
Setelah Shean pulang dari kantornya, dia kembali lagi ke rumah Broto untuk mengajak Lira pulang kerumahnya.
Ketika sampai dirumah Broto, tidak ada tuan Broto atau pun Dion kakaknya Lira. Tapi Lira ada disana, dan Shean bisa langsung membawa Lira pulang kerumahnya.
Diperjalanan tak ada yang membuka suara. Shean yang pokus menyetir mobil, dan Lira yang pokus dengan ponselnya.
Sekitar pukul lima sore mereka sampai dikediaman pratama. Lira langsung turun dari mobil ketika mobil berhenti, dia tidak langsung masuk rumah melainkan menerima telepon dari seseorang.
Setelah memasukan mobil kegarasi, Shean langsung masuk kedalam rumah dan meninggalkan Lira yang sedang menerima telepon.
Lira selesai telponan dan masuk kedalam rumah besar itu, ketika baru saja selangkah dia masuk kedalam rumah, dia sudah disuguhkan pemandangan yang tidak enak.
Dea sedang terduduk di atas sofa, ditemani oleh Jeni. Sedangkan Ria dan Rina berada di sofa yang lain.
Jeni berusaha menenangkan Dea yang sedang menangis, walaupun tidak tersedu sedu, tapi itu dipastikan kalau Dea benar benar sedih.
"Ada apa ini kak?" tanya Lira setelah dia berlari menghampiri mereka.
Jeni hanya mengelengkan kepalanya, tanda dia tidak ingin memberi tau.
Sebenarnya Lira tidak perlu bertanya, dia sudah tau titik permasalahannya. Namun dia harus memastikannya.
Lira beralih menatap Ria dan Rina dengan pandangan menuntut jawaban. "kalian katakan!" kata kata Lira mutlak dan itu membuat mereka berdua mau tak mau harus menjelaskannya.
"Begini kak...." Ria sedikit ragu, dia melihat Dea dan juga Jeni bergantian.
"cepatlah!" Lira sudah tidak sabar.
"Be-begini kak. Tadi ketika kami berempat sedang memcoba untuk memasak di dapur. kak Mia, kak Dinda, dan kak Tina tiba tiba datang dan mau bergabung. Tentu saja kami menyambutnya dengan baik. Namun tiba tiba kak Mia berteriak kesakitan, dan itu sontak membuat kami kaget"
"Kak Min, kak Key, dan Kak Sam yang memang sedang ada dirumah langsung masuk kedapur mendengar teriakan kak Mia. Kak Mia terkena minyak panas ditangannya, itu sedikit hanya sedikit tapi reaksinya sungguh berlebihan. Dan lebih parah lagi dia menyalahkan kak Dea untuk hal itu" Ria berhenti bercerita.
"Terus?"
"Terus. Tentu saja kak Sam menyalahkan kak Dea, padahal kak Dea tidak melakukannya" kata Rina sinis.
"Sam membentak Dea dihadapan kami" lanjut Jeni, yang akhirnya bicara.
☆☆☆
"seharusnya kau tidak perlu membentak istrimu Sam" kata Key.
Sekarang Key, Sam dan Shean berada dikamar Sam.
"seharusnya kau lebih baik dengan istrimu" lanjut Key.
"lalu apa yang harus aku lakukan ketika dia melukai Mia?" tanya Sam.
"itu belum tentu Dea yang bersalah, kau juga tidak melihatnya secara langsung" Key masih berusaha menekan kata katanya.
"tapi-"
"kau tidak bisa menyalahkannya atas sesuatu yang tidak dia lakukan" kata Shean yang tadi hanya diam saja.
__ADS_1
"ingat Sam! Mia adalah istri kakakmu. Dan istrimu saat ini adalah Dea. Gadis itu bahkan tidak pernah mencari masalah selama ini, dia hanya seorang gadis pendiam Sam" Key sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
Sam hanya bisa terdiam, ketika kedua kakaknya memarahinya saat ini. Dia memang tidak melihat kejadian pastinya, dia hanya melihat Mia sudah terduduk dilantai sambil memegang tangannya.
Sam seharusnya tidak tersulut emosi ketika itu. Dea hanya lah seorang gadis yang pendiam dan jarang bicara, bahkan saat dia disalahkan, dia tidak bicara apa apa untuk membela dirinya.
BRAK
Pintu kamar Sam dibanting seseorang yang ternyata Lira.
Shean mengahampiri Lira didepan pintu.
"kau-"
Lira tidak menghiraukan Shean, dia berjalan melewatinya dan mendekati Sam. Wajahnya datar dan tidak melihat apapun selain melihat Sam dengan tajam.
