
"apa dia tahu jika kau mengandung anak kembar????"
tanya Alvaro pada Sandra dengan mimik wajah serius
"Aku belum sempat mengatakan pada mas Aidan, aku..."
"Jangan katakan" ucap Alvaro tegas
"Pa... Ini anaknya, mengapa aku menyembunyikan fakta bahwa anaknya kembar???" tanya Sandra bingung mengapa Alvaro memintanya jangan mengatakan pada Aidan
"Sandra papa mohon kali ini saja kamu turuti perkataan papa.
Jadikan ini kejutan" ucap Alvaro mencari alasan yang masuk akal.
Yang ia takutkan adalah jika keadaan lebih buruk nantinya, Sandra bisa menyelamatkan anak-anaknya.
Namun jika keadaan membaik, maka itu akan menjadikan kejutan terindah bagi keluarga Lawrence terutama Aidan.
Entah mengapa Alvaro memiliki feeling yang tak enak, atau mungkin ia terlalu khawatir melihat keadaan Sandra saat ini, namun yang jelas ia akan siap melindungi putrinya, sekalipun nyawa taruhannya
"Benar kata papa, kita buat kejutan untuk Aidan. Semoga saja keberadaan kedua anakmu membuat ia tersadar" ucap Catty menyemangati saudarinya
"Ah iya, Layla meneleponku jika ia akan datang ke negara ini" ucap Sandra membuat Alvaro dan Catty saling tukar pandang.
"Pa, kita duduk dulu" Ajak Catty mengajak papanya duduk
"Astaghfirullah maaf pa aku sampai lupa karena saking bahagia papa menjengukku.
Apa mau minum apa biar aku siapkan"
"Sudahlah duduk dan berbincang lah, aku yang akan menyiapkan"ucap Catty
"Aku akan membantu Catty" ucap Kendrick langsung menyusul Catty.
Alvaro ingin melarang Kendrick namun Sandra mengalihkan pembicaraan
"Pa, aku ingin kembali.
Rasanya ini tak baik aku meninggalkan rumah tanpa izin suamiku" ucap Sandra penuh harap
"Apa kau yakin ingin kembali pada Aidan?" tanya Alvaro yang di balas anggukan antusias Sandra
"Mas Aidan saat ini perlu aku pa, Dia sedang bingung dengan keadaan dan dirinya.
__ADS_1
Dan terutama anak-anak ku.
Mereka butuh papanya, aku tak ingin mereka merasakan penderitaan seperti yang aku rasakan saat kecil dulu" ucapan Sandra membuat Alvaro terhenyak.
"Maafkan papa sayang karena kau menderita saat kecil"
"Pa aku hanya ingin anak-anakku mendapatkan kasih sayang lengkap dari kedua orangtuanya.
Lagi pula aku sekarang sudah punya papa, semua yang terjadi selama hidupku bukan salah papa" ucapan Sandra menyandarkan kepalanya di bahu Alvaro. Sementara tangannya menggenggam tangan Alvaro.
Alvaro menciumi punggung tangan Sandra kemudian kening putrinya. Ia sungguh bangga pada putrinya.
sementara Sonya memilih pergi, ia tak kuat menahan air matanya.
"Papa bangga padamu nak, sangat bangga" ucap Alvaro dengan suara bergetar menahan tangis
Akhirnya setelah berunding baik buruknya dan melihat bagaimana Sandra ingin kembali, Alvaro memutuskan membawa Sandra kembali walau resikonya Sandra mungkin akan lebih tersakiti.
Alvaro menempatkan Catty dan juga menarik kembali Brian untuk berada di sisi Sandra demi keselamatan putrinya
Sebelum pulang profesor Fredrick melakukan terapi untuk menenangkan Sandra dan memberikan nya motivasi.
Karena tak ada yang bisa ia lakukan, akhirnya profesor Fredrick dan kakek Lincoln memilih pulang ke negara mereka.
Sonya berjanji akan terus memantau keadaan Aidan sekalipun Aidan tak memintanya.
Namun Baru saja kakinya melangkah masuk, ia mendengar suara manja Nina dari ruang tamu
"Sayang, kapan ku akan menceraikan wanita itu???"
"Nina, saat ini aku tak bisa"
"Mengapa???.bukankah kau sudah berjanji padaku???
Apakah sudah tak mencintaiku lagi????"
"Tolong jangan ragukan perasaanku. Di hatiku hanya ada kamu.
Hany aku saat ini sedang bingung.
Aku memang mencintaimu, namun..."
"Ah sudahlah, percuma aku mencintaimu tapi kau tak pernah mencintaiku" Rajuk Nina bangkit dari duduknya
__ADS_1
"Ninaaaa... Tunggu Nina.... Aku janji.
aku Jani akan menceritakannya. Beri aku waktu" ucap Aidan memeluk erat Karenina.
Tas Sandra jatuh , ia merasa hatinya di remas, sungguh sakit.
Aidan dan Karenina menoleh terkejut, namun ia tetap memeluk Aidan erat, sementara Aidan mencoba melerai pelukan Nina
"Sa...Sandra kau kembali?" ucap Aidna tergagap antara terkejut dan kikuk tertangkap Sandra memeluk Nina
"Aku lelah" ucapan Sandra segera menuju kamarnya. Ia lalu menguncinya
"Dasar pria gila, loe akan menyesal nanti" ucap Catty menyusul Sandra namun sesampainya di kamar tersebut Dalam keadaan terkunci. Catty beberapankali mengetuk pintu. Ia khawatir Sandra melakukan sesuatu yang nekad
"Sis, buka, buk pintunya"
"Aku ingin sendiri please" ucapan Sandra dengan suara parau dari dalam kamar. Catty mengepalkan tangannya, ia kembali ke ruang tamu, tak ada Aidna maupun Nina, tak lama Aidna kembali, sepertinya sehabis mengantar wanita ular itu pergi.
Dengan berapi-api Catty menghampiri Aidan dan menghadiahkan bogem mentah dengan kekutan penuhnya hingga sudut mulut Aidan berdarah.
"buuuggghhhh"
"Ini untuk luka yang loe torehkan di hari saudari gue"
"Bughhhj"
"Ini karena loe jdi pria bego
"Bugh"
"Ini karena loe enggak coba berfikir secara logis, dasar sialan" teriak Catty yang langsung di pegangin Brian.
Sandra yang mendengar kegaduhan keluar dan berapa terkejutnya ia melihat Catty memukuli Aidan dengan penuh nafsu
"Cattyyyy..... Hentikan tolong, dia suamiku sekalipun dia tidak mengingatku" ucap Sandra menangis
"Loe selamat, kalau bukan saudari gue yang mohon gue akan membunuh loe sekalipun harus berurusan dengan keluarga loe. Dasar sial" maki Catty menendang kaki Aidan lalu pergi keluar dengan marah, tak lama kemudian terdengar suara deru mobil menjauh
"Mas,.mas kau baik-baik saja??"
"Hmm" ucap Aidan singkat, entah mengapa ia diam saja saat Catty meluapkan emosinya.
"Kau kembali???" tanya Aidan menatap Sandra yang terlihat kurus. Kini perutnya terlihat lebih besar dari terkahir kali ia melihatnya, atau mungkin karena ia tak pernah memperhatikan dengan baik
__ADS_1
"Anak kita sehat dia merindukan papanya jadi aku kembali. Maaf aku pergi tanpa izin karena aku perlu merenung sendirian"ucap Sandra membantu Aidna bangkit
"Maaf"ucap Aidna lirih