" Lira menarik tangan Say menuju tempat pembelian tiket, sedangkan Say hanya tersenyum tipis.


Kini Lira dan Say sedang menikmati film kesukaan Lira dengan tenang, kalau saja orang ditempat duduk belakang tidak membuat suara suara yang aneh.


"suara apasih itu?" tanya Lira risih karena pokusnya terganggu.


Sedangkan Say hanya bisa tersenyum getir dengan tingkah penonton dibelakang mereka.


"padahal ini film pantasi, bagaimana kalau film dewasa" gumam Say.


"hah?"


"tidak ada. dan fokus saja pada film" titah Say.

__ADS_1


Lira akhirnya mempokuskan kembali perhatiannya pada layar besar didepannya itu dengan wajah yang serius, karena memang dia sangat menyukai film itu.


Setelah satu jam setengah menikmati film didalam bioskop, kini Lira dan Say sudah berada disebuah restoran didalam Mall itu, dan sedang menunggu pesanan datang.


Beberapa menit kemudian makanan datang dan Lira sudah ngiler dengan melihatnya saja.


"wahh ini terlihat enak" kata Lira dengan mata berbinar.


"kalau begitu makanlah" kata Say.


Tanpa ragu lagi Lira langsung memasukan makanan didepannya kedalam mulut dengan rakus, dan tidak mempedulikan mulutnya yang belepotan.


"kebiasaan sekali" Say mengambil tisyu dan menyeka mulut Lira dengan lembut, Lira menyambutnya dengan senang hati.


"habis aku lapar" kata Lira dan kembali memakan makanannnya dengan rakus.


Say hanya geleng geleng kepala dengan sikap Lira yang tidak berubah dari dulu.


Namun ketika dua sejoli itu tengah menikmati makanan mereka, ada sepasang mata yang melihat interaksi keduanya dengan tatapan tajam dan menusuk. Namun disisi lain ada juga seseorang yang sedang terkikik kecil melihat situasi itu.


☆☆☆


Lira sampai dirumah megah itu sekitar jam sepuluh malam dan itu sudah terbilang larut. Dia sedikit merasa bersalah, dan entah kenapa? dia juga tidak tau.


Lira membuka pintu kamar dan ternyata tidak dikunci, kemudian masuk kedalam kamar lalu mengunci pintu dari dalam. Dia melangkah menuju tempat tidur dan tidak berniat membangunkan seseorang, namun ketika dia menengok kearah sofa tidak ada Shean disana.


Lira tidak ingin ambil pusing, mungkin Shean sedang berada dikamar mandi. Lira tidak berniat untuk membersihkan diri karena lelah seharian jalan jalan dengan Say, dan dia langsung merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Lira memejamkan matanya untuk menuju alam mimpi sebelum ada suara ketukan pintu yang terdengar.


"siapasih malam malam..?" Lira sedikit kesal namun tetap berjalan menuju pintu untuk membukanya.


Ceklek


"Aduh kenapa ini?" badan seseorang tiba tiba roboh kearahnya.


"hah hah. ra bawa dia masuk, sungguh berat sekali badannya" Diqi terlihat terengah engah.


"kenapa dengannya?" tanya Lira dan masih setia menopang tubuh Shean dengan sedikit kesusahan.


"dia mabuk berat dan sudah pingsan dari tadi. Kalau begitu aku pergi dulu ra, oh ya lain kali jangan jalan dengan pria lain..." kata Diqi dan berlalu pergi dengan langkah gontai.


Lira hanya mengerutkan keningnya, namun kemudian membawa tubuh Shean berbaring ditempat tidur.


"memang berat sekali" kata Lira dan mengusap dahinya yang tidak berkeringat.


"sebenarnya berapa botol yang kau habiskan?" tanya Lira entah pada siapa, karena Shean sedang tidak sadar.


"jangan pergi dengannya" gumam Shean disela sela tidurnya.


"hah?" Lira teralihkan dengan Shean yang tiba tiba mengigau.


"aku cemburu"


Blus

__ADS_1


Pipi Lira tiba tiba merona dengan perkataan Shean yang belum tentu ditujukan untuknya. Dengan sedikit ragu lira mendekati Shean, dan membenarkan posisi tidur pria jangkung itu. kemudian dia menyelimutinya sampai sebatas dada, dan beranjak dari tempatnya berdiri.


 


__ADS_2