Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 64. Kerja Sama


__ADS_3

Masa cuti Gia telah berakhir. Tiga hari diberi cuti membuat dirinya sedikit bosan. Karena tidak ingin Bi Ani curiga ia beralasan kantor cuti bersama.


Seperti pagi ini ia sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


"Bibi ayo sarapan," panggil Gia ketika makanan sudah di tata di atas meja.


"Iya Nak," sahut Bi Ani yang masih berada dalam kamar. Ia pun segera keluar sembari membawa teko kosong tempat air minum persediaan di kamar.


Gia menarik kursi untuk Bi Ani.


"Makan yang banyak ya Bi," ucap Gia sembari menyendok nasi kedalam piring, dan menyodorkannya kepada Bi Ani.


Mereka makan saling mengobrol hanya seputar pekerjaan Gia. Setiap hari Gia masak menu yang sehat, mengingat mereka berdua memiliki riwayat penyakit yang berbeda.


"Apa hari ini kamu sudah mulai kerja lagi Nak?" tanya Bi Ani padahal sebelumnya Gia sudah memberitahu.


"Iya Bi, masa cutinya sudah berakhir," sahutnya sembari mengelap mulutnya.


Ting ting


Dering ponsel Bi Ani didalam kamar membuat mereka melirik ke arah kamar.


"Biar Gia yang ambil Bi. Bibi lanjutkan saja makannya," ucap Gia sembari beranjak dari kursi, berjalan masuk ke kamar Bi Ani.


Ia pun meraih ponsel yang diletakkan di atas kasur. "Kak Ricky!" Gumam Gia.


"*Halo kak."


"Iya halo Gia. Hmm bagaimana kabar di sana?"


"Baik Kak. Hmm ada apa Kak?"


"Istri Kakak sudah berada di klinik, dan pembukaan 4*."


"Bibi Kak Indah mau lahiran," ucap Gia segera keluar dari kamar, ingin memberikan ponsel tersebut.


"Apa?" Bi Ani tersentak kaget karena seperti perkiraan dokter menantunya itu lahiran dia minggu lagi. Gia memberikan ponsel tersebut, kebetulan tidak melakukan videocall.


"*Iya Kak, menantu Mama mau lahiran?"


"Iya Ma. Ricky sudah membelikan tiket untuk Mama. Keberangkatan Mama pukul 1 siang, sekarang Mama bersiap-siaplah."


"Iya Nak."


"Oke Ma. Sampai ketemu nanti. Hmm minta tolong kepada Gia untuk mengantar Mama ke bandara."

__ADS_1


"Iya Kak. Nanti Gia minta izin kantor untuk mengantar Bibi. Salam buat Kak Indah ya? semoga lancar."


"Iya Dek*."


Mereka pun mengakhiri.


"Bibi siap-siap, nanti pas istirahat kantor Gia akan jemput Bibi," ucap Gia.


"Nak, apa tidak apa-apa kamu tinggal sendirian? Bibi tidak bisa sebentar di sana."


Gia tersenyum sembari mengusap punggung tangan Bibi Ani. "Tidak apa-apa Bi. Bibi jangan khawatirkan Gia," ucap Gia menyakinkan Bi Ani.


"Sebenarnya Bibi keberatan tapi mau bagaimana lagi. Kakak mu sibuk dengan kerjaannya sedangkan tidak ada yang mengurus Indah," pungkas Bi Ani dengan berat hati, terlebih meninggalkan Gia seorang diri.


Gia manggut-manggut. Lalu segera berpamitan karena tidak ingin datang terlambat.


***


Tok tok


"Masuk!"


"Selamat pagi Pak!"


"Pagi!"


"Apa agenda hari ini?"


"Pagi ini kita mengadakan rapat dengan kepala keuangan. Siang usai makan siang ada pertemuan dengan klien di hotel," terang Putra.


Hmm


"Ada kabar baik. Pengajuan kerja sama kita ditanggapi oleh pihak JAYA MAJU. Besok adalah pertemuan kita dengan CEO. Pihak mereka yang mendatangi kita," imbuhnya.


"Bagus! Kamu memang dapat diandalkan!" Puji serta kagum Balin karena semua ini adalah Putra yang mengurus. "Sungguh menghormati karena CEO sendiri yang turun tangan," imbuhnya karena jarang-jarang seorang CEO langsung menemui.


"Iya Pak. Berkat BB GROUP makanya siapa pun tidak akan menolak," terang Putra. "Agar rencana ku tidak sia-sia," ucapnya dalam hati. Tidak ada yang tahu dengan rencana tersembunyi Putra tersebut.


