
Satu Minggu kemudian
Sandra menghirup udara sebanyak-banyaknya saat ia turun dari pesawat jet milik keluarga Lawrence.
Awalnya Sandra tidak ingin mencolok, ia ingin naik pesawat komersil, ia rindu suasana naik pesawat komersil, namun Aidan bersikeras jika, ini salah satu syarat ia memperbolehkan Sandra terbang ke negara ini.
"Nyonya muda, mobil sudah siap"
"Terima kasih" ucapan Sandra
"Nenek, Bu Merry aku datang" ucap Sandra sumringah.
Tujuan awal Sandra adalah menuju makam nenek nya dan Bu Merry yang letaknya berdekatan, ia mampir ke toko bunga langganannya,
Sayang pemilik toko sudah berganti, sehingga Tak mengenali Sandra.
Sandra lalu menuju makam nenek Ajeng, alisnya berkerut, diatas pusara ada bunga segar, tanda seseorang juga baru saja datang, Sandra meletakkan bunga Lilly kesayangan nenek Ajeng,
"Nenek maafkan cucu mu yang tidak berbakti, aku datang hanya sendirian. Kini nenek sudah punya dua cicit kembar yang menggemaskan, suatu saat aku akan membawa mereka"
Setelah dari makam nenek Ajeng, Sandra tak lupa berziarah ke makam kakeknya,
Setelah itu Sandra menuju makan ibu Merry, ia meletakkan mawar merah kesukaan Bu Merry
"Ibu Sandra Sandra datang, ibu dapat salam dari Olla, kamu sekarang rukun Bu seperti yang ibu inginkan. Olla juga menyelamatkan Sandra, takdir mempertemukan kami, Olla dan Sandra kini saling menyayangi, ibu tak perlu khawatir lagi" ucapan Andra membelai nisan Merry.
Angin semilir mengantar kepergian Sandra keluar dari komplek pemakaman.
__ADS_1
Sandra tak ingin di ganggu, ia meminta para bodyguard nya menanti di mobil saja karena ia ingin sendirian
Melewati komplek makam yang berada di atas pegunungan ,Sandra di kejutkan oleh suara orang berkelahi, ia melihat satu orang di keroyok sepuluh orang, jelas pria muda itu kewalahan
"Dasar berandalan" gumam Sandra lalu melempar tas nya menerjang, menendang salah seorang preman.
"Siapa kau jangan ikut campur"bentak salah seorang preman
"Loe pada Cemen banget masa mainnya keroyokan" ejek Sandra
"Bukan urusan loe"
"Apa kau baik-baik saja??" tanya Sandra saat pemuda itu menoleh Sandra merutuki kebodohannya ,pria itu bukan orang asli Indonesia terlihat dari wajahnya
"Aku babak belur" ucap pemuda itu membuat Sandra sedikit terkejut, pria bule itu bisa bahasa Indonesia walau dengan lihat aneh
"What?????" tanya Pemuda itu bingung dengan. Kalimat Sandra
"Habisi mereka baru bicara" ucapan Andra memberi kode. Sandra dengan gesit merobohkan satu persatu preman yang mengeroyok, ia sudah melumpuhkan lima orang, sementara pendiam itu baru dua, itu karena perut pemuda itu terluka.
Dalam setengah jam semua preman berhasil di lumpuhkan. Sandra membawa Stalin ke klinik terdekat, Stalin mendapatkan beberapa jahitan, beruntung luka ny tidak terlalu dalam
"Are you ok????"
"Ya baik" ucap pemuda itu sambil menjulurkan tangannya
"Stalin"
__ADS_1
"Sandra" ucapan Sandra
"Bahasa Indonesia kamu lumayan"
"Terima kasih nona Sandra, anda keren"
"Hahaha, aku anggap pujian. Lain kali jangan lewat tempat sepi. Daerah sini rawan" ucapan Sandra
Stalin terus menatap Sandra, entah mengapa ia merasa perasaan hangat dan bahagia yang sulit ia ungkapkan, Sandra mengingatkannya pada ...
Dia mirip Amanda, mamanya namun dalam versi muda. Yang membedakan adalah mata Sandra biru namun wajah , rambut semua mirip Amanda, Stalin jadi membayangkan bagaimana saat Amanda muda dulu
"Baiklah, aku harus pergi"
"Apa boleh aku mentraktir mu makan sebagai ucapan terima kasih???"
"Mungkin lain kali"
"Baiklah, ini kartu namaku, jika kau memiliki waktu tolong hubungi aku" ucap Stalin tak rela Sandra pergi
"Baik tuan tampan, sampa jumpa dan jaga dirimu" ucap Sandra, bodyguard sudah menanti Sandra, mereka langsung menuju ke kediaman keluarga layla.
"Mengapa aku merasa sangat dekat dengan Sandra padahal ini pertemuan pertamaku dengannya" gumam Stalin menatap kepergian Sandra.
Sandra sengaja tak mengabarkan kedatanganya pad Layla, sehingga gadis itu terkejut bukan main, ia kesal namun juga senang,
Kedatangan Sandra juga sekalian untuk menghadiri pesta syukuran empat bulanan kehamilan istri Reihan
__ADS_1