Perjanjian Pernikahan

Perjanjian Pernikahan
Datang ke acara Pertemuan


__ADS_3

Lira terlihat anggun dengan gaun pendek berwarna hitam dipadu hiasan berlian yang kerlap kerlip, bukannya sombong, tapi Lira harus mendukung Shean yang sekarang menggunakan tuxedo hitam dengan kemeja putih didalamnya. Harga baju mereka bukan main main, ratusan juta bahkan hampir satu M. Tidak heran, karena Lira dan Shean berasal dari keluarga kaya raya, ditambah Shean adalah seorang CEO diperusahannya.


Shean harus menghadiri pertemuan dengan para pengusaha disebuah hotel mewah di kota S, yang jelas Lira harus ikut sebab para kliennya yang lain juga membawa pasangan masing masing.


Anak nak tuan Pratama beserta istri istri mereka ikut menghadiri acara pertemuan itu, karena pada dasarnya mereka adalah para pengusaha muda.


Jam tujuh malam Lira dan Shean sudah siap di ruang tamu menunggu yang lainnya turun, setelah semuanya berkumpul mereka berangkat bersama. Tentu tidak satu mobil, melainkan membawa mobil masing masing bersama pasangannya.


Didalam mobil mewah berwarna silver, Lira duduk terdiam melihat keluar jendela. Lampu lampu jalanan yang dilewati mereka sangat indah dipenglihatannya, sedangkan disampingnya Shean sedang sibuk mengemudi.


"She?" panggil Lira.


"mm"


"berapa jam kita sampai tempat tujuan?" tanya Lira.


"satu jam"


Lira hanya mengangguk, Shean tidak mengalihkan atensinya dari jalanan mengingat keselamatan mereka. Shean membawa mobil dengan kecepatan sedikit diatas rata rata, karena jarak hotel dan rumah yang cukup jauh.


Dreett


Dreett


Dreett


Ponsel didalam tas kecil berwarna hitam berbunyi, Lira langsung mengambil dan mengangkatnya dengan cepat.


"Halo Say"


Shean sedikit melirik Lira yang tengah mengangkat telepon, karena mendengar nama orang yang menelponnya.


"kamu juga datang kesana?" Lira tersenyum cerah.


"..."


"Ok. sampai jumpa disana, By" Lira menutup telpon dan tersenyum melihat layar yang gelap.


suasana hati Shean sedikit menurun karena orang yang menelpon Lira, tapi dia tidak ingin bertanya atau mengatakan apapun. Yah memang sifat Shean yang irit bicara.


"She.."


"mm"


"apa menurutmu dady tau?"


"tau apa?" Shean memelankan laju mobilnya.


"kau tau, perjanjian itu" Lira menatap Shean sendu.


"kenapa tiba tiba bertanya seperti itu?" tanya Shean.


"waktu dady datang kerumah, dia pernah menanyakan sesuatu padaku.." jeda Lira "apa kau memperlakukanku dengan baik" lanjutnya.

__ADS_1


"apa?"


"dady bertanya seperti itu padaku. Dady adalah orang yang mendukung hubungan kita, namun waktu itu dia seakan meragukanmu" jelas Lira.


Shean terdiam berusaha mencerna apa yang Lira katakan, dia tersenyum melihat Lira. Melepas satu tangannya dari stir, dan mengusap lembut pucuk rambut Lira.


"jangan khawatir!" kalimat singkat yang terdengar meyakinkan, membuat Lira sedikit lega.


"Um" gumamnya.


"tapi apa kau menyimpan perjanjian itu ditempat yang tersembunyi?" tanya Lira.


Shean lagi lagi terdiam, sedetik kemudian tersenyum menatap Lira singkat dan kembali pokus kedepan.


Lira membalasnya dengan senyuman, menganggap semua akan baik baik saja. Namun siapa tau yang dipikirkan Shean, bahkan Lira yang notabenenya bisa 'mendengar' suara hati orang lain. Tidak bisa tau apa yang Shean pikirkan dan sembunyikan.


☆☆☆


Sekitar jam delapan malam, Lira dan Shean sampai ditempat tujuan. Keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk dengan bergandengan tangan, melangkah dengan elegan. Tidak sedikit mata yang melihat kearah pasangan muda yang sangat cocok itu. Lira tersenyum ramah menyapa semua yang sudah sampai disana lebih dulu, sedangkan Shean hanya menampilkan wajah datar.


Sampai disalah satu sudut ruangan, Lira menangkap sosok orang yang sangat dia kenal.


"Say!" Lira melepas gandengannya ditangan Shean, dan melangkah mendekati Say.


Tidak tau saja kalau wajah Shean yang datar menjadi semakin suram dan gelap.


"She" seseorang menepuk pundak Shean sebelum dirinya menyusul Lira.


Shean mengikuti pria yang lebih tua darinya tanpa mengatakan apa apa.


Disisi lain, Lira sedang duduk bersama Say melihat ketengah aula besar itu, banyak wanita dan laki laki dari kalangan elit dan punya status didunia perbinisan yang sedang berbincang bincang.


