Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Sakit


__ADS_3

Jam delapan pagi setelah Shean berangkat bekerja, Lira menyembunyikan dirinya didalam kamar. Bukan karena dia dikejar rentenir atau yang lainnya, namun karena dia sedang sakit dibagian perutnya. Sakit karena Menstruasi kali ini, lebih parah dari bulan bulan sebelumnya. Mungkin kah obatnya sudah tidak ber efek lagi atau mungkin obat yang diminumnya hanya bisa mengurangi rasa sakitnya untuk sementara. Dan jika efek obatnya habis, Lira kembali merasakan sakit yang luar biasa.


"Kenapa sakit banget ya?" Lira memegang perutnya.


Dia terbaring diatas tempat tidur dan tidak mengubah posisinya untuk beberapa saat. Lira berusaha memejamkan matanya untuk tidur lagi, mungkin dengan tidur bisa mengurangi rasa sakitnya. Tapi sakit diperutnya tidak bisa membuatnya memejamkan mata untuk tidur.


Lira berusaha turun dari tempat tidur dan berjalan menghampiri laci meja, mencari sesuatu yang disebut obat. Namun setelah membongkar semua isi laci, obat yang dicari tidak ada.


"apa sudah habis?" Lira masih memegang perutnya "kenapa aku bisa lupa untuk membelinya?" Lira prustasi pada dirinya sendiri.


"Ahk.." Lira sedikit memekik ketika perutnya semakin sakit, rasanya seperti diremas dan ditumbuk. Perempuan pasti tau rasanya, dan sakit Lira lebih dari apa yang biasanya dirasakan perempuan lainnya.


Dreett


Dreett


Dreett


Ponsel Lira diatas tempat tidur berbunyi, segera dia mengambil ponselnya dan mengangkat telepon.


"Halo adik kakak yang cantik.." suara disebrang telepon terdengar bersemangat.


"Ya~ ka" lirih Lira, suaranya parau dan lemah.


"ada apa denganmu? kenapa suaramu terdengar lemah?" Dion panik


"Perutku sakit lagi kak Ahk.." Lira kembali memekik.


"kamu dimana? Shean? Ah sudahlah, kamu dimana sekarang? kakak kesana"


"di rumah Shean" suara Lira sudah mulai mengecil.


"dimana ra? Ra? Lira?"


Lira sudah tidak sadarkan diri, dan terbaring diatas tempat tidur dengan posisi yang kurang baik. Tapi untungnya dia pingsan ditempat tidur, kalau jatuh kelantai bisa bahaya.


Ponsel masih menyala beberapa saat setelah Lira pingsan, Dion masih berusaha memanggil manggil nama adiknya. Namun setelah tidak dapat jawaban dari siempunya, Dion memutuskan panggilan.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Dion sampai dikediaman pratama, dengan kecepatan berkendara diatas rata rata, dia berhasil sampai sana dengan cepat.


Sampai dirumah pratama, Dion tidak mengucapkan salam atau menunjukan rasa hormat sebagai basa basi. Dia langsung menerobos masuk dan tidak menghiraukan penghuni rumah itu, tujuannya adalah Lira adiknya yang sedang sakit.


"Dion ada apa?" tanya Min yang kebetulan ada dirumah.


Sebenarnya Min cukup heran juga kenapa tiba tiba kakak dari adik iparnya datang tanpa memberi salam atau pemberi tahuan, yah... setidaknya harus melewati para pelayan dulu bukan.


"Lira.. dimana dia?" Dion tidak bisa tenang, pandangannya menelusuri setiap sudut rumah itu.


"Lira? ya dikamarnya- EH DION!" Min berteriak ketika Dion langsung naik kelantai atas tanpa menunggu dia selesai bicara.


Min tidak mengikuti Dion kelantai atas, dia masih diselimuti kebingungan dan sedikit kesal terhadap Dion. Namun tak lama ke kesalannya berubah menjadi kepanikan, karena melihat Lira yang dibawa Dion ala Brydalstyle.


"Lira kenapa?" Min khawatir.


"saya akan membawanya kerumah sakit. bilang pada adikmu itu untuk datang kesana!" Dion berlalu begitu saja dengan Lira ditangannya.


"Ah? tapi..." lagi lagi Dion tidak menghiraukan Min.


Min cukup kesal, namun sekarang bukan itu yang penting, melainkan kenapa Lira bisa pingsan sedangkan dia dan yang lainnya tidak tau.


Dion segera berlari masuk membawa Lira ditangannya, setelah dia memberhentikan mobilnya tepat didepan pintu rumah sakit. Untungnya dokter disana mengenali Dion dan Lira, segera mereka membawa Lira ke ruang rawat.


Lira tidak sadarkan diri cukup lama, bahkan sebelum Dion membawanya dari kediaman pratama, belum lagi diperjalanan Lira masih pingsan.


"Bagaimana dok?" Dion tidak sabaran.


Dokter itu menghela nafas "sama dengan waktu itu, bahkan ini lebih parah. Dia (Lira) sudah lama pingsan bukan?" tanya Dokter.


"Yah dok sekitar tiga puluh menit atau lebih" Dion tidak yakin, Dion tidak bersama Lira ketika Lira pingsan tadi.


"saya sudah menyuntikan obat pereda sakit, jadi tunggulah dia sadar. Saya masih ada urusan, permisi" Dokter itu membungkuk dan undur diri.


"aku harus menghubungi dady" Dion merogoh sakunya dan mengambil ponsel, lalu menghubungi dady nya.


"Halo Dad" kata Dion setelah sambungan terhubung.

__ADS_1


"ada apa?" tanya tuan Broto di sebrang telepon.


"Dad cepat kerumah sakit!"


"kenapa? kamu kecelakaan? apa kamu baik baik saja?" tuan Broto panik sendiri.


Kenapa tuan Broto bertanya seperti itu? karena ketika Dion tau Lira sakit, tuan Broto tidak ada dirumah. Dia menghadiri meeting dengan klien penting sehingga tidak bisa diwakilkan oleh Dion, Dan untungnya Dion waktu itu tidak sibuk.


"bukan dad, tapi Lira" jawab Dion


"kenapa dengan putriku?"


"Sakitnya kambuh lagi dad, cepat lah kesini!" pinta Dion


"Ok, dady segera kesana"


Tut


Sambungan ditutup oleh tuan Broto yang sudah panik mendengar putri kesayangannya masuk rumah sakit lagi.


Dion menghela nafas dalam, dan menatap adiknya yang masih belum sadarkan diri. Sorot mata Dion menyiratkan sayang yang luar biasa, khawatir bercampur sedih melihat adik yang disayanginya harus terbaring lemah dirumah sakit.


"Bagaimana kalau kakak tidak menelpon tadi?" Dion menggenggam tangan Lira.


Yah benar, bagaimana jika tadi Dion tidak menelpon dan Lira yang tidak memberi tau kan sakitnya kepada siapapun dikediaman pratama. Juga Shean yang sudah berangkat ke kantor, dan tidak tau kondisi Lira. Shean memang tidak pernah tau jika Lira punya masalah pada tubuhnya seperti itu.


"Bahkan suamimu tidak tau kamu ada disini ra, atau bahkan dia tidak tau kalau kamu punya masalah pada tubuhmu" monolog Dion, tangannya tidak berhenti untuk mengelus tangan Lira.


"kenapa kakak tidak pernah menyukai Shean? ya ini, dia bahkan tidak tau kalau kamu sakit" Dion salah paham, jelas bukan karena Shean tidak peduli tapi karena Lira menutupinya dari Shean.


Dion menunggu Lira dengan setia, pandangannya tidak pernah beralih dari wajah adiknya yang pucat. Dion juga tidak berniat untuk menelpon Shean, memberi taukan kondisi Lira. Sebenarnya Dion tidak peduli Shean tau atau tidak, yang penting Lira berada dibawah pengawasannya. Tapi karena Min melihatnya tadi, ya sudah sekalian saja Dion menyuruh Min untuk memberi tau kan nya ke Shean.


Ada bagusnya juga Shean datang menemui Lira, Dion akan membuat perhitungan kepada adik iparnya itu. Sekalian dia melampiaskan kekesalannya dan bisa menjadikan sakitnya Lira sebagai alasan.


Dion sudah setidak suka itu kepada Shean, dan apa yang terjadi jika dia tau kebenaran pernikahan adiknya. Jangan dipikirkan!


Sreett

__ADS_1


Pintu rungan terbuka, menampakan seorang pria paruh baya yang sedikit berisi. Dibelakangnya ada seseorang yang sudah Dion 'tunggu', Shean.


__ADS_2