
Gia berlari seperti habis melihat hantu. Sampai dimana tempat Nia menunggunya ia langsung menarik tangan Nia. Seperti menyeret membawa keluar dari mall.
Nia kaget dan tak mengerti dengan apa yang dilakukan Gia. Tanpa berucap apapun Gia mengajaknya berlari.
Tiba di sebuah drive online yang mereka pesan Gia bernafas lega karena berhasil lari dari Rika. Ia tidak ingin Rika memberitahu keberadaannya.
"Jalan Pak!" Titah Gia karena tidak ingin dilihat oleh Rika.
"Ada apa Gia? apa yang terjadi?' tanya Nia di sela nafas memburunya karena kelelahan sekalian kaget. Hal yang dilakukan Gia membuat dadanya berdetak.
Huh....
Gia menarik nafas kasar.
" Tidak ada, aku hanya ingin mengerjai mu saja. Hmm kamu pasti kaget bukan? yup aku berhasil!" Lelucon Gia yang berhasil membuat Nia melototkan mata.
"Pliss lelucon mu konyol Gia! Hampir saja jantungku meledak," tutur Nia dengan bibir mencabik.
Gia membentuk mulutnya seperti balon. Ia merasa bersalah karena telah membohongi sahabatnya itu. Untuk sekarang ia masih belum siap menceritakan siapa jati dirinya.
Sedangkan didalam sana Rika berlari ke sana sini mencari sosok Gia. Sampai-sampai disumpahi beberapa orang karena sesuka hatinya menabrak.
"Sialll!" Umpatnya dengan nafas terengah-engah ketika menyudahi pencarian Gia. "Seharusnya tadi aku tidak melepaskannya," imbuhnya dengan frustasi. Ia tak menyangka kunjungannya ke Bandung telah mempertemukan dirinya dengan Gia. Selama ini diam-diam Rika juga mencari keberadaan Gia.
Ia pun segera meraih benda pipih itu. Lalu mengirim pesan kepada seseorang.
"Apa mungkin Gia selama ini tinggal di Bandung?" gumam Rika sembari mengusap wajahnya. Ia pun segera berjalan ke parkiran.
***
Tiba di hotel Gia menenangkan dirinya. Pernyataan Rika tadi membuat ia berpikir keras. Apa benar semua yang dia katakan? apa benar itu hanya sebuah kesalahpahaman saja? apa benar yang diungkapkan Balin pada saat itu untuk dirinya? itulah kalimat yang ada di kepala Gia. Tanpa sadar air mata mengalir begitu saja, ingatan selama 6 bulan itu kembali membuat dadanya sesak.
Rika? ya Rika! Apakah wanita boros itu sekarang berubah? Gia termenung melihat bagaimana ekspresi wajah Rika ketika bertemu dengan dirinya, bahkan dia minta maaf.
Drrrtt
Getaran ponsel di atas kasur membuat lamunannya membuyar. Ternyata itu panggilan dari Putra. Gia melebarkan mata, kenapa tiba-tiba Putra menghubungi dirinya. Apakah Rika sudah memberitahu mereka atau apakah mereka juga berada di kota yang sama? Gia semakin gundah.
"Apa yang harus aku lakukan? tidak mungkin dia minta pulang sekarang, sedangkan jadwal mereka terbang besok sore.
TING
Satu pesan masuk. Dengan perasaan ragu Gia membuka pesan tersebut. Ia berharap hal yang kini membuatnya takut tak terjadi.
__ADS_1
" Rekaman!" Gumam Gia dengan dahi mengerut. Tapi rasa penasaran sangat besar karena itu dari Putra.
Gia memutar rekaman suara tersebut dengan dada bergemuruh.
Deg
Ia membeku mendengar setiap kalimat yang dilontarkan seseorang dalam percakapan tersebut. Gia membungkam mulutnya tidak percaya, ia mengelak bahwa ini hanya permainan semata.
Rasa kecewa dan di khianati menutup hatinya untuk menerima hal-hal yang berkaitan dengan masalah masa lalunya.
"Tidak! Ini tidaklah benar. Aku tidak percaya dengan semuanya," Gumam Gia.
Jujur saja dari lubuk hati yang paling dalam ia sangat senang mendengar pengakuan itu. Di tambah lagi pernyataan Rika tentang mantan suaminya. Tapi sakit hati menutup akses untuk sebuah kepercayaan.
Gia menolak semua yang ia dapatkan berturut-turut. Ia tak percaya dengan semua itu. Ia tak ingin terjebak kembali karena pada akhirnya rasa sakit yang ia dapatkan.
