
Prang.....
Cermin di dalam kamar mandi pecah tak berbentuk hingga menyebabkan punggung tangan itu mengeluarkan darah segar.
Sepulang dari Bandung, dengan pencapaian nihil Balin sangat frustasi. Ia melukai dirinya sendiri agar merasa puas.
"Apa kamu tahu? apa yang ada dalam hatiku?" lirih Balin dengan mata memerah. Tatapannya jatuh kepada benda kecil yang melingkar indah di jari manis kanannya. Itu adalah simbol bahwa ia sudah menikah. Sampai sekarang ia tak menanggalkan cincin tersebut.
Aakkh.....
Balin berteriak, meraung didalam kamar mandi hotel yang menjadi singgahan keduanya untuk menenangkan diri.
Ia menjambak rambutnya dan sesekali membenturkan kepalanya ke dinding tembok kamar mandi.
Ia meneriaki nama Gia hingga tangisan pun tak terhindari lagi.
Tok tok
"Pak, buka pintunya. Apa yang terjadi? " sejak tadi pintu kamar mandi itu diketuk oleh Putra tapi sampai sekarang engan terbuka. Ia sangat khawatir karena mendengar dengan jelas benda pecah tersebut. Ini bukan untuk pertama kalinya, sudah tiga kali dengan ini Balin kesetanan.
KLEK
Pintu di buka dengan sosok tak beraturan keluar. Putra memejamkan mata mendapati sosok itu dengan punggung tangan penuh darah.
"Apa yang Bapak lakukan?" ujar Putra sembari meraih pergelangan tangan itu.
"Tidak perlu kamu obati! Ini bukti cintaku kepada istriku. Putra tolong foto kan ini, suatu saat nanti jika ia kembali tunjukan bukti ini. Mungkin aku tak akan lama lagi. Buat apa aku hidup sedangkan sampai sekarang kita belum tahu dimana keberadaan Gia!" Teriak Balin tak terkontrol lagi, bahkan ia menepis tangan Putra yang mencoba untuk membalut luka tersebut. Perkataan ini sangatlah konyol.
"Aku tahu dimana keberadaan Bu Gia Pak," ucap Putra dalam hati sembari mengusap wajahnya. Ia menjadi bingung sendiri harus melakukan apa. Di satu sisi ia ingin memegang janji dan sisi lain begitu tidak tega melihat alasannya.
"Pak izinkan saya untuk membalut luka Bapak." Mohon Putra karena darah segar itu tak berhenti mengalir.
"Sakit ini tak seberapa Putra! Dibandingkan rasa penyesalanku ini!" Lirih Balin dengan tatapan kosong.
"Iya Pak saya mengerti, tapi bukan begini caranya."
"Apa yang kamu paham Putra? sedangkan kamu sendiri tidak pernah merasakan jatuh cinta!" Desah Balin frustasi.
Putra menelan ludah, apa yang di lontarkan Balin ada benarnya. Selama ini statusnya masih jomblo akut, bagaimana mungkin dia paham dengan urusan perasaan apa lagi yang menyangkut dengan cinta.
__ADS_1
Tidak ingin menambah suasana hati Balin yang meresahkan ia beranjak, mengambil kotak obat di dalam laci. Luka itu harus segera di obati dan di Balin, jika terlambat bisa-bisa infeksi.
"Apa yang kamu lakukan?" sentak Balin menarik tangannya.
"Tentu saja ingin mengobati luka Bapak," sahut Putra sedikit jengah.
"Apa kamu tidak mendengar aku tidak ingin di obati, biar saja ini bukti cinta ku kepada istriku Gia!" Cecar nya.
Ssst..... Putra menghela nafas kasar. "Bapak yakin Bu Gia masih mau menerima Bapak jika jari-jemari tangan Bapak di amputasi? saya yakin tidak akan mau!" Ancam Putra, sedikit menakuti. "Pria sempurna masih banyak di luaran sana, untuk apa Bu Gia mau menerima pria yang punya kekurangan fisik," imbuhnya dengan senyuman tersembunyi.
Mendengar penuturan Putra membuat Balin berpikir. Ada perasaan takut pada dirinya. "Segera obati luka ini! Beri obat yang terbaik agar tak infeksi." Titahnya seperti menegaskan.
Putra tersenyum puas, sudah berhasil mengatasi masalah ini. Ia ikut lelah dengan apa yang dilakukan sang atasan yang diluar akal sehat.
"Selanjutnya tolong jangan ulangi lagi ya Pak? ingat Bu Gia itu sangat cantik, pokoknya sempurna di mata para pria," ujar Putra bermaksud untuk menakutinya.
