Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Masih Sakit


__ADS_3

BUG


Dion memukul rahang Shean cukup kuat, membuat siempunya terhuyung kebelakang.


"apa apaan kamu Dion?!" itu tuan Broto.


Baru saja Shean masuk kedalam ruangan rawat Lira, dia sudah disambut dengan bogeman mentah dari kakak iparnya. Tapi karena sifatnya yang seperti itu, dia tidak bereaksi apa apa. Hanya melihat Dion dengan tatapan tanya, yang marah malah tuan Broto.


"aku hanya memberinya peringatan Dad" jawab Dion enteng.


"peringatan apa? Shean tidak salah apa apa, tapi kamu malah memukulnya. Lihatlah memar dipipinya itu" memang terlihat warna biru keunguan dipipi kiri Shean.


"tidak salah?" Dion berdecih "dia bahkan tidak tau kalau Lira sakit, dan meninggalkannya dirumah. Bagaimana jadinya jika aku tidak tau" Dion menatap Shean nyalang.


"saya memang tidak tau" jawab Shean.


"tuh kan, apa kataku. Dia bahkan tidak peka kalau istrinya sakit, terlebih orang orang yang ada dirumah itu (kediaman pratama) tidak peduli kepada Lira-"


"tidak, bukan mereka tidak peduli" Shean membantah pemikiran Dion.


"lalu apa buktinya kalau mereka tau, mereka bahkan tidak tau kalau Lira pingsan dikamarnya" Dion bersungut sungut.


"Lira pingsan?" Shean/tuan Broto.


Tuan Broto dan Shean memang tidak tau kalau Lira pingsan, yang mereka tau hanya Lira yang dibawa kerumah sakit. Shean juga datang kerumah sakit atas pemberitahuan dari tuan Broto, bukan dari Min. Sebab Shean yang berada dikantor, dan Min yang baru menghubunginya setelah tuan Broto. Jadi Shean tidak tau kalau sebelum Lira dibawa kerumah sakit, dia sempat pingsan.


"bagaimana kamu tau?" panik tuan Broto.


Dion menghela nafas, menetralisir amarahnya.


"ya aku tau Dad, waktu itu untung saja aku menelponnya, dia terlihat merintih saat aku mendengarnya disebrang telpon. Dan beberapa saat dia tidak menjawab panggilanku, jadi tidak pikir panjang aku langsung datang melihatnya" jelas Dion.


"Huh. Jadi bagaimana kata dokter?" tanya tuan Broto.


Dion menggeleng "lebih parah" jawab Dion yang mendapat tatapan bingung dari Shean. Sedangkan tuan Broto langsung duduk dikursi yang ada disamping ranjang Lira.


"maksudnya?" tanya Shean cemas. Ya.. untuk Lira Shean bisa menunjukan wajah cemasnya.


Shean melihat tuan Broto dan Dion secara bergantian, tapi tuan Broto sepertinya tidak berniat menjelaskan. Dia terus menatap Lira sendu dan cemas.


Shean melihat Dion dengan tatapan menuntut jawaban, dan Dion terpaksa memberi tau Shean.

__ADS_1


"Huh.. baiklah. Lira sakit, mungkin sakit Menstruasi terlihat biasa. Tapi sakit diperutnya karena Menstruasi lebih lebih dari sakit perempuan perempuan lainnya..." jeda Dion. Shean menyimak dengan serius.


"jadi kalau dia tidak meminum obatnya ketika sakitnya menyerang, ya seperti inilah jadinya. Mungkin saat itu obatnya habis" Dion selesai menjelaskan, dan berjalan kesisi ranjang Lira sebelahnya.


Ekspresi Shean sulit diartikan, dia beralih melihat Lira yang masih terbaring tak sadarkan diri. Shean tidak berniat untuk beranjak dari posisinya, dia terus berdiri dalam waktu yang lama.


"maaf.. aku tidak tau" lirihnya sangat pelan, sehingga tuan Broto dan Dion tidak mendengarnya.


Shean teringat waktu awal awal mereka menikah, saat Lira keluar dari kamar mandi dan terlihat kesakitan. Shean bertanya kepada Lira, namun Lira hanya menjawab kalau dia baik baik saja. Waktu itu dia tidak peduli dengan Lira dan memilih untuk mengabaikannya.


Shean jelas tidak tau kalau waktu itu Lira juga dibawa kerumah sakit seperti saat ini, tapi karena Lira melarang untuk memberi tau Shean, jadi tidak ada yang memberi taunya. Dan yang menjadi penyebab Dion semakin tidak menyukai Shean adalah pemandangan yang dia lihat ketika perjalan pulang dari rumah sakit.


