
Gia menjalani kehamilannya dengan bahagia. Balin sebagai suami, siap siaga. Tak jarang Gia mengeluh dengan kehamilannya karena calon buah hati mereka sangat aktif.
Seperti malam ini Gia terbangun dari tidurnya dengan tiba-tiba karena gerakan aktif sang buah hati.
"Sayang, bangun dong." Gia membangunkan suaminya yang tengah tidur pulas. Tidak sulit untuk membangunkan, dalam sekejap suaminya beranjak.
"Ada apa sayang?" tanyanya dengan nada parau, berusaha membuka mata.
"Anak kita terjaga, makanya aku terbangun. Ayo kamu ajak bicara," ucap Gia sembari mengusap perut yang sudah membesar karena kehamilannya memasuki bulan ke sembilan, dalam arti menunggu harinya saja.
Dengan spontan Balin kembali baring telungkup, meletakkan wajahnya ke perut Gia tangan mengusap lembut perut itu.
"Sayang, kenapa bangun? Apa kamu ingin Papi jenguk?" ucap Balin yang nyaris membuat Gia menepis tangan nakal itu, namun sudah keburu masuk.
"Sayang, jangan mesum deh!" protesnya sembari menahan geli.
Balin tersenyum menggoda. "Ini kode anak kita sayang, sepertinya dia harus vitamin." sekali lagi ucapan suaminya membuat wajah Gia merah padam. "Baiklah sayang karena ini keinginanmu, maka Papi akan menjenguk kamu." Tanpa peduli dengan tatapan istrinya, ciuman dahsyat di bibir Gia tidak dapat dihindari lagi. Ciuman itupun semakin menuntut, ke-duanya terbuai hingga sesuatu pun menghentikan kegiatan mereka ketika Gia merintih kesakitan.
"Awww, sayang perutku sangat sakit, sepertinya ingin ke kamar mandi. Aduh sakit sekali....!" teriak Gia sembari memegang perutnya yang terasa nyeri dan mules.
Balin yang kaget menjadi panik. Dengan segera membawa Gia ke kamar mandi karena mengira sakit mules biasa.
__ADS_1
Gia masih menjerit hingga cairan putih sedikit merah mengalir. "Sayang, sepertinya aku mau lahiran. Aduh sakit sekali!" lirihnya.
Dengan cekatan Balin menggendong Gia. Membawa ke rumah sakit, yang pastinya dengan perasaan panik karena tidak tega melihat orang tercintanya kesakitan.
Tiba di rumah sakit Gia langsung di tangani. Balin ikut dalam proses kelahiran buah hati mereka. Karena pembukaan akhir hingga tidak lama bayi mungil itu lahir ke dunia tanpa kekurangan apapun.
Bahagia, haru menjadi campur aduk yang dirasakan pasangan harmonis itu. Tangisan bayi yang sejak lama dirindukan, kini mereka dengar untuk pertama kalinya hingga ke-duanya meneteskan air mata kebahagiaan.
"Sayang, terima kasih atas perjuanganmu. Putra kita sangat tampan." Balin menggendong bayi mereka setelah di bersihkan, lalu mereka sama-sama menciumi calon pewaris keluarga Bahtiar.
"Kamu sangat tampan sayang, seperti Papi mu. Selamat datang ke dunia. Terima kasih karena hadir menyempurnakan kebahagiaan keluarga, terutama Mami sama Papi," Gia berucap dengan haru. Dokter beserta suster ikut terharu melihat pasangan yang baru di karunia buah hati, dari awal mereka juga berperan penting atas kehamilan Gia.
"Selamat Pak Balin dan Ibu Gia, kami turut bahagia. Putra Bapak dan Ibu sangat tampan, sepertinya akan ada saingan Pak Balin," ucap dokter sembari tersenyum.
"Sepertinya dia akan menjadi calon playboy."
"No sayang!" Gia tidak setuju dengan sematan itu, walau hanya sekedar menduga.
*
*
__ADS_1
Satu bulan kemudian
Raja Baba Bahtiar sudah berusia satu bulan. Ya, nama itulah yang mereka berikan kepada putra semata wayang mereka.
Raja nama panggilannya sedang di gendong Kakek sama Neneknya bergantian. Di usia Raja genap satu bulan baru berjumpa dengan cucu laki-laki semata wayang mereka.
Dua bulan yang lalu Kakek dan Nenek Raja ke luar negeri, untuk menemui Rika yang juga baru melahirkan anak ke dua. Ya, Rika bersama Putra menetap di luar negeri. Mereka di karunia tiga anak perempuan semuanya.
"Lihat Pi, bibir dan rahang, wajahnya fotocopy Papinya, sedangkan mata dan hidungnya fotocopy Maminya. Kamu sangat tampan sayang," ucap Mami Maya dengan bahagia, tidak henti-hentinya menciumi Raja hingga membuat Raja tidka nyaman.
"Benar Mi. Cepat besar Nak, biar tinggal sama Kakek dan Nenek."
"Tidak mau Kek. Raja tidak mau tinggal sama Kakek maupun Nenek." Gia mewakili Raja.
"Biar saja sayang, kasian Kakek dan Nenek Raja kesepian. Bukankah itu kesempatan buat kita beru Raja Adik lagi?" Balin mulai menggoda.
"Kamu kira gampang?"
Mereka pun tertawa, penuh kebahagiaan. Tangisan bayi yang sejak lama dinantikan, bahkan bertahun-tahun kini hadir ditengah keluarga mereka.
Kesempatan terbaik selalu datang saat sabar menunggu. Kesabaran bukan hanya kemampuan untuk menunggu, melainkan bagaimana kita bersikap saat kita menunggu.
__ADS_1
...SELESAI...