Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Episode: 48. Pergi


__ADS_3

Gia melirik pria paruh baya tersebut dengan tatapan sendu. Pria yang telah membuatnya kembali terluka.


"Sejak kapan kamu mempersiapkan semuanya itu Gia?" suara bariton itu kembali menggema. .


Gia tersenyum miris mengingat sejak kapan ia mempersiapkan berkas tersebut. Ya ia mempersiapkannya sebelum mereka menggelar pernikahan satu tahun yang lalu.


"Sejak kapan sepertinya itu tidak penting," sahut Gia tanpa ingin menarik keputusannya.


Sebelum ia membubuhkan tanda tangan, ia sekilas menatap Balin yang sejak tadi menatapnya dengan sendu.


Tatapan keduanya saling mengunci, sorot mata keduanya saling memiliki perasaan yang sulit diungkapkan.


"Demi apapun jangan lakukan itu Gia!" Begitulah arti dari tatapan itu.


"Hati ini terlalu sakit hingga sulit untuk di kendalikan!" gumam Gia dalam hati.


Gia menghela nafas panjang tangannya mulai bergerak.


"Jika kamu masih bersikeras untuk bercerai, itu artinya mulai saat ini kamu bukan siapa-siapa di keluarga ini!" Ancam Papi tidak main-main.

__ADS_1


Gia tertawa kecil, ia tahu jika itu hanya sebuah ancaman. Oleh karena itu ia tak perlu takut, walaupun benar-benar ini tak masalah baginya karena hati ini terlalu sakit.


Tanpa ingin menjawab Gia langsung membubuhkan tanda tangan itu dengan dada sesak. Ia sudah pasrah pernikahan yang seharusnya sekali seumur hidup kandas di tengah jalan.


Ia menarik nafas sedikit lega, walaupun ini sulit untuk diterima tapi inilah yang terbaik dari pada tetap bertahan.


Darah Papi mendidih dengan apa yang dilakukan putri semata wayangnya. Dimana Gia telah mendatangani berkas resmi tersebut.


"Sesuai keinginan Papi, Gia akan keluar. Jangan khawatir karena Gia tidak akan pergi membawa sepeser apapun dari rumah ini," ucap Gia berusaha tenang, padahal dalam hati ia ingin sekali menangis. Kalimat yang ia lontarkan tidak sesuai dengan hatinya.


Gia bangkit, memandang sejenak kamar miliknya itu dengan tatapan pilu.


"Terima kasih Pi atas semua kebahagiaan yang Papi berikan selama ini, seperti makna nama Gia yaitu Bahagiana," ucap Gia dengan getir. Kalimat itu hanya ingin menyindir karena selama ini rasa luka yang terus ia terima.


"Semua berkas penting dan perhiasan pemberian Papi ada di brangkas. Papi masih hafal bukan kodenya? jika lupa ingat saja tanggal pernikahan Papi dan Mami Gia." Usai mengatakan itu Gia berlalu, melangkah gontai keluar kamar tanpa membawa apapun, bahkan ponsel pribadinya ia tinggalkan di atas meja sofa. Karena semua itu pemberian dari sang Papi.


"Gia tunggu!" Teriak Balin ingin mengejar Gia tapi dihadang oleh sang mertua.


"Biarkan dia. Itu hanya ancaman saja!" Ujar Papi hingga membuat Balin mengurungkan niatnya karena ia juga berpikir seperti itu.

__ADS_1


"Gia!" Panggil Balin kembali, berharap wanita itu kembali datang.


"Mi, Rika tunggu Papi di ruang tengah!" Tegasnya dengan raut wajah muram.


Mami mmMaya maupun Rika menurut, berlalu dengan kepala menunduk. Mereka sudah tahu apa yang akan terjadi.


"Pi apa sebaiknya aku susul? sepertinya Gia tidak main-main," papar Balin tidak tenang.


"Tenanglah, dia tidak akan nekat. Itu hanya ancaman semata," ujar Papi masih menganggap itu hanya ancaman Gia saja.


"Aku tidak ingin perceraian ini Pi, aku sudah mencintai Gia sepenuh hati. Bukan menganggap Gia sebagai orang lain," ungkap Balin dengan kejujuran hatinya.


Papi tersentak kaget mendengar pengakuan Balin. Tapi masalahnya sekarang menjadi hancur gara-gara rahasia itu terbongkar.


"Papi ikut senang mendengar pengakuan mu. Kejarlah dia, dan katakan kepadanya sekarang!" Titah Papi dengan menggebu.


Tanpa berpikir panjang Balin berlari kecil keluar kamar. Mencari Gia di luar sana.


Bersambung....

__ADS_1


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi.


__ADS_2