Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Kunjungan Ayah Mertua


__ADS_3

Sinar matahari mulai memasuki celah jendela kamar yang masing tertutup tirai. Sepasang suami istri yang masih setia terlelap diatas tempat tidur, salah satunya sudah mulai terusik karena sinar mentari yang mengenai kedua matanya.


Lira menggeliat tanda dia akan segera membuka kedua matanya yang sudah cukup lama tertutup, sepertinya dia cukup tidur tadi malam karena pekerjaannya yang tidak terlalu menuntut. Perlahan Lira membuka matanya, dia merasakan sesuatu yang melingkar dipinggang rampingnya.


"ini.." Lira berusaha mengumpulkan kesadarannya "ah.. semalam Shean mabuk dan tidur disini" Lira berbalik dan melihat Shean yang masih terlelap tidur disampingnya, ia hanya tersenyum tipis.


Lira segera melepas tangan Shean yang melingkar dipinggangnya perlahan, hampir saja terlepas sempurna, tangan itu kembali memeluknya erat. Lira melirik pelaku yang melakukannya, Shean masih setia menutup matanya dengan tenang.


Lira kembali berusaha melepaskan pelukan erat Shean dipinggangnya, kali ini Lira berhasil dan langsung turun dari tempat tidur. Setelah menapakan kakinya dilantai, Lira langsung bergegas kekamar mandi tanpa menyibakan tirai jendela terlebih dahulu, seperti yang dia lakukan biasanya.


Setelah lima belas menit Lira berkutat di dalam kamar mandi, dia keluar dengan pakaian yang sudah lengkap. Lira melirik ke atas tempat tidur dan seseorang masih setia terlelap disana, sepertinya tidak terganggu dengan sinar matahari yang sedikit mengenai wajahnya.


"dasar..." hampir saja Lira ingin mengumpat.


Lira meyibakan tirai jendela yang membuat sinar mentari langsung menerobos masuk dengan mulus, Shean hanya menggeliat dan membalikan posisinya memunggungi jendela. Lagi lagi Lira hanya tersenyum, dia melihat jam di atas nakas, jam tujuh pagi.


"She.." panggil Lira lembut, Shean tidak menyahut.


"She" kali ini Lira menepuk bahu Shean.


"Umm" Shean hanya menggumam.


"She-"


Tok tok tok


Lira tidak melanjutkan acara membangunkan Shean, dia berjalan mendekati pintu dan membukanya.


"kak Dion?" Lira sedikit terkejut dan tanpa sadar memekik keras.


"kenapa? kaget?" tanya Dion dengan senyuman jahilnya.


Lira memeluk kakaknya singkat "kakak kenapa bisa ada disini?" tanya Lira.


"sebenarnya kakak tidak berniat kesini, tapi dady memaksa kakak ikut. ya sudah deh" ekspresi Dion seakan menyesal.


Lira hanya bisa cemberut lucu mendengar nada penyesalan kakaknya, Dion sadar adiknya sedang merajuk.


"Ok, sebenarnya kakak tidak terlalu menyesal karena akan bertemu dengan adik tersayang. Jadi jangan merajuk seperti anak kecil Ok?!" kata Dion dan mengusak rambut Lira.


"mm. Tapi tadi dady?"


"Oh ya ampun" Dion menepuk keningnya "dady ada dibawah, tadi kakak diminta untuk membangunkanmu. Ternyata kamu sudah bangun" jawab Dion.


Lira hanya ber oh ria.


"Siapa?" tanya seseorang dibelakang Lira yang ternyata Shean yang terbangun karena obrolan Lira dan Dion.


"Oh She, kau sudah bangun?" Lira berbalik menatap Shean.


"mm"


"dady ada dibawah, aku akan menemuinya" kata Lira.

__ADS_1


"tuan Broto?"


"iya"


Shean mengangguk tanda setuju. Lira langsung turun kebawah untuk menemui sang dady, meninggalkan Dion yang kini tengah menatap Shean sinis.


☆☆☆


"Dad?" panggil Lira setelah berada dilantai bawah.


"Lira sayang" kata tuan Broto dan berdiri dari duduknya.


Ngomong ngomong tuan Broto sedang duduk diruang tamu ditemani Key, Min dan juga Jeni. Lira berjalan menghampiri tuan Broto, kemudian memeluknya erat.


"tumben dady datang kesini?" tanya Lira setelah melepas pelukannya.


"ya dady ingin melihat putri dady, memang tidak boleh?"


"Boleh.." jawab Lira.


"ya dad, tadi juga Lira bertanya seperti itu padaku" Dion datang dan langsung duduk disamping Lira.


"Sepertinya Lira tidak ingin kita berkunjung kesini dad" lanjut Dion dengan muka sedih yang dibuat buat.


"bukan begitu, hanya tumben saja" bantah Lira "ikatan darah membuatku tidak pernah bisa 'mendengar' mereka" batin Lira.


"Ekhem.." deheman kecil membuat atensi kelima orang yang ada disana beralih menatap Key.


