Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 67. Melakukan Hal Gila


__ADS_3

"Apa Putra yang memberitahukan?" Gumam Gia seakan mengingat Putra. Tapi sejenak ia menggelengkan kepala perlahan. "Sepertinya tidak! Buktinya Balin sangat kaget dengan kedatanganku, itu artinya dia memang tidak tahu dan ini hanya kebetulan saja. Lagi pula aku merahasiakan pekerjaanku selama ini, begitu juga dengan Bibi. Tidak mungkin Bibi tega mengingkari janji," imbuhnya kembali.


Gia merasa takut, takut jika pria itu nekat mendatangi rumahnya tapi ia tak punya pilihan lain selain berdiam diri di rumah. Ia memeriksa semua pintu, menutup semua gorden seakan ia tidak berada di rumah. Ia juga sengaja menyalakan lampu teras sampai belakang, untuk mengecoh siapapun yang mendatangi rumah itu.


Ya bisa dikatakan Gia sekarang phobia dengan orang-orang, ini akibat pertemuannya dengan Balin.


"Aku mohon jangan beri tahukan alamatku!" Mohon Gia seperti ditunjukan kepada Kelvin. Ia pun merogoh tas kerjanya, mencari ponsel untuk menghubungi siapapun yang tahu alamat rumahnya. "Dimana ponselku?" gumamnya dengan perasaan panik, mencari sampai isi tas kerja itu dikeluarkan semua.


Ia frustasi, baru menyadari bahwa ponselnya tak sengaja ketinggalan di ruang kerjanya. Gia pun mendesah kesal, bagaimana bisa ia menghubungi siapapun jika ponselnya saja tidak ada.


Gia duduk terdiam didalam kamar dengan perasaan cemas, takut dan tidak tenang. Jantungnya berdegup kencang tak karuan.


Tok tok


Bunyi ketukan pintu terdengar sangat jelas. Seketika tubuh Gia membeku dengan mata melebar.


Rasa takut yang sejak tadi menghantui setelah kepulangan dari kantor kini terjadi juga. Bunyi ketukan keras tersebut semakin membuatnya panik.


"Apakah itu dia? ya Tuhan jangan sampai dia!" Gumam Gia dengan wajah pucat pasi seperti habis melihat hantu di siang bolong.


***


Sepanjang jalan Balin tidak tenang. Apa lagi terjebak macet hingga beberapa menit kemudian berhasil melewati jalanan.


"Pak bisa cepat tidak?" keluh kesah Balin sembari mengusap wajah frustasinya tersebut.


"Iya Pak mohon bersabar karena ini adalah jalanan umum!" Sahut sang supir sedikit kesal karena telinganya sudah jengah mendengar seruan tersebut.


Ssst


Balin mendesah. Ingin sekali ia turun dari mobil jika seandainya ia tahu alamat Gia, maka ia tak butuh tumpangan mobil.


Kendaraan roda dua tersebut sudah memasuki perumahan kalangan bawah. Melihat hal tersebut Balin bisa bernafas lega.


"Ini alamatnya Pak sesuai yang Bapak kasi," ucap sang supir tepat berhenti di sebuah rumah sederhana.


Balin tertegun sejenak, memandang lewat jendela mobil. Hatinya sesak melihat bagaimana kesederhanaan rumah tersebut, sedangkan selama ini Gia tinggal di rumah bagai istana.

__ADS_1


Hatinya terasa miris dan sakit, mengetahui bahwa kenyataan selama ini jika wanitanya hidup dengan penuh kesederhanaan, dan bahkan rela bekerja di perusahaan milik orang lain sebagai karyawan biasa. Sedangkan dia memiliki perusahaan sendiri, bahkan perusahaan begitu pesat.


"Pak! Saya masih banyak pelanggan lainnya." Sang supir menyadarkan Balin dari lamunannya. Ia pun mengeluarkan beberapa lembar pecahan seratus ribu.


"Maaf Pak ini sangat banyak," ucap supir dengan wajah kaget.


"Bonus untuk Bapak!" Usai mengatakan itu Balin segera keluar, sungguh ia tidak sabar untuk bertemu kembali dengan wanita yang sangat ia cintai.


Dengan langkah panjang Balin membuka pagar rumah yang kebetulan tidak di gembok mungkin kuncinya rusak.


Kini ia sudah tiba di teras rumah, tepat di depan pintu. Balin kembali tertegun mendapati lampu teras yang masih menyala.


Tiba-tiba perasaannya merasa tidak enak karena berpikir bahwa rumah tersebut tak ada orang.


"Apa benar ini rumahnya? tapi kenapa lampu masih menyala?" Gumam Balin pada dirinya sendiri.


Karena tidak ingin kehilangan Gia kembali ia mencoba mengetuk pintu, walaupun ia sudah tahu jika pintu tersebut tidak akan dibukakan oleh pemiliknya, tapi apa salahnya untuk mencoba.


Tok tok


Pintu itu ia ketik tadi tak membunyikan suara. Anggap saja ia bukan Balin agar Gia mau membukakan pintu.


Didalam sana


Gia meringkuk duduk memeluk lututnya. Ia memejamkan mata mendengar pintu itu tak berhenti di ketuk.


Karena penasaran ia bangkit, keluar kamar dengan langkah hati-hati agar tak terdengar. Dengan tangan gemetar ia membuka gorden sedikit untuk mengintip siapa yang telah mengetuk pintu rumahnya saat ini.


DEG


Jantungnya ingin meledak mengetahui sosok tersebut. Apa yang ia takuti terjadi pula. Dengan jelas ia melihat Balin mengetuk pintu rumah berkali-kali.


"Gia..... buka Gia!" Panggil Balin karena sudah tidak tahan lagi. "Tolong buka pintunya, beri aku kesempatan sekali saja untuk bertemu denganmu. Oke setelah ini aku tidak akan menggangumu lagi," ujar Balin membujuk Gia. Dia harus mencari cara untuk mengelabui wanitanya tersebut.


Mendengar penuturan Balin dari celah pintu membuat Gia berpikir. Apa benar yang dikatakannya tersebut.


"Tolong Gia beri kesempatan untuk ku bertemu dengan mu sekali saja. Aku janji tidak akan mengusik mu lagi!"

__ADS_1


Gia kalah akhirnya berniat membukakan pintu karena ia juga ingin berbicara. Mereka bukan lagi sepasang suami istri. Untuk hal itu Gia ingin menanyakan bagaimana proses perceraian mereka. Satu lagi ia ingin tahu bagaimana kabar sang Papi.


KLEK


Dengan penuh pertimbangan Gia membukakan pintu. Keduanya membeku menatap ke masing-masing.


"Untuk apa lagi?" ucap Gia dengan dingin. Ia pun buang muka, dan langsung masuk tanpa menghiraukan Balin yang masih melongo berdiri mematung di depan ambang pintu.


Tidak ingin Gia kembali menutup pintu, ia pun segera masuk dan menutup pintu, bahkan menguncinya karena ia tidak ingin ada yang menganggu.


Gia menghentikan langkahnya ketika menangkap jika pintu di kunci oleh Balin.


"Buka pintunya, tidak perlu di kunci segala. Apa kata tetangga!" Ucap Gia dengan jantung bergemuruh tetapi ia berusaha tetap terlihat biasa-biasa saja.


Mendengar celoteh Gia bagi Balin sangat lucu bahkan ia merasa gemas. Tidak masalah bagi mereka berdua bahkan melakukan apapun tidak ada yang melarang karena mereka adalah pasangan suami istri yang masih sah. Bagaimana bisa orang-orang menuntut mereka.


Gia terpaksa duduk di sofa, dan diikuti oleh Balin di sebelahnya.


Balin menatap Gia tanpa berkedip. Hal itu membuat Gia kikuk tidak nyaman. Ia sengaja buang muka, tidak ingin membalas tatapan sendu tersebut.


Balin menangkup wajah Gia lalu mendaratkan kecupan tepat di bibirnya. Gia berontak tetapi tidak membuat Balin melepaskan ciuman tersebut.


"Balas ciuman ku Gia!" Desah Balin karena ciumannya tak dibalas, Gia hanya diam saja seperti patung,yang engan membalas dan tidak pula menolak. Hal itu membuat Balin merasa aneh. Dengan terpaksa melepaskan untuk sesaat.


Cup


Kembali lagi ia menciumi bibir manis tersebut. Bukan hanya sekedar menempel tetapi meng hisapp hingga masuk kedalam mulutnya.


Lamban laun Gia terbuai hingga membuatnya terlena dan menikmati ciuman hangat tersebut. Hingga menciptakan ciuman penuh kepanasan yang menggelora. Diam-diam Balin tersenyum dan membuatnya semakin memperdalam ciuman tersebut.


Balin mengangkat tubuh Gia seperti mengendong anak kecil dengan posisi depan, dengan kaki Gia melingkar di pinggangnya. Berjalan menuju kamar tanpa melepaskan ciuman tersebut.


"Stop!"


Bersambung....


🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi


__ADS_2