Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 71. Milikmu Seutuhnya


__ADS_3

"Sakit....." Pekik Gia sembari bergelinjang, hingga dengan terpaksa miliknya kembali di cabut. Itu hanya ujungnya saja yang masuk tapi Gia sangat kesakitan.


Balin menatap Gia yang ada dibawah naungannya. "Maaf sayang.....setahu ku rasanya seperti itu untuk pertama kali," ucap Balin dengan serak karena menahan sesuatu.


Gia mengangguk seakan paham. Memang ini yang pertama tapi ia tahu tentang yang berhubungan dengan masalah intim.


Gia melingkarkan kedua tangannya, mencium dengan lembut bibir itu. "Lakukan sayang....." bisik Gia tanpa melepaskan tautan di bibir Balin.


Mendengar permintaan Gia itu peluang besar untuk Balin, apa lagi di bawah sana sejak tadi sudah menegang.


Ssst.....


Desis Gia merasakan sakit luar biasa, merobek kulit tipis pada bagian sensitifnya. Tapi Balin pandai mengalihkan rasa sakit tersebut, dengan membungkam mulut Gia. Sedangkan tangan sebelah kanannya bermain di dada sana.


Merasakan pergerakan Gia yang menginginkan lebih membuat Balin semakin memacu hingga menyebabkan cairan pertama kali untuk Gia.


Ia meracau tidak jelas.


Butuh beberapa saat Balin juga merasakan hal yang sama, hingga cairan itu saling bergabung.


Kini keduanya terkulai lemas di atas ranjang yang sempit. Mengatur nafas yang membutuhkan akibat pertempuran mereka yang terus-menerus.


"Terima kasih sayang kamu menjaganya untuk ku," gumam Balin sembari mengecup dahi Gia dengan bahagia. Sekarang ia memiliki Gia seutuhnya.


Gia meringkuk, membenamkan wajahnya di dada kekar tersebut. Ia pun merasakan hal yang sama. Mahkota yang ia jaga selama ini dipersembahkan kepada orang yang sangat ia cintai.


"Istirahatlah untuk beberapa jam. Setelah hujan berhenti kita akan menginap di hotel, di sini begitu sempit," ujar Balin baru menyadari jika fasilitas di rumah ini tidak mendukung buat mereka memadu kasih. Maklum mereka adalah pasangan honeymoon yang tertunda.


Gia mengangguk, mengikuti saja. Ia tidak sanggup untuk berbicara. Tubuhnya begitu lemas, akibat penyerangan suaminya itu. Ia akui suaminya hebat dalam urusan ranjang, bukan hanya hebat dalam urusan kantor.


Keduanya tidak lama terlelap. Tengelam dalam mimpi.


***


Tiba di hotel


Usai makan malam, bahkan sudah larut malam baru mereka mengisi perut karena lebih kenyang santapan yang di depan mata.


"Sayang.....Stop!" Cegah Gia menepis jari jemari yang mulai nakal. "Aku lelah," adu nya dengan nada manja.


"Tapi aku pengen sayang. Sekali saja ya?"


"Besok saja ya? masih perih loh."


"Makanya selalu dilakukan biar tidak terasa sakit lagi," bujuk Balin dengan konyol.


Gia menghela nafas panjang. Suaminya ini tak ada lelahnya. Padahal tiba di hotel tadi mereka kembali melakukan, dan sekarang ia minta lagi. Bahkan tadi ia menjadi pemimpin makanya tenaganya habis terkuras.


"Aku yang bekerja, kamu santai saja. Ayolah sayang.... lihat ini, apa kamu tak kasian?" Balin menunjukkan miliknya.


GLEK


Gia menelan ludah. Wajahnya merah padam. Benda yang membuatnya mendapat kenikmatan, benda yang barusan ia mainkan seperti membuat kendi dari tanah liat.

__ADS_1


Balin kembali melakukan pemanasan yang lembut. Memberi rangsangan pada titik terlemah Gia. Seakan ia sudah tahu letak kelemahan itu.


Gia terbuai, lupa dengan rasa perih dan lelah sebagainya. Ia ikut mengimbangi. Saling memberi kepuasan masing-masing, hingga terciptalah puncak yang diinginkan.


Malam panjang tersebut seakan milik mereka berdua, tidak peduli dengan apapun yang terjadi diluar sana.


Keesokan harinya


Gia terbangun karena sebuah mimpi. Mimpi sang Papi yang tengah menunggu kepulangannya, bahkan raut wajah sedih dalam mimpi terbayang sangat jelas oleh Gia.


"Papi......! " Sentak Gia.


"Ada apa sayang?" Balin ikut terbangun, bahkan ia langsung memeriksa Gia, takut terjadi sesuatu.


"Aku bermimpi. Mimpi Papi," ucap Gia dengan tatapan sendu.


"Itu hanya bunga tidur. Papi baik-baik saja, jadi jangan khawatir. Satu minggu lagi baru kita pulang," terang Balin.


Gia menyipitkan mata karena kenapa selama itu. Bukankah sekarang juga bisa kenapa harus menunggu satu minggu?.


"Kenapa harus menunggu satu minggu? hari ini kita juga bisa pulang," ucap Gia.


Balin menggeleng. "Kita menikmati honeymoon kita di sini. Aku tidak biarkan kamu keluar tujuh hari tujuh malam," godanya sembari mengedipkan mata.


"Jangan konyol deh. Bisa tewas aku!" desah Gia ingin protes.


"Sayang..... seharusnya kamu bangga memiliki suami yang hebat di atas ranjang," ujarnya dengan bangga. "Hmm maksudku di atas dan bawah tubuh mu!" Bisik Balin kembali menggoda hingga ia mendapat cubitan halus pada pinggangnya.


Cup


"Morning kiss sayang......"


***


Di Jakarta


Putra sejak tadi mondar-mandir tak jelas didalam ruangannya. Bagaimana tidak, sampai saat ini ponsel Balin tidak bisa dihubungi. Ia ingin tahu perkembangan di sana, apakah rencananya berhasil? apakah mereka sudah saling bertemu? tapi sayangnya ia tak bisa mendapat informasi tersebut. Sedangkan Bi Ani berada di Jakarta.


"Apa yang terjadi?" tanya Putra pada dirinya sendiri. "Semoga tidak terjadi sesuatu," imbuhnya berharap semuanya baik-baik saja, bahkan Balin berhasil membawa Gia pulang.


Pria dingin itu menjadi frustasi sendiri atas rencananya sendiri.


"Ya ampun aku tidak ingat jika hari ini ada janji," gumamnya sembari merutuki dirinya sendiri karena ia ada janji dengan Rika di sebuah cafe yang tidak jauh dari kantor.


Tidak ingin Rika menunggu lama Putra melajukan kendaraan roda empatnya. Ia tahu betul jika wanita itu pasti mengumpat dirinya.


Tidak menunggu lama kini kakinya menapak cafe yang menjadi tempat pertemuan mereka. Benar saja dari kejauhan ia mendapati sosok Rika dengan raut wajah kesal sembari mengaduk-aduk minumannya dengan pipet.


Hmm


Menyadari deheman itu lamunan Rika membuyar, melirik Putra dengan malas. "Menunggu adalah suatu hal yang sangat membosankan!" Sindir Rika menyambut kedatangan Putra, 15 menit yang lalu.


"Harap maklum karena pekerjaanku banyak!"

__ADS_1


Ckck Rika tersenyum simpul karena pria itu sama sekali tak merasa bersalah, bahkan mengucapkan kalimat maaf saja begitu sulit.


"Ada apa ingin bertemu denganku? apa kamu kangen?" Rika sengaja meledek karena pria itu pantas untuk di kerjain sesekali.


"Simpan saja kepedean mu itu!"


Rika menatap sinis.


"Tujuan ku bertemu dengan mu karena ada sesuatu hal," pungkas Putra.


Rika terdiam, tiba-tiba rasa aneh menjalar di tubuhnya. Ia mulai tidak tenang.


"Ada apa denganmu?" tanya Putra menyadari gerak gerik tak wajar yang ditunjukan Rika.


"Panas..... duh sangat panas!" Gumam Rika sembari membukakan kancing baju bagian atas kemeja yang ia kenakan.


"Hentikan Rika!" Seru Putra, bahkan ia bangkit dari tempat duduknya hanya mencegah apa yang sedang dilakukan Rika.


Rika mengigit bibir bawahnya dengan gaya sensual. Sentuhan tangan Putra pada tangannya membuat keinginan lebih dalam.


Cup


Tanpa segan dan berpikir panjang Rika menyambar bibir Putra, bahkan memeluknya begitu erat seakan engan untuk dilepaskan.


Putra membeku dengan apa yang dilakukan Rika. Untung saja mereka memilih tempat tertutup untuk pertemuan itu.


"Putra tolong aku, aku tak kuat lagi. Ini sangat menyiksa!" Lirih Rika dengan nada sensual, bahkan semakin melakukan hal yang lebih gila.


"Hentikan Rika! Sepertinya dia meminum obat perangsang. Siapa yang melakukan itu?" ujar Putra dengan wajah merah padam mendapat perlakuan tidak wajar dari Rika.


"Putra......" Rika mendorong tubuh Putra hingga terduduk dengan posisi setengah terbaring, dan dengan mudah Rika duduk di pangkuannya.


Putra menelan ludah. Perlakuan agresif Rika mampu membuatnya terlena. Kini bibir keduanya saling bertautan. Putra membalas serangan Rika.


Ssst


Tiba-tiba akal sehat Putra kembali normal. Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Rika hingga wanita itu tersungkur di lantai.


Dengan penampilan amburadul. Putra memapah Rika, membawanya keluar dari cafe karena ini cukup berbahaya.


Tiba di mobil Rika meronta-ronta kesakitan. Ini sangat menyiksa dirinya. Ia harus mendapat pelepasan.


"Putra tolong aku..... ini sangat menyiksa! Apa kamu sengaja memberikan obat perangsang untukku? jika itu perbuatan mu maka kamu harus bertanggungjawab. Aku benar-benar tidak tahan," celoteh Rika yang berada di kursi bagian belakang.


"Siall! Siapa yang berani melakukan itu?" seru Putra sembari memukul setir mobil dengan wajah panik.


Ia memutuskan membawa Rika ke apartemen miliknya karena akan juga tidak tahu alamat rumah Rika. Ingin bertanya percuma saja karena wanita itu seperti orang kehausan.


Bersambung.....


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan vote like favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi

__ADS_1


__ADS_2