Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 53. Saling Mengenang


__ADS_3

Usai mencari keberadaan Gia seharian membuat Balin sedikit lelah. Ia memutuskan tidak pulang ke rumah tapi malam ini menginap di hotel, dimana tempat kejadian kesalahpahaman, hingga berakibat perginya Gia.


Ia berdiri di balkon kamar hotel. Memandang lurus ke depan dengan pandangan kosong. Menikmati lampu Ibu kota di malam itu.


"Dimana kamu Gia? jangan bersembunyi. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Kembalilah sayang....." Gumam Balin dengan raut sedih.


Ia sudah berusaha mencari dimana-mana tapi sedikitpun tak mendapat titik terang. Seakan menghilangnya Gia seperti di sembunyikan hingga sulit untuk di temukan.


Balin kembali masuk, merebahkan dirinya di sandaran tempat tidur. Kembali memperhatikan foto Gia dalam ponselnya.


Kerinduan yang amat mendalam membuatnya seperti orang gila. Sungguh ia sangat merindukan dan ingin sekali bertemu dengan sang istri.


Sampai sekarang Balin tidak membubuhkan tanda tangan di berkas yang sudah ditandatangani Gia. Bahkan berkas itu sudah ia robek dihadapan kedua mertuanya setelah kepergian Gia.


Ia usap dan cium foto dalam layar tersebut. Untuk saat ini hanya foto itu yang dapat mengobati sedikit rasa rindu amat mendalam tersebut.


***


Di rumah sederhana


Usai makan malam bersama wanita paruh baya Gia pamit ke kamarnya. Ia saat ini menata dirinya yang sepenuhnya masih mengingat Papi dan juga suaminya Balin.


Sebenarnya Gia tidak enak hati menumpang tanpa memiliki apapun. Tapi ia beruntung mengenal wanita patuh bayar yang tak lain adalah Bibi dari asistennya Putra.


Wanita paruh baya itu menerima kehadiran Gia, bahkan merasa bersyukur karena ada yang menemani dirinya di masa tua.


Tok tok


"Nak Gia," bunyi panggilan di depan pintu kamar sederhana.


Gia beranjak dari lamunannya ketika mendengar ketukan dan panggilan dari Bibi Ani. Ia pun beranjak dan membukakan pintu kamar, walau sebenarnya tak terkunci tapi ia harus menghormati orang yang lebih tua, apa lagi ia tamu di rumah sederhana tersebut.


KLEK


"Maaf Nak, Bibi menganggu. Bibi hanya ingin memberi selimut," ucap Bi Ani seraya memberikan selimut.


"Tidak masalah Bi, lagi pula Gia belum tidur," ucap Gia sembari meraih selimut tersebut.

__ADS_1


"Kamu habis menangis?" tebak Bi Ani karena mendapat jejak air mata di pelupuk mata indah tersebut.


Gia tak menjawab, ia hanya bisa menunduk sedih. Ya ketika mengingat orang tua dan juga Balin, tanpa sadar air mata itu lolos begitu saja.


"Boleh Bibi menemani kamu untuk sebentar? kebetulan Bibi belum mengantuk," ucap Bi Ani.


Gia mendongak hingga mereka saling memandang. Wajah wanita paruh baya itu tersenyum, hak itu membuat hati Gia menghangat.


"Boleh Bi, Gia malah senang," sahutnya dengan wajah sumringah menerima tawaran Bi Ani.


Mereka masuk kedalam kamar. Itu adalah kamar tamu. Hanya ada dua kamar di rumah tersebut.


"Maaf ya kamarnya seadanya saja," ucap Bi Ani tidak enak hati karena tamunya ini adalah orang kaya.


"Bibi jangan katakan itu. Gia malah sangat bersyukur karena diberi tumpangan. Terima kasih Bi," ucap Gia sembari mengusap pundak Bi Ani.


"Baguslah bila kamu tak Nak. Bibi sudah tahu apa yang kamu alami. Putra sudah menceritakan kepada Bibi, sebelum kamu tiba," pungkasnya.


Gia tersenyum getir, terpaksa menarik ujung bibirnya padahal hatinya menangis menerima kenyataan akan berakhir seperti ini.


"Menangis lah Nak, jika itu membuat hati mu puas."