Gia menghela nafas panjang. Dadanya begitu sesak. Ia berusaha tenang seperti tak terjadi sesuatu yang mengejutkan. Ya rekaman serta pertemuannya dengan Rika adalah kejutan luar biasa.
Drrtt
Ponselnya kembali bergetar. Gia menghela nafas kasar karena ia pikir Putra lagi yang menghubungi dirinya.
Karena berkali-kali bergetar terpaksa pandangannya beralih ke benda pipih tersebut.
"Halo Nia!"
"Kamu ngapain sih lama amat?"
"Maaf tadi aku lagi di kamar mandi."
"Segera bersihkan dirimu. Malam ini kita makan di cafe yang terkenal di kota ini. Mumpung gratis, bos yang mentraktir karena kinerja kita memuaskan."
"Sepertinya aku tidak bisa."
"Kenapa? apa kamu sakit?"
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya kelelahan saja. Kalian pergi saja, aku pesan makanan saja."
"Baiklah!"
Mereka pun mengakhiri percakapan. Gia sebenarnya ingin ikut tapi resikonya terlalu besar. Bisa saja di luar sana ia kembali bertemu Rika atau yang lainnya.
Untuk menyegarkan pikirannya ia beranjak masuk ke kamar mandi. Merendahkan diri dengan air dingin di sebuah bathup. Selama ini hanya di sebuah hotel dirinya menikmati fasilitas lengkap.
__ADS_1
***
Di sebuah cafe tempat pertemuannya dengan klien sesosok pria itu tersenyum bahagia. Bahagia karena mendapat informasi dari Rika yang mengatakan jika dirinya bertemu dengan Gia.
"Maaf Pak karena terjebak macet," ujar Putra.
"Kau sangat lama!" Desah Balin dengan raut wajah kesal.
Putra menunduk karena ia menghabiskan waktu selama 20 menit menuju cafe karena terjebak kemacetan dikarenakan ada kecelakaan.
"Sekarang kita berangkat ke Bandung menggunakan mobil, karena lebih cepat dibandingkan menggunakan maskapai penerbangan," ujar Balin.
Dahi Putra mengerut karena sepengetahuannya tidak ada pekerjaan di sana.
"Putra!" Sentak Balin karena pria itu hanya diam saja seperti orang keheranan.
"Iya Pak. Jika boleh saya tahu tujuan kita ke Bandung, apakah ada pekerjaan?" tanya Putra karena cukup penasaran.
Balin menatap Balin dengan senyuman lebar. Putra kaget karena hanya sebuah senyuman. Yang ia tahu selama kepergian Gia tidak ada senyuman, tawa yang dipancarkan pria tersebut.
"Rika baru saja menghubungiku. Memberitahu bahwa ia bertemu dengan Gia di sebuah pusat perbelanjaan, bahkan mereka sempat berbincang-bincang. Maka dari itu sekarang juga kita berangkat, aku tidak ingin kehilangan dirinya lagi." Terang Balin.
Putra kembali kaget karena yang ia tahu bahwa Gia selama ini tinggal di pontianak. Tetapi informasi yang diberikan Rika sedikit membuatnya tidak percaya.
"Apa Bapak yakin dan percaya hal itu?" tanya Putra dengan ragu hasil yang disampaikan Rika.
Balin mengusap dagunya, apa yang dikatakan Putra ada benarnya juga. Seketika hatinya yang bahagia lenyap seketika setelah mendengar keraguan dari Putra.
"Sepertinya Rika tidak bohong. Dia sudah berubah sekarang!"
"Hmm apa Ibu Gia sekarang bersama-sama dengan Bu Rika?"
Balin menggeleng lemah. "Gia melarikan diri ketika Rika lengah sedikit," lirihnya dengan gusar.
Putra terdiam, apa benar saat ini Gia berada di Bandung? karena penasaran diam-diam ia mengirim pesan kepada Bi Ani.
Tidak lama pesan itu terbalas. Mata Putra membulat membaca pesan tersebut yang menyatakan Gia memang berada di Bandung, itu membuktikan jika Rika tidaklah berkata bohong.
"Baiklah Pak, mari kita buktikan!" Ya Putra ingin membantu Balin untuk bertemu dengan Gia. Sudah cukup bagi keduanya hidup terpisah. Mudahan saja di sana Tuhan mempertemukan mereka. Hingga membuatnya yakin mengirim rekaman beberapa bulan yang lalu.
Bersambung.....
🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi.