Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Mulai Goyah


__ADS_3

Shean sedang membolak balikan berkas di atas meja, dia tidak pokus bekerja hari ini.


Pikirannya terganggu oleh seseorang yang dari awal tidak dia anggap, Lira. Akhir akhir ini pikiran Shean selalu dipenuhi oleh gambaran Lira, dan senyuman manis yang dia lihat waktu itu.


Huh


Shean menghela nafas kasar. Dia mengingat kembali dengan seseorang yang menelpon Lira waktu itu.


Hai rara sayang...


Kata kata itu selalu terngiang ditelinga Shean.


"argh.. kenapa aku memikirkannya" monolog Shean.


Shean menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pemikiran itu dan berusaha pokus dengan kerjaannya.


Kring


Kring


Suara telepon mengalihkan atensi Shean dari berkas berkas itu. Dia mengangkat telepon dan ternyata itu dari sekretarisnya yang mengatakan bahwa seseorang sedang mencarinya.


Shean menyuruh sekretarisnya untuk membiarkan orang itu menemuinya diruangannya.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka menampilkan seorang pria yang seumuran dengan Shean dengan wajah tampannya tidak jauh dari Shean, walaupun Shean masih lebih tampan.


"Dion..?" Shean berkata informal mengingat Dion adalah kakak Lira.


Dion mendudukan dirinya didepan Shean dengan senyum yang dibuat buat.


"sepertinya saya mengganggu.." kata Dion.


"tidak juga" jawab Shean.


Jika seseorang berada disana mungkin dia akan membeku dengan hawa dingin yang dibuat oleh kedua pengusaha muda itu.


Dion dengan senyum miring yang penuh arti, dan Shean yang melihatnya dengan ekspresi datar.


"saya hanya ingin mengingatkan..." Dion berhenti sejenak, dan menatap Shean tajam "jangan sampai kau membuat Rara menangis" lanjut Dion.


Dion berdiri dan berniat melangkahkan kakinya meninggalkan Shean, namun setelah itu dia berbalik dan berkata "jika itu terjadi. kau akan menerima keruntuhan perusahaanmu" kata Dion dan kini dia benar benar keluar dari ruangan Shean.


Lagi lagi Shean hanya menghela nafasnya. Dion sekarang tidak tau tentang perjanjian itu, bagaimana jika Dion tau.


Shean tidak takut jika Dion berusaha meruntuhkan perusahaannya. Namun Shean hanya khawatir jika ayahnya tau.


☆☆☆


"benarkah Say? kau akan pulang? Lira terlihat antusias.


"ya... tapi dua bulan lagi"

__ADS_1


"yah kau membuatku berharap" kata Lira kecewa.


"sabar ya. tunggu dua bulan lagi, dan setelah itu kita akan sering bertemu"


"mm"


Tut


Sambungan telepon diputus oleh seseorang disebrang sana.


"siapa?" tanya Jeni yang memang memperhatikan Lira dari tadi.


"temanku kak" jawab Lira dengan senyum ramahnya.


Lira, Jeni, dan Dea sedang berada diperpustakaan lagi. Perpustakaan menjadi tempat yang bagus untuk mengalihkan pikiran mereka dari permasalahan yang sedang terjadi.


"hah.." Jeni menghela nafas kasar, membuat kedua orang disampingnya beralih menatapnya.


"ada apa kak?" tanya Lira.


"bosan selalu berada diperpus" kata Jeni.


"kenapa kita tidak pergi keluar saja, sesekali kita refresing tidak ada salahnya. kita bisa jalan jalan dan berbelanja" kata Lira memberi saran.


"mmm... sepertinya boleh juga. bagaimana kalau kita ke Mall hari ini" kata Jeni antusias.


"mm. kita bisa berbelanja sepuasnya dan makan sepuasnya. melupakan semua masalah " kata Lira tak kalah antusias.


Lira dan Jeni sudah berdiri dan menyimpan buku ketempatnya semula.


"aku.." Dea terlihat ragu.


"ayolah kita bersenang senang hari ini" Lira menarik tangan Dea sebelum siempunya protes.


~


Lira, jeni, dan Dea sudah berada disalah satu Mall terbesar dikota itu. Lira berjalan dengan bersemangat begitu pula dengan Jeni, sedangkan Dea hanya bisa tersenyum dan mengikuti mereka.