Putra mengangguk menanggapi pujian tersebut.


***


Keesokan harinya


Seperti yang diinformasikan Putra. Siang ini adalah jadwal pertemuan mereka dengan klien pihak JAYA MAJU dari Kalimantan, yang akan berhadapan dengan CEO sendiri.

__ADS_1


"Pak klien kita sudah menunggu di ruang rapat," Putra memberitahukan.


Balin mengangguk. Meraih ponsel di atas meja. Lalu mereka keluar bersama-sama menuju ruang rapat.


"Selamat siang Pak!" Sapa Putra ketika mereka memasuki ruang rapat yang sudah ditunggui dia sosok pria.


"Selamat siang!" Sahut mereka berdua.


"Perkenalkan ini Pak Kelvin Jaya. CEO dari perusahaan JAYA MAJU. Dan saya sendiri Guntur." Asisten dari perusahaan JAYA MAJU memperkenalkan diri mereka.


"Ini Pak Balin Azura. CEO dari BB GROUP, dan saya sendiri Putra." Putra juga melakukan hal yang sama.


Mereka saling menjabat tangan sebelum membicarakan pertemuan ini.


"Sebelumnya kami sangat berterima kasih atas pengajuan kerja sama. Itu penghormatan terbesar kami." Guntur mulai membuka percakapan.


Mereka saling memberi kesempatan untuk berkomentar atas keuntungan masing-masing perusahaan. Sebagai kesepakatan perusahaan BB GROUP menanam saham 50℅.


Usai membahas kerja sama mereka kembali berbincang-bincang. Itu semua Putra sengaja memancing.


"Dalam satu setengah tahun perusahaan Bapak begitu maju dengan pesat, luar biasa!" Ujar Putra.


Kelvin mengembangkan senyuman karena tiba-tiba mengingat sosok Gia. "Ini semua berkat seseorang, sebelumnya tidak begitu!" Tutur Kelvin sembari melipat telapak tangannya.


Dahi Balin maupun Putra mengerut karena cukup penasaran. Sedangkan Guntur ikut tersenyum karena ia paham betul dengan sosok siapa yang dimaksudkan.


"Seseorang? berarti orang yang Bapak maksudkan begitu luar biasa," sambung Putra.


"Benar, beliau adalah sosok yang luar biasa. Apapun kendala yang dialami kantor beliau dapat menanganinya termasuk masalah pemasaran produk. Kami sangat berterima kasih atas kerja kerasnya. Kami pernah menaiki jabatannya sebagai sekretaris tetapi dengan kerendahan hati beliau menolaknya! Hmm beliau sosok pribadi yang tertutup, sangat sulit untuk di dekati, bahkan mengetahui masalah pribadinya." Cerita Kelvin dengan senyuman kecut karena mengingat sikap dingin Gia.


Raut wajah Putra langsung dapat terbaca karena ia tahu siapa sosok yang dimaksudkan. Ia sadar betul kecerdasan seorang Bahagiana Bahtiar, apa lagi dikatakan tertutup.


"Pasti sosok yang Bapak maksudkan seorang wanita?" sungguh hari ini Putra banyak omong, al itu membuat Balin sedikit aneh menatap asistennya tersebut. Seperti orang sok kenal saja, padahal ini pertama kalinya mereka bertemu.


Putra terkekeh kecil menyadari sorot mata Balin yang dapat ia artikan. "Mulutmu seperti seorang wanita saja, sangat kepo!" Itulah arti dari tatapan itu.


"Maaf bukan saya kepo tapi saya tertarik mendengar cerita Pak Kelvin," ujar Putra seakan menyindir umpatan Balin kepadanya.


"Beliau adalah primadona kantor. Hampir keseluruhan karyawan yang tentunya masih single terpikat kepada beliau, hmm termasuk Pak Kelvin!" Akhirnya Guntur ikut berkomentar.


Putra tersentak kaget mendengar pernyataan itu. Jika primadona kantor yang disebutkan adalah sosok Gia, bisa hancur semua karena Balin tidak akan tinggal diam.


"Tapi sayangnya sangat sulit untuk didekati karena semakin kita dekat, semakin menjauh." Kelvin menarik nafas kasar. Raut wajahnya menjadi gusar mengingat hal itu. Sekedar mengajak Gia makan siang bersama saja selalu mendapatkan penolakan dengan alasan pekerjaan menumpuk.


Bersambung....

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2