
"Andai saja anak tak tahu diri ini tak mengatakan apapun pada malam itu pasti keadaannya tak akan seperti ini!" Tegas Papi seakan sudah kehabisan kesabaran, bahwa sekarang dengan terang-terangan mengatakan hal yang kasar.
Semua tersentak kaget mendengar penuturan tersebut, terlebih lagi Balin karena selama ini mertua laki-lakinya itu terlalu lembut tapi lihatlah sekarang wujud pribadinya.
Tapi ia memaklumi karena kejadian ini putrinya pergi meninggalkan rumah dan juga dirinya.
"Aku minta maaf Pi, karena tidak dapat menahan emosi," lirih Rika dengan terisak. Entah ia benar-benar menyadari kesalahannya atau hanya sekedar bersandiwara karena kesalahan yang telah ia lakukan hingga membuat Gia pergi.
"Maaf? kata maaf saja tidak cukup untuk mengembalikan putriku!"
Rika maupun Mami Maya tercengang karena jawaban itu seolah tak termaafkan apa yang dikatakan Rika.
"Tinggalkan rumah ini!" Sentak nya dengan tegas tanpa ingin menatap lawan bicaranya.
"Papi!" Pekik Mami Maya ingin protes.
"Berhenti berteriak! Aku bukanlah Bahtiar yang kalian kenal lagi!"
"Maafkan kami Pi, jangan usir kami. Bagaimana kami bisa hidup diluar sana," tangis Mami Maya sembari bersimpuh di kaki suaminya.
Papi tersenyum kecut mendengar perkataan itu karena pada dasarnya wanita yang terpaksa ia nikahi itu hanya dapat menghamburkan uang saja untuk hal yang tidak penting.
"Itu bukan urusan ku lagi. Rasakan bagaimana mencari uang. Jual semua perhiasan serta benda-benda yang memenuhi isi lemari mu itu untuk modal kehidupan baru kalian!" Tegasnya yang berhasil membuat Ibu dan anak itu tak berkutik.
Balin tak banyak ikut campur karena ini bukan urusannya. Dia hanya fokus untuk mencari Gia yang sampai detik ini belum tahu dimana keberadaannya.
Lalu tiba-tiba ia mengingat ucapan Gia tentang Rika dan mertua perempuannya.
"Kalian sangat tidak menyukai Gia. Asal kalian tahu bahwa Gia selama ini berperan dalam keuangan yang selalu kalian nikmati. Dia memang kecewa dan sakit hati tapi sisi lembut dan pedulinya mengalahkan perasan itu. Dia memang cuek dan bersikap acuh tapi dibalik sikapnya itu ada rasa peduli." Tutur Balin.
"Jangan omong kosong!" Cela Rika seakan penuturan Balin hanya omong kosong.
__ADS_1
Balin tersenyum getir mendengar celetuk Rika. Wanita ini benar-benar tak tahu berterima kasih.
"Ini fakta dan Gia sendiri yang memberitahu kepadaku beberapa bulan yang lalu. Dia berusaha menerima keberadaan kalian tapi kalian sungguh tidak pernah mengerti apa yang dia rasakan, bahkan tidak peduli sedikitpun dengan dirinya. Pikir dan ingatlah dengan kartu ATM yang kalian miliki, tiap bulan Gia lah yang menebalkan agar pengeluaran selalu di tutupi. Bahkan selama Rika menempuh pendidikan menyelesaikan kuliah dialah yang banyak berperan, memantau dari jarak jauh. Percayalah bahwa Gia sebenarnya sayang dan peduli tapi untuk mengatakan hal itu tidak gampang baginya karena hubungan kalian tidaklah sehangat secangkir teh." Ya saatnya Balin membongkar sisi pribadi Gia yang selama ini tertutup.
Papi, Mami maupun Rika tercengang mendengar apa yang diceritakan Balin. Sungguh mereka tak tahu apa-apa tentang apa yang dilakukan Gia selama ini.
"Dia berusaha menerima kalian dari bagian hidupnya." Balin kembali menekankan. "Pi aku pergi dulu." Pamitnya tanpa berniat menatap dua wanita beda usia yang tak tahu berterima kasih tersebut.