Gia spontan saja memeluk wanita itu, menangis sejadi-jadinya dalam pelukan tersebut. Menumpahkan perasaannya itu dengan raungan.


"Apa tindakan Gia salah Bi?" lirih Gia dengan terisak.


Bibi mengusap rambut panjang itu. "Menurut Bibi itu salah Nak. Dengan tidak langsung kamu pergi dari permasalahan," sahut Bibi bijaksana.


"Tapi Gia sangat kecewa Bibi. Sungguh Gia kecewa ketika hati ini mulai bisa untuk menerima dan menata, tapi kekecewaan yang Gia dapatkan." Tangis Gia begitu terdengar sangat menyedihkan.


Bi Ani menghela nafas, mencoba memahami perasaan yang Gia alami. Memang tidak gampang jika ia di posisi Gia.


Kemungkinan setiap orang melakukan hal yang sama jika berada di posisi Gia. Dari kecil mendapat kekecewaan dan dipandang sebelah mata oleh Ibu sambungnya.


Ketika ia mencoba membuka hati dan menerima dengan setulus hati tapi kejadian tak terduga mengacau segala-galanya hingga semuanya hancur berantakan.


"Tenanglah Nak. Jangan menangis lagi. Tidurlah, ada Bibi yang siap menjadi teman bicara mu," ucap Bi Ani.

__ADS_1


Gia melepaskan pelukannya, mengusap air matanya yang tidak berhenti mengalir. Bi Ani membantu merebahkan tubuhnya, menyelimuti Gia sebatas dada.


"Tidurlah, tenangkan dirimu. Kamu tidak boleh larut dalam kesedihan. Buktikan jika kamu bisa," cicitnya seraya mengusap pucuk kepala Gia seperti sedang menidurkan anak-anak.


Gia terenyuh, dengan apa yang dilakukan oleh Bi Ani. Kenangan puluhan tahun yang silam kembali ia rasakan di sini. Dimana dulu ia sering diperlakukan seperti itu ketika ingin tidur. Hanya bedanya tidak ada kecupan seperti yang dilakukan oleh mendiang sang Mami.


Lambat laun Gia terlelap, melupakan sejenak permasalahan yang ia alami dalam hidupnya. Usapan itu menghantarkan ia masuk ke dalam mimpi.


Bi Ani beranjak ketika memastikan Gia benar-benar sudah terlelap. Wanita yang sudah lama menjanda itu keluar dari kamar Gia.


Selama ini ia hanya sendirian di rumah, sedangkan putra semata wayangnya berada di kota x bersama istri dan anak-anaknya.


Bi Ani memilih tetap tinggal di kota kelahirannya. Ia tidak ingin menjadi beban putra dan menantunya di sana karena mereka juga bekerja sebagai karyawan di perusahaan milik orang lain.


***


Jarum jam menunjukan angka 2, itu menandakan sudah dini hari tapi tak membuat mata pria paruh baya tersebut terpejam. Sepanjang malam yang bisa ia lakukan adalah duduk terdiam seraya memikirkan keberadaan dan keadaan putri semata wayangnya.


Kadang air mata itu keluar dengan sendirinya ketika rasa takut dan rindu itu meliputi dirinya. Bayangan wajah Gia dari yang tersenyum manis hingga berakhir menangis membuat seluruh jiwanya menghilang.


Kabar yang diberikan menantu dan orang suruhannya membuat dadanya sesak. Tidak ada harapan untuk bertemu Gia.


"Aku minta maaf Mi karena kembali menyakiti dan mengecewakan putri kita. Hingga putri kita pergi dari rumah entah kemana," lirihnya dengan pandangan kosong sembari menatap sebuah bingkai foto. Dimana itu adalah foto dirinya dan istri pertama serta Gia.


Ia mengusap foto Gia dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang pulanglah. Kamu boleh melakukan apapun kepada Papi, asalkan kamu kembali pulang. Papi minta maaf sayang.... Papi sudah gagal menjadi Ayah untuk kamu." Itulah jeritan hati pria paruh baya tersebut sembari mengusap air mata yang tak bisa ditahan lagi.


Sedikitpun ia tak memikirkan istri dan anak sambungnya yang telah angkat kaki dari kediamannya. Ia sama sekali tak peduli dimana pun mereka tinggal karena hati dan pikirannya hanya ada untuk Gia.




...Bersambung........


🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2