Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 49. Tidak Akan Kembali


__ADS_3

Di jalan penuh keramaian Gia berjalan tanpa arah. Ia berjalan dan terus berjalan menyusuri jalanan padat. Maklum sekarang adalah malam minggu jadi para muda mudi di Ibu kota masih bersantai di segala tempat.


Dengan dada sesak, kecewa dan sakit hati ia membawa kaki itu terus melangkah tanpa menoleh ke arah belakang.


Sepanjang jalan ia tak henti-hentinya menggerutu rahasia yang disembunyikan oleh orang tua dan juga suaminya, eh bukan sekarang tepatnya mantan suami.


"Aku harus kemana?" gumamnya karena ia tak membawa uang sepeserpun. Bagaimana mungkin ia pergi dari kota ini, sedangkan ia tak punya uang.


Sesaat ia duduk di salah satu kursi di area cukup sepi, khususnya di gerbang perumahan. Ia berpikir kerasa bagaimana caranya ia segera pergi dari kota ini. Karena bisa saja orang tuanya secepat itu menemukan dirinya.


Seketika matanya berbinar ketika mendapat jawaban. Ia baru sadar jika sekarang ia berada di gerbang perumahan yang ditempati asistennya.


Tanpa berpikir panjang Gia beranjak, lalu berjalan mencari rumah yang ditinggali oleh Putra.


Tiba di alamat yang ditujukan ia langsung mengetuk pintu.


Tok tok


Cukup lama ia menunggu. Bisa jadi Putra sudah tidur atau masih kerja.


Pintu kembali ia ketuk sampai pada akhirnya lampu ruang tamu dinyalakan, itu nampak dari jendela.


KLEK


Pintu akhirnya terbuka.

__ADS_1


"Bu Gia," ujar Putra cukup kaget. Tadi ia melihat dari celah jendela, makanya ia langsung membuka pintu itu dengan cepat.


"Aku minta maaf sudah menganggu tidurmu. Boleh aku masuk?" ucap Gia dengan penampilan sungguh tak teratur lagi.


"Silahkan Bu." Putra langsung memoersilahkan. Bayak pertanyaan yang ada di kepalanya karena kedatangan sang atasan. Putra adalah asisten Balin di perusahaan.


Gia duduk di sofa dengan wajah sendu. Sedangkan Putra berlalu ke dapur untuk mengambil minum, karena melihat penampilan Gia tak seperti biasanya.


"Bu silahkan minum dulu." Putra meletakan segelas air putih di atas meja sofa.


"Terima kasih Putra," sahutnya sembari meraih gelas itu. Tentu saja rasa haus menderanya karena sejak tadi ia tak henti menangis.


Hening itulah yang terjadi. Putra ingin sekali bertanya apa yang sedang terjadi tetapi ia sungkan dan tak ingin lancang.


"Putra bisa minta tolong?" lirih Gia dengan tatapan memohon.


Gia menarik nafas panjang. Ia sebenarnya tidak ingin menceritakan apa yang terjadi, tapi ia ingin Putra membantunya untuk bisa pergi dari kota ini.


"Papi dan Balin jahat." Gia menceritakan inti utamanya.


Putra tersentak kaget mendengar apa yang diceritakan Gia. Selama ini ia tak pernah tahu.


"Bantu aku Putra. Aku ingin pergi dari kota ini, untuk bersembunyi dari keluargaku. Tapi aku sama sekali tak punya uang, aku pergi tanpa membawa apapun," pungkas Gia.


"Apa Bu Gia yakin?" tanya Putra menyakinkan karena masih dalam mode emosi.

__ADS_1


"Aku terlalu sakit hati dan ingin mengubur dalam-dalam perasaan ini," ucapnya.


Putra menghela nafas.


"Bu Gia ingin pergi ke kota mana?" tanyanya.


"Sejauh mungkin, tempat yang tak bisa ditemukan oleh siapun termasuk keluarga ku," imbuhnya.


"Di kota Pontianak, saya memiliki seorang Bibi. Apa Bu Gia berminat?"


Seketika Gia melebarian mata mendengar apa yang dikatakan Putra.


"Aku berminat Putra. Tolong berangkatkan aku sekarang juga karena aku tidak ingin mereka mengetahui keberadaan ku sekarang," ucap Gia dengan penuh semangat.


"Baiklah, biar saya urus semuanya."


"Tapi rahasiakan semua ini. Apapun yang terjadi jangan pernah beritahu Papi dan yang lainnya."


"Iya Bu."


"Terima kasih Putra." Gia merasa lega sekarang.


Bersambung.....


🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2