Papi mengangguk.
Balin beranjak. "Papi mohon temukan Gia, Nak!" Ujarnya dengan sendu.
Balin mengangguk sembari mengusap pundak mertuanya tersebut. Ia pun berjalan keluar, meninggalkan mereka bertiga.
Sepeninggalan Balin. Keadaan hening sejenak, tidak ada yang membuka suara. Pernyataan Balin tadi membungkam mulut mereka, terutama Mami Maya dan juga Rika.
"Kalian lihat! Orang yang kalian anggap penghalang selama ini peduli dan bahkan tak ragu-ragu memenuhi kebutuhan pribadi kalian," cecar Papi dengan dada bergemuruh.
"Aku juga minta maaf Pi. Aku salah," sambung Rika, juga ikut terisak.
Pria paruh baya itu menarik nafas dalam-dalam. Saat ini hatinya sangat sedih. Putri yang sangat ia sayangi bahkan bagian dari hidupnya kini pergi meninggalkan dirinya tanpa tahu dimana keberadaannya.
Ia sangat menyesal sudah mengancam Gia. Jika tahu ke depannya seperti ini maka hal itu tak kan pernah ia lakukan. Bagaimana mungkin Gia di luar sana tanpa uang sepeserpun, sedangkan ia sama sekali tak memiliki teman dekat.
Papi mengusap wajahnya. "Segera tinggalkan rumah ini. Aku sudah transfer uang sebesar 100 juta. Aku yakin itu sangat cukup. Pintar-pintarlah berhemat agar cukup," tegas Papi tanpa memberi kesempatan lagi.
Mami Maya maupun Rika tercengang, saling memandang dengan tatapan kaget.
"Beri Mami kesempatan Pi. Mami sangat mencintai Papi," mohon wanita paruh baya tersebut, kembali bersimpuh.
Papi menggeleng
__ADS_1
"Dan untuk mu Rika. Mulai saat ini jangan pernah injak kaki di perusahaan Bintang seperti biasanya. Carilah pekerjaan di perusahaan di luar sana!" Sekali lagi ia menegaskan, dengan kata lain memecat Rika tanpa hormat. "Kamu jangan khawatir karena uang pesangon sudah di transfer di rekening mu," imbuhnya.
"Tidak Pi. Mami sangat mencintai Papi!" Lirih Mami Maya.
"Tapi tidak untuk putri ku. Kamu tidak pernah memperdulikannya, kamu pilih kasih Maya! Mana janji mu dahulu?" tutur Papi dengan raut wajah kecewa.
Papi bangkit dan menepis simpuhan tersebut. "Aku kasi waktu 1 jam untuk kalian membersihkan benda milik pribadi." Setelah mengatakan itu ia pergi meninggalkan Ibu dan anak tersebut.
"Papi tolong beri kesempatan..... " Teriak Mami Maya dengan tangisan.
"Bi, pantau mereka. Kabari jika mereka sudah injak kaki dari rumah ini!" Ujar Papi kepada Bibi.
Mami Maya maupun Rika saling menangis. Mereka tak pernah menyangka jika kisah hidup mereka berakhir sampai di sini.
Bagaimana mungkin mereka menjalani hari-hari yang biasanya di kelilingi kemewahan kini berakhir tragis.
Rumah mewah, fasilitas lengkap, tiap saat bisa belanja dan juga memanjakan diri ke salon, mau makan apa saja tinggal pesan. Tapi itu hanya tinggal kenangan saja karena mulai hari ini mereka akan menjalani kehidupan yang baru.
Bertahan dengan uang yang diberikan, karena bagi Mami Maya maupun Rika, uang dengan angka nominal yang diberikan tidaklah cukup.
"Sayang kemas semua barang milikmu. Papi benar-benar marah besar," lirih Mami Maya dengan kedua lutut lemah untuk berdiri.
Rika mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menuju kamar mewah miliknya selama ini.
"Kak Gia, aku minta maaf. Aku berjanji akan mencari dan membawa mu kepada Papi," batin Rika ketika tiba di pertengahan tangga, dimana pada saat itu ia berhenti tepat tergantung nya foto Gia pada saat wisuda S3.
Bersambung.....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi
__ADS_1