"ada apa Lira?" Key bertanya ramah.
"aku hanya ingin mengatakan kepada adikmu ini kak, bahwa SEHARUSNYA KAU TIDAK TERBUTAKAN OLEH CINTA" Lira berkata sangat dingin.
Deg
Deg
Bukan hanya Sam yang merasa tertampar, namun Shean juga sedikit terkejut.
Lira mengangkat tangannya, seperti siap menampar seseorang.
Pak
"jangan selalu melihat dia yang tidak pernah melihatmu. sehingga kau tidak sadar seseorang selalu memperhatikanmu dan melihatmu dari dekat" kata Lira, kemudian berlalu pergi meninggalkan kakak beradik itu.
☆☆☆
Lira merebahkan dirinya diatas tempat tidur setelah membersihkan diri. Masalah dirumah pratama ternyata sudah berlangsung lama. Kejadian tadi sore bahkan sering terjadi, dan itu disebabkan oleh satu orang.
"sedang apa kau disini?" tanya Shean yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"tidur" jawab Lira singkat, dan tidak melihat Shean.
"ini tempatku" kata Shean.
Lira mendudukan dirinya dan menatap Shean lekat, kemudian tersenyum miring.
"sepertinya kau lupa. kemarin adalah bagianku untuk tidur di tempat tidur" kata Lira enteng.
Shean seperti diingatkan, seharusnya kemarin dia sudah mulai tidur disofa.
"makanya jangan pacaran terus" kata Lira dengan senyum manis yang Lira tunjukan.
DEG
Shean tertegun dan merasa jantungnya mulai berdetak kencang. Bukan karena Lira tau kalau dia sering bertemu mantannya. Namun karena senyum manis yang Lira tampilkan, Shean tidak pernah melihat senyum itu ditujukan padanya sebelumnya.
__ADS_1
Shean berbalik dan berjalan menuju sofa, sedangkan Lira mulai membaringkan tubuhnya yang lelah karena seharian jalan jalan dengan sang kakak. apalagi tadi disuguhkan oleh pemandangan yang tidak mengenakan.
Huh
Lira menghembuskan nafasnya kasar, dia turun dari tempat tidur dan melangkah menuju meja kerja untuk mengambil laptop kesayangannya.
"kau?" kata Shean.
Lira yang baru saja akan kembali keatas tempat tidur menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Shean yang sedang terduduk santai diatas sofa.
"apa?" tanya Lira.
"apa kau tadi bersama kakakmu?" tanya Shean sedikit ragu.
"hah?" Lira sedikit bingung.
"lupakan!" Shean tidak jadi menanyakan sesuatu pada Lira.
Lira hanya mengegelengkan kepalanya pelan, dan berlalu menuju tempat tidur.
"Aneh" gumamnya.
Lira tidak tau apa yang akan Shean tanyakan, karena pendengaran keduanya sedang dia tutup setelah dia membukanya seharian.
☆☆☆
Lira menggeliat dibalik selimutnya, tubuhnya kaku setelah dia harus begadang semalam memeriksa kerjaannya didalam laptop.
Lira masih mengantuk, namun kebiasaan bangun paginya dan perutnya yang sudah meronta ronta, memaksanya untuk bangun.
Lira turun dari tempat tidur dengan mata yang sedikit terbuka. Dia berniat untuk pergi kekamar mandi, untuk sekedar mencuci muka.
Lira berjalan dengan tidak stabil.
Duk
"argh.." lirih Lira mengusap usap keningnya yang terpentok pintu kamar mandi yang tertutup, dan rasa sakit dikeningnya membuat matanya terbuka sempurna.
"dasar.. kenapa kau menghalangi jalanku" Lira menendang pintu kamar mandi, kemudian dia masuk kedalam.
Shean yang tadi memperhatikan Lira, tersenyum kecil, melihat tingkah konyol Lira. Namun sedetik kemudian dia kembali pada ekspresinya yang dingin.
Dreet
Dreet
Ponsel Lira berbunyi, dan menampilkan sebuah nama si penelpon.
Shean berusaha mengabaikannya, namun ponsel itu terus berbunyi, sedangkan Lira masih belum ada tanda tanda keluar kamar mandi.
Shean akhirnya berjalan menuju nakas dan mengambil ponsel Lira yang dari tadi berbunyi.
SAY
__ADS_1
Nama itu tertulis dengan emot love disampingnya. Shean menggeser tombol hijau kemudian menaruh ponsel itu ditelingannya.
Halo Ra...