Balin mengangguk seperti anak yang baru saja di nasehati oleh orang tuanya.
"Apa kata mu? jangan bilang jika kamu juga menaruh hati dengan milik ku!" Tuduh Balin dengan tatapan tajam. "Dia hanya milik ku!!! Apa kamu paham?"
"Mana saya berani menaruh hati dengan milik Bapak. Bu Gia juga bukan tipe wanita gampangan. Bapak seorang yang berhasil membuatnya berubah tapi sayangnya hanya sesaat," ungkap Putra.
"Pria mana yang tidak terpikat!"
"Stop! Simpan saja impian mu itu karena hal itu mustahil bagi mu. Cari wanita lain, Gia hanya milik ku seorang!? " Usai mengatakan itu Balin segera keluar menuju balkon.
Huh.....
Putra menghembuskan nafas kasar. Karena tensi dan tak terkontrol atasannya ini semaunya saja berkata. Ia bahkan lupa dengan jati dirinya yang begitu ramah dan sopan santun. Tapi karena kejadian ini semuanya jadi berubah.
Tapi Putra tak mempermasalahkan ini karena jati diri atasannya ini sangat lah bertanggungjawab. Dalam bekerja ia sangat kompeten. Tidak mencampuri urusan pribadinya jika dalam masa bekerja. Itulah poin utama pada pria tampan tersebut.
***
1 tahun kemudian
Melihat penderitaan Balin belum juga usai membuat Putra putar otak. Dengan tidak secara jujur dan langsung ia ingin membuat rencana tanpa ada yang tahu.
Semalaman ia berpikir keras untuk mencari cara agar Balin dan Gia bertemu. Dan kerja kerasnya untuk berpikir membuahkan hasil.
__ADS_1
Dengan wajah berbinar-binar ia melangkah menuju ruang CEO. Ia ingin membicarakan masalah ini dengan Balin.
Mengetuk pintu seperti biasanya. Dan disambut seperti biasanya pula. Ia membuka pintu dan segera masuk masih dengan wajah ceria.
"Selamat pagi Pak," sapa nya dengan sopan.
"Apa yang terjadi? apa ada sesuatu hingga membuatmu sebahagia pagi ini?" pertanyaan bertubi itu dilontarkan Balin ketika menyadari wajah sumringah.
Putra segera duduk ketika usai meletakan beberapa map di atas meja.
"Apa agenda ku hari ini? lupakan kebahagiaanmu untuk saat ini. Jangan bersenang-senang di atas penderitaan atasan mu!" Ujar Balin sembari memeriksa berkas.
Putra tersenyum geli mendengar candaan tersebut.
"Tidak ada Pak. Bapak hanya memeriksa beberapa laporan perusahaan tahunan," terang Putra dengan bibir melengkung karena masih geli dengan kalimat yang di lontarkan.
Hmm
Ia kembali melanjutkan pemeriksaan. Karena menyadari Putra tak kunjung beranjak dari tempat duduknya membuat Balin menghentikan sejenak pekerjaannya, lalu mendongak dengan dahi mengerut melihat Putra.
"Ada apa lagi? apa tidak ada pekerjaan?"
Putra menegakkan tubuhnya ingin segera membicarakan tujuannya itu.
"Pak saya mendapat informasi bahwa perusahaan JAYA MAJU yang berada di Pontianak begitu berkembang. Perusahaan yang berusia 1 setengah tahun beroperasi, di bidang kosmetik serta garmen," terang Putra seakan sangat tahu seluk beluk perusahaan tersebut. Itu ia dapatkan dari salah satu sahabatnya yang bekerja di sana, tapi ia merahasiakan keberadaan Gia.
Balin berpikir, apa yang di informasikan Putra sedikit membuatnya tertarik.
"Saya dengar-dengar dari pihak perusahaan JAYA GROUP membutuhkan suntikan dana. Jika Bapak tertarik ini suatu kesempatan untuk kita bekerja sama," pungkasnya.
"Baiklah, urus semuanya!" Ujar Balin menyetujui usulan Putra.
"Baik Pak, akan saya kirimkan berkas ke pihak JAYA MAJU." Usai mengatakan itu Putra pamit dengan wajah berbinar-binar karena tanpa membujuk usahanya membuahkan hasil. Hanya menunggu informasi dari pihak JAYA MAJU saja. Tapi ia harus bersabar karena proses demi proses tidaklah semudah membalikan telapak tangan.
Bersambung.....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi
__ADS_1