Pertama Lira masuk kedalam tempat sepatu sepatu yang berderet itu, dia menarik tangan kedua orang itu dan mengajaknya untuk memilih mana sepatu yang mereka suka.


Setelah membeli sepatu yang harganya bukan main main, mereka sekarang berada ditempat tas tas mahal didalam lemari kaca. Tapi kali ini Lira tidak membelinya, mengingat dia sudah punya yang lebih bagus dirumah.


Mereka bertiga sekarang sedang memilih baju baju, dan mencobanya satu persatu. Lira melenggak lenggok seperti model membuat Jeni dan Dea tertawa lucu.


Setelah dirasa cukup berbelanja, ketiganya mencari restoran didekat sana, untuk mengisi perut yang lapar karena lelah berbelanja.


☆☆☆


Pukul sepuluh malam Lira baru pulang ke rumah pratama.


Jeni dan Dea sudah pulang duluan jam lima sore, namun Lira ada keperluan mendesak jadi dia tidak ikut pulang bersama mereka.


Lira masuk kedalam rumah megah itu setelah dibukakan pintu oleh asisten rumah tangga. Rumah sudah mulai sepi, karena ini juga sudah malam dan waktunya untuk orang orang beristirahat.

__ADS_1


Lira melangkahkan kakinya menaiki tangga tanpa ingin membuat suara yang keras. Dia membuka pintu kamarnya dengan perlahan, seperti seorang maling saja, karena takut seseorang bangun.


Lampu kamar sudah dimatikan, hanya ada cahaya dari lampu kecil diatas nakas.


Lira melangkahkan kakinya perlahan mencari saklar lampu untuk dihidupkan. Asal tau saja kalau Lira tidak bisa tidur dalam kegelapan.


Klek


Lampu kamar tiba tiba menyala dan menampakan seorang lelaki jangkuk dengan wajah datar.


"kau mengagetkan saja" kata Lira dengan memegang dadanya.


"..."


Lira tidak dapat respon dari Shean, karena Shean hanya menatapnya saja.


Lira menyimpan paper bag berisi belanjaannya diatas tempat tidur, dan berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Karena hari sudah malam, dan tidak baik jika mandi malam malam.


Lira berjalan melewati Shean dengan santai dan masuk kedalam kamar mandi.


Sekitar lima menit Lira berkutat dikamar mandi dan sekarang dia sudah merasa lebih segar. Lira membuka pintu kamar mandi dan disana sudah berdiri Shean didepan pintu.


"ya ampun.. apa kau ingin membuatku jantungan. mengagetkan saja" kata Lira dan berjalan melawati Shean.


Namun baru saja beberapa langkah, pergelangan tangannya dicekal oleh Shean. Lira berbalik dan menatap Shean penuh tanya, dia juga berusaha membuka 'pendengarannya' namun dia tidak mendengar apapun dari hati Shean ataupun apa yang Shean pikirkan.


"ada apa. aku lelah mau istirahat" kata Lira sedikit malas.


"..."


"kau hanya ingin diam saja. ya sudah lepaskan, aku ingin tidur.


Baru saja Lira ingin melepaskan genggaman tangan Shean. namun...


Greb


Shean menarik Lira kedalam pelukannya, dan itu membuat Lira terkesiap.


"apa yang kau lakukan? lepas!" Lira berusaha melepaskan diri dari pelukan Shean.


Shean tidak berbicara apapun dan tetap menempatkan kepala Lira didada bidangnya.


Lira berusaha melepaskan diri, namun tenaga Shean lebih besar darinya, dan akhirnya Lira pasrah saja membiarkan pemuda itu memeluknya.


Shean melepas pelukannya dan menatap Lira dalam. "sepertinya perasaanku salah" gumamnya dan masih didengar oleh Lira.


"hah?" tanya Lira.


"tidak ada. menjauhlah dariku" kata Shean dan berjalan menuju sofa untuk tidur.


"apa? apa aku tidak salah dengar? dia yang tiba tiba memelukku, dia juga yang menyuruhku untuk menjauhinya" batin Lira.


"dasar aneh" umpatnya, dan langsung menuju tempat tidur untuk segera meluncur kealam mimpi.

__ADS_1


Shean belum benar benar tertidur, dia membuka matanya dan memegang dadanya. Jantungnya sedang berdetak kencang.


__ADS_2