Dion melihat Shean bersama seorang perempuan yang dipastikan itu adalah Selena, mereka sedang duduk didalam sebuah kafe dan berpegangan tangan diatas meja. Itulah hal yang membuat Dion semakin tidak menyukai Shean.


☆☆☆


Lira sudah sadarkan diri ketika tiga puluh menit Shean berada diruangannya, namun dia kembali tertidur setelah bangun beberapa saat. Sudah hampir setengah hari Lira tertidur dan masih setia menampilkan wajah damainya. Shean lebih memilih Lira tidur dalam kondisi seperti ini, karena jika Lira bangun dia akan melihat kesakitan diwajah Lira dan Shean tidak mau melihatnya.


Shean menunggu Lira disampingnya, sedangkan Dion dan tuan Broto harus pergi kekantor sesaat setelah Lira tertidur. Karena keduanya harus meeting yang sempat tertunda. Sebenarnya Dion tidak ingin meninggalkan Lira bersama Shean, namun karena tuan Broto sudah turun tangan, Dion tidak bisa membantah.


Shean terus mempokuskan dirinya menatap Lira, seperti takut jika Lira menghilang dari pandangannya.


"Ugh.." Lira mulai bangun dari tidur panjangnya, perlahan dia membuka mata. Dia masih merasakan sakit diperutnya.


Lira melirik kesebelahnya dan mendapati wajah tampan Shean yang menatapnya datar, dia tersenyum hambar.


"Ya~" jawabnya lirih.


"kamu belum makan... "kata Shean dan mengambil semangkuk bubur yang ada diatas meja kecil. Memegang mangkuk dengan satu tangan, dan membantu Lira duduk dengan tangan satunya.


"ayo makan!" Shean menyendokan bubur dan menyodorkannya kehadapan Lira.


"aku bisa makan sendiri" tolak Lira.


"..."


Shean tidak mengiyakan atau menolak pernyataan Lira, namun tatapannya sudah mengatakan segalanya.


"baiklah baiklah" Lira membuka mulutnya menerima suapan dari Shean.


Baru saja tiga suapan, Lira sudah menahan sendok yang disodorkan oleh Shean.

__ADS_1


"cukup!" kata Lira "rasanya pahit" lanjutnya.


Lira mungkin masih sedikit merasakan sakit, tapi karena obat pereda sakit yang diberikan dokter. Lira sudah bisa mengembalikan tenaganya lagi untuk berbicara normal.


Shean menyimpan kembali mangkuk bubur itu, dan menyodorkan segelas air putih kemulut Lira. Dengan senang hati Lira menerimanya, namun setelah air itu manyapa bagian mulutnya, rasanya pahit.


"apa air ini diberi obat, rasanya pahit" sarkas Lira.


"kamu tidak kekantor?" tanya Lira.


"tidak" jawab Shean singkat.


"dady yang memberi taumu?"


Ya... Lira akan langsung menebak jika tuan Broto yang memberitau Shean, karena jika Dion itu tidak mungkin.


"ya" Shean menampilkan ekspresi datar yang sering ditunjukannya ke orang orang, sepertinya dia dalam suasana hati yang kurang baik.


"Maaf.. aku tidak ingin kamu khawatir" Lira menundukan kepalanya.


Shean yang melihat itu, mengangkat dagu Lira secara perlahan sehingga pandangan mereka bertemu. Shean tersenyum tipis berusaha menenangkan Lira yang saat ini tengah berkaca kaca. Lira sedang sensitif dimasa periodenya (PMS), juga saat ini dia sedang sakit. Shean juga tidak bisa marah berlebihan ke Lira, ini bukan sepenuhnya salah Lira karena tidak memberi taunya. Shean juga merasa bersalah karena ternyata dia belum sepenuhnya tau tentang Lira dan kepribadiannya.


"jangan menangis" Shean menyeka air mata disudut mata Lira.


"tapi kamu marah" lirih Lira.


"tidak, aku hanya merasa bersalah" kata Shean.


"wajahmu kenapa?" Sepertinya Lira baru sadar jika ada sesuatu diwajah Shean.


"luka lebab? kenapa bisa?" tanya Lira.


"ini..." Shean ragu.


"Aku tidak pernah melihat luka diwajahmu, apa yang kau lakukan, tepatnya siapa yang melakukannya?" Lira marah dengan siapa yang memukul Shean.


"..."


"siapa She?"


"Aku" sontak Lira dan Shean melihat kearah sumber suara.

__ADS_1


"kak Dion?"


__ADS_2