"Euh, mana Shean?" tanya Key.


"jam berapa sekarang, dia baru mandi. apa dia ingin telat ke kantor" gerutu Key, dia berdiri dan membungkuk pada tuan Broto "saya permisi dulu om Broto, mau memastikan anak itu.. maksudnya Shean sudah siap apa belum" kata Key.


"silahkan" jawab tuan Broto tersenyum ramah.


"kalau begitu saya juga pamit siap siap ke kantor" kata Min langsung membungkuk dan berpamitan.


Begitu juga dengan Jeni yang pergi ke meja makan, membantu asisten rumah tangga menyiapkan sarapan.


"sekarang hanya kita bertiga, mereka meninggalkan ku" kata Lira.


"nada bicaramu seakan menyesal" kata Dion mengangkat sebelah halisnya.


"tidak.." bantah Lira.


Tuan Broto yang awalnya duduk dikursi tunggal berpindah kesamping kanan Lira, ekspresinya sedikit serius membuat Lira mengerutkan halis.


"kenapa dad?" tanya Lira heran.


"kamu baik baik saja disini?" tanya tuan Broto aneh.


"maksud dady?" Lira malah balik bertanya.


"tidak, hanya saja.. apa Shean memperlakukanmu dengan baik disini?"

__ADS_1


"tentu.. tapi kenapa dady tiba tiba bertanya seperti itu? Seakan dady meragukan Shean" tanya Lira.


"itu..." jeda tuan Broto, dia melihat kearah Dion yang juga tengah menatapnya.


"kak?" kini Lira beralih ke Dion, tapi siempunya malah memalingkan wajahnya pura pura tidak tau.


"Kak-"


"tuan Broto?!"


☆☆☆


Shean duduk dikursi panjang yang bersebrangan dengan Lira, Dion dan juga sang ayah mertua, tuan Broto. Dia hanya diam dengan wajah datarnya, namun masih menunjukan rasa hormat.


Setelah sarapan bersama dengan penghuni rumah yang lain, tuan Broto dan Dion duduk kembali diruang tamu bersama Lira dan Shean. Sedangkan yang lainnya mempunyai urusan masing masing, membiarkan Shean menghadapi tamu yang tidak diundang. Jangan salah! tuan Broto dan Dion memang datang tanpa diudang.


Jam sudah menunjukan pukul delapan pagi, namun Shean masih meladeni tamunya saat ini, dan belum beranjak untuk pergi kekantor. Hari senin, seharusnya dia tidak telat bekerja meski dia seorang CEO diperusahaannya. Namun Key bilang akan mengurus pekerjaan Shean sementara, jadi dia tidak perlu terburu buru mengusir mertuanya (hehe. bercanda).


Setelah cukup lama keheningan tercipta, akhirnya tuan Broto angkat bicara.


"She bagaimana kabarmu?" tanya tuan Broto dan masih menyunggingkan senyum ramahnya.


"saya baik tuan" jawab Shean ramah.


"jangan panggil tuan! dady saja. kamu sudah menjadi menantu saya, jadi jangan terlalu pormal" kata tuan Broto.


"ya dad" Shean meralat.


"Sudah berapa bulan kalian menikah.. seharusnya sudah cukup untuk bisa memberikan dady cucu"


Uhuk uhuk uhuk


Lira yang tengah minun harus terbatuk batuk karena perkataan mendadak dady nya, begitu juga dengan Shean yang menunjukan keterkejutannya. Untung dia sedang tidak minum, namun telinganya agak memerah.


Tuan Broto dan Dion yang melihat tingkah kedua sejoli yang bereaksi berlebihan itu pun mengerutkan kening, ia mulai mengingat kembali perkataan Dion sebelum mereka datang ke kediaman pratama.


"kalian kenapa?" tanya Dion.


"iya, apa perkataan dady salah?" tanya tuan Broto.


"ti-tidak kok dad, hanya tiba tiba saja" jawab Lira.


Tuan Broto saling bertukar pandangan dengan Dion.


Diperjalanan menuju kediaman pratama, kesekian kalinya Dion menunjukan ke tidak sukaannya dengan Shean, apalagi setelah Lira mulai memiliki rasa ke Shean.


Flashback on


"sudah kesekian kalinya kamu bicara seperti itu Dion" kata tuan Broto yang sedang duduk dikursi samping Dion. Dion sendiri sedang menyetir.


"terserah dady, tapi aku tetap tidak akan pernah mengakui Shean sebagai adik iparku, meski di depan Lira aku harus bersikap baik baik saja" kata Dion.


"sebenarnya apa yang membuatmu sangat tidak menyukai Shean?" tanya Tuan Broto.

__ADS_1


"pokoknya aku tidak suka" jawab Dion dan tidak berkata apapun lagi selain pokus menyetir, namun sebenarnya ada hal yang dia simpan tapi belum bisa dia beri taukan pada dadynya.


Flashback off


__ADS_2