"dengan siapa kamu kesini?" tanya Lira setelah sekian lama terdiam.


"Sendiri" Say memegang gelas minuman ditangannya "kamu?" tanya nya.


"aku bareng Shean dan juga para saudaranya yang lain. Tapi aku tidak melihat mereka sekarang" Lira mengedarkan pandangannya keseluruh aula, namun sosok yang dia cari tidak terlihat.


Aula besar dihotel mewah itu memang sangat besar dengan banyak tamu undangan yang hadir keacara itu, cukup menyulitkan untuk mencari seseorang.


"kau mengkhawatirkannya?" tanya Say.


"tidak.. hanya saja aku merasa bersalah karena pergi menemuimu tanpa memberi tau dia" Lira masih mencari cari Shean dengan penglihatannya.


"Oh say, aku akan mencarinya" Lira bangkit dari duduknya.


"aku temani" Say berdiri dan berjalan berdampingan dengan Lira, berbaur dengan orang lain ditengah aula.


"aku pergi karena tidak ingin berlama lama dengannya, 'mendengar' dia 'berbicara' membuatku merasa bersalah. Dia malah menawarkan diri untuk menemaniku"


Lira sedikit melamun sampai sampai dia tidak sadar kalau didepannya ada orang yang sedang berdiri.


Buk

__ADS_1


Hampir saja Lira terjatuh kalau saja Say tidak menangkap tepat dipingganya. Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu, sampai seseorang menarik Lira kedalam rangkulannya.


"She?" Shean menatap Lira datar, kemudian beralih menatap Say didepannya.


Shean menempatkan tangannya dipinggang ramping Lira dan memeluknya erat, terlihat intim dipandangan orang lain. Shean menatap Say dingin, tanpa berkata apapun.


"euh She.." Lira berusaha sedikit menjauh dari Shean, karena tidak nyaman dalam posisi seperti itu.


Alih alih melonggarkan pelukan dipinggang Lira, Shean semakin memeluknya erat. Lira sudah paham tabiat Shean dan membiarkannya terus memeluk pinggangnya intim.


Say tersenyum kecut melihat pemandangan didepannya, yang membuatnya iri.


"Ra, aku kesana dulu ya" Say menunjuk kerumunan orang "suamimu juga sudah ketemu" Say tersenyum ramah kemudian pergi meninggalkan Lira dan Shean.


☆☆☆


Lira melemparkan dirinya diatas tempat tidur, dan merebahkan dirinya disana. Cukup melelahkan menghadiri acara seperti itu, karena dia baru pulang jam satu malam. Perjalanan yang menghabiskan waktu satu jam, membuatnya harus duduk lama dikursi mobil. Akibatnya dia merasa pegal dan kaku dipinggangnya.


"sudah tidur?" Shean duduk disamping Lira.


Lira mendudukan dirinya, menampilkan wajah lelah yang sangat kentara.


"apa kau sering datang ke acara seperti itu, bukankah sangat melelahkan?" Shean tersenyum tipis menanggapinya.


"cuci wajahmu sebelum tidur" kata Shean.


"aku sudah malas untuk sekedar mencuci muka, aku mau langsung tidur saja" Lira berniat membaringkan tubuhnya lagi, namun ditahan Shean.


"ada apa?" Lira tidak bersemangat.


"kamu sering bertemu dengannya?"


"siapa? Say? sudah lama sejak sebulan yang lalu. Dan tadi baru bertemu lagi" Lira sedikit menutup matanya.


"apa kau sangat lelah?" Jelas itu tidak perlu ditanyakan.


"menurutmu?! sudahlah ayo tidur!"


"kamu mengajakku TIDUR bersama" Shean menekankan kata tidur didalam perkataannya.


lelah dan kantuk yang sudah menyapa membuat Lira tidak sadar dengan ucapan Shean yang sedikit ambigu.


"Um" jawabnya dan hampir saja terjatuh membentur kepala ranjang kalau tidak ditahan Shen.


Shean menempatkan Lira didalam pelukannya, sedangkan Lira mungkin sudah tertidur.


"aku tidak akan pernah melepasmu.." jeda Shean "apapun keadaannya" suaranya mengecil dikalimat terakhir.


Shean mengelus punggung Lira kemudian beralih mengelus rambutnya, berusaha menyamankan Lira didalam pelukannya. Terdengar dengkuran halus dan nafas yang sudah teratur, menandakan Lira sudah meluncur kealam mimpi.


Shean membaringkan Lira dengan nyaman, menarik selimut sampai dada, kemudian mengecup kening Lira cukup lama.


Shean tidak tidur ditempat tidur bersama Lira, takut jika dia tidak bisa mengontrol hasrat memiliki terhadap wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Bukan Shean masih ragu dengan perasaannya, tapi dia hanya ingin menunggu kesiapan Lira. Dan juga masalah yang disebabkan oleh perjanjian itu belum selesai, apalagi bertambah lagi orang yang mengetahui tentang masalah itu.

__ADS_1


__ADS_2