Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Siasat


__ADS_3

Setelah dua hari dirawat dirumah sakit, Lira kembali ke kediaman pratama. Dion sempat melarang dan mau membawa Lira kerumahnya (rumah tuan Broto), namun lagi lagi tuan Broto memperingatinya. Walaupun tuan Broto sempat ragu kepada Shean karena Dion yang selalu berbicara tidak suka padanya, tapi nyatanya tidak ada bukti kalau Shean adalah pria yang buruk. Jadi tuan Broto kembali bersikap ramah seperti biasanya, dan lebih mendukung Shean sebagai menantunya.


Lira bersender dikepala tempat tidur, badannya sedikit lemah karena kurang makan. Dua hari ini dia tidak bisa makan banyak karena makanan rumah sakit yang tidak enak, Lira juga masih merasakan sedikit sakit diperutnya.


"mau makan apa?" tanya Shean yang duduk disamping Lira.


"apa aku bisa memilih? kau bahkan tidak mengijinkan ku makan apapun selain bubur" kata Lira.


"ya..." Shean tidak bisa mengelak, karena memang benar jika dia tidak mengijinkan Lira makan apapun selain bubur, itu juga himbauan dari dokter.


"gak usah, aku gak mau makan" kata Lira.


"tapi perutmu harus diisi"


"susu coklat" final Lira.


"aku akan ambilkan" Shean beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar.


Sedangkan Lira lebih memilih untuk membuka ponselnya, sudah dua hari dia tidak mengeceknya. Pekerjaan yang sudah dua hari diabaikannya mungkin sudah menumpuk, dan harus segera diselesaikan. Kalau tidak, dia akan kesusahan mengembalikan konsistensitas pekerjaannya.


"Ahh, ada pesan dari Say.." monolog Lira. Memang ada beberapa pesan masuk dari sahabatnya itu.


"Ini" Shean menyodorkan segelas susu hangat.


"kau mengagetkanku" Lira mengambil gelas dari tangan Shean, dan meminum sedikit susu hangat itu.


"kamu terlalu pokus dengan ponsel" Shean beranjak dari samping Lira dan berjalan menuju meja kerja. Dia menyibukan dirinya dengan benda berteknologi didepannya.


"kau tidak ke kantor?" Lira sedikit berteriak.


"tidak" jawab Shean.


"kenapa?"


"..."


Shean tidak menjawab pertanyaan Lira, memang seharusnya Lira tidak bertanya seperti itu. Jelas sekali kalau Shean tidak kekantor karena khawatir dengan kondisi Lira yang belum sepenuhnya pulih, juga dia yang tidak mau mengulangi kesalahannya lagi meninggalkan lira dalam kondisi sakit.


Lira mendengus kesal karena tidak mendapat respon dari Shean. Dia menaruh gelas susu yang sudah diminum setengahnya diatas nakas dan kembali pada kegiatannya yang tertunda.


☆☆☆


Disebuah coffe shop ditengah kota S, terlihat dua orang wanita yang sedang duduk disalah satu meja yang ada disana. Wajah mereka cukup familiar, yang satu dengan pakaian sexy nya dan yang satu dengan wajah munafiknya. Siapa lagi kalau bukan Selena dan Mia, mereka sedang membicarakan sesuatu yang pastinya tidak baik.

__ADS_1


Bagaimana mereka bisa akrab? karena Selena dulu pernah menjadi pacar Shean, dan dia sering berkunjung kerumah pratama itu. Sebenarnya mereka bukan akrab sebagai sahabat dekat, melainkan untuk menjalankan rencana jahat mereka.


"aku punya sesuatu yang menarik" kata Mia dengan seringaian liciknya.


"apa?" Selena meminum minumannya dengan elegan.


"ini" Mia menyodorkan sesuatu diatas meja.


Sebuah benda kecil berwana hitam dengan kedua sisi berwarna merah.


"Flashdisk?" Selena mengernyit. Mia mengangguk.


"mau apa dengan benda ini (flashdisk)?" tanya Selena.


"kau akan tau setelah mendengar isinya" Mia kembali tersenyum miring.


"apa ini ada hubungannya dengan Shean?" tanya Selena.


Mia mengangguk "kalau begitu, selanjutnya ku serahkan padamu" Mia pergi begitu saja, meninggalkan Selena yang masih terduduk dengan elegan.


Senyuman miring terukir dibibir sexy Selena, dia mengambil Flashdisk di depannya. Menggenggamnya dengan erat, kemudian memasukannya kedalam tas cantiknya.


"tunggu She, aku akan segera menemuimu"


Selena tidak beranjak dari dalam coffe shop itu untuk beberapa saat. Berdiam diri dengan pikiran yang dipenuhi dengan rencana jahatnya.


☆☆☆


"mengapa belum selesai juga.." Lira mengacak surainya prustasi. Sebenarnya dia sudah berada didepan laptop selama dua jam penuh, menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk.


"istirahat dulu" kata Shean yang duduk diatas sofa.


"tidak bisa, harus sekarang. Kalau ditunda ini bisa kacau" Lira kembali mempokuskan dirinya kelayar dengan banyak tulisan didepannya.


Namun semakin Lira mamaksakan diri untuk lebih fokus, dia kembali merasakan sakit diperutnya. Memang masa periode Lira belum selesai, karena baru lima hari dia Menstruasi.


"Akh" Lira memekik kecil, sedangkan tangannya meremas perut bagian bawahnya.


Melihat Lira yang kembali kesakitan, Shean langsung sigap dan menopang tubuh Lira.


"jangan dipaksakan" Shean berniat membantu Lira berjalan menuju tempat tidur. Tapi Lira malah menepisnya.


"sudah kubilang pekerjaanku tidak bisa ditunda" Lira mengeratkan gigi menahan sakit.

__ADS_1


Shean menanggapinya dengan tatapan datar, tanpa ba bi bu dia langsung mengangkat tubuh Lira ala Brydalstyle. Lira memberontak dalam gendongan Shean, namun Shean tidak menghiraukannya dan terus membawa Lira ke atas tempat tidur.


"sudah kubilang-"


Shean membungkam mulut Lira dengan mulutnya, namun segera didorong dengan kasar oleh Lira. Lira menatap kesal Shean yang selalu menampilkan wajah tanpa ekspresi dan seperti tidak ada masalah. Lira kembali akan turun dari tempat tidur, dia tidak mungkin menunda lagi pekerjaanya.


Bukan tanpa alasan Shean melarang Lira untuk tidak terlalu keras bekerja, Lira tidak bisa terlalu lelah entah itu fisik atau pikiran. Karena dokter sudah bilang kalau sakit diperut Lira akan bertambah jika dia merasa lelah, atau memakan makanan yang kurang baik.


Shean menahan Lira yang akan kembali menuju meja kerja, tangannya menggenggam tangan Lira dengan erat.


"jangan memaksakan diri!" lagi lagi hanya itu yang Shean ucapkan, namun kali ini ada nada perintah didalamnya.


Lira menarik dengan kasar tangan yang digenggam Shean, suasana hatinya menjadi lebih buruk. Pekerjaan yang belum selesai dan Shean yang tidak membiarkan Lira menyelesaikannya.


"terserah lah" Lira memperosotkan dirinya supaya terbaring dan berbalik memunggungi Shean. Mendapati sikap istrinya yang seperti itu, Shean tidak bereaksi apapun selain menarik selimut sampai bahu Lira. Sedang dia sendiri setia menunggu Lira disampingnya.


☆☆☆


"hahaha.. bagus juga kerja Mia"


Selena kini tengah menatap layar laptop yang hitam, terdengar suara dibalik layar yang hitam itu.


"tinggal kepada siapa aku memberikannya" kata Selena.


Wanita sexy itu sekarang tengah duduk diatas kursi kebesarannya diruangan milikinya. Setelah dia tau isi Flashdisk yang diberikan Mia, dia tidak bisa berhenti tertawa dan menyeringai jahat.


Selena mengambil ponsel diatas meja dan mengetikan sesuatu didalamnya, sepertinya dia sedang mengirimkan pesan kepada seseorang. Sebab beberapa saat kemudian, dia mendapat telepon dari orang itu.


"Halo" suara Selena terdengar mendayu.


"..."


"apa kita bisa bertemu tuan~?" Selena tersenyum miring


"..."


"jangan bersikap seperti itu, aku merasa sakit hati" Selena menampilkan ekspresi sedih yang jelas tidak akan dilihat oleh orang disebrang telepon sana.


"..."


"baiklah saya akan menemui anda dikantor" final Selena.


Dia menyimpan kembali ponselnya diatas meja dan kembali memutar rekaman didalam laptopnya.

__ADS_1


__ADS_2