
3 jam lebih mereka tiba di Bandung. Tapi Balin bingung harus mencari keberadaan Gia dimana. Tidak mungkin mencari di saat tengah malam begini. Hingga mereka memutuskan langsung ke hotel untuk malam ini. Esok harinya ia akan mencari keberadaan Gia.
Tiba di kamar hotel Balin merebahkan tubuhnya yang kelelahan. Ia sibuk mengotak atik ponselnya karena sampai detik ini rasa kantuk belum juga menjerat matanya. Bayangan wajah Gia membuat hati dan perasaannya tenang.
"Sayang aku mohon ini akhir pencarian ku," gumamnya sembari mengamati wajah cantik Gia dalam layar ponselnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan ketika rasa amat rindu itu menjerat hatinya.
Keesokan harinya
TING
Pesan masuk membuat Gia melirik ponsel yang tergeletak di atas kasur. Ia baru saja usai membersihkan diri.
[Gia kita-kita ketemu di restoran bawah. Gak pake lama!]
Itu pesan dari Nia yang beda kamar. Gia berpikir sejenak, saat ini ia masih waspada karena tidak ingin bertemu dengan siapapun di kota ini. Yang berhubungan dengan masa lalu.
[Maaf Nia aku sarapan di dalam saja. Aku sudah pesan sarapan.]
Ya Gia memutuskan lebih baik sarapan didalam karena sangat bahaya untuk dirinya keluar. Gia masih engan kembali bertemu dengan Rika dan yang lainnya juga, padahal belum tentu juga mereka dipertemukan lagi.
Di restoran yang tergeletak di lantai 2 rekan kerja Gia sedang menikmati sarapan pagi.
"Ada apa dengan Bu Gia selalu menolak makan di luar?" tanya Rio.
"Katanya malas," sahut Nia begitu simpel padahal ia sendiri belum tahu penyebab sesungguhnya.
"Bu Gia orangnya tertutup jadi sulit untuk____"
"Sudahlah jangan bahas dia. Mungkin ia kelelahan untuk pekerjaan ini," potong Nia hingga membuat dua rekannya mengangguk dan kembali melanjutkan menikmati hidangan spesial andalan restoran tersebut.
1 jam lamanya hingga mereka memutuskan kembali ke kamar masing-masing karena sore ini mereka kembali ke Pontianak.
BUGH
Awww....
Pekik Nia setelah tidak sengaja menabrak seseorang ketika mereka keluar dari restoran. Karena berjalan menunduk menyebabkan ia tak sengaja menabrak seseorang yang tengah berjalan hingga membuat tubuhnya tersungkur.
"Hati-hati Mbak!" Ujar pria yang ada di samping sosok yang ia tabrak.
Nia mendongak menatap dua pria tersebut.
JLEP
__ADS_1
Ia membeku ketika menatap sosok yang ia tabrak begitu tampan. Tapi sayangnya tatapan itu begitu dingin tanpa ekspresi tapi tak mengurangi ketampanannya.
Tepukan di pundaknya membuat Nia tersadar hingga membuat dirinya kikuk sendiri. Rio lah yang menyadari dirinya hingga membuat dirinya memberi jalan untuk dua pria itu.
"Tampan sekali," Gumam Nia setelah dua pria itu menjauh.
"Giliran lihat pria tampan kami diabaikan," celetuk Ilham.
"Karena kalian tidak setampan dia!" Sahut Nia sembari melanjutkan langkahnya.
"Tampan bisa jadi sudah beristri!" Sambung Rio.
"Jangan sok tahu. Kenal saja tidak. Hmm sepertinya Gia menyesal karena tidak ikut sarapan," ucap Nia seakan mengingat sosok Gia.
Penuturan Nia yang sulit mereka pahami hingga dahi keduanya mengerut. "Apa hubungannya dengan Bu Gia?" tanya Rio.
"Karena tidak ketemu pria tampan."
"Itu sangat bagus!" Imbuh Rio.
Seketika Nia menghentikan langkah hingga Rio maupun Ilham ikut berhenti. Nia menyipitkan mata, melirik sekilas pada dua rekan kerjanya itu.
"Jangan katakan jika kalian kalah saingan? Gia sama sekali tak melirik kalian sebagai pria idamannya. Kalian bukanlah pria normal seperti si tampan tadi." Usai mengatakan itu Nia langsung mengambil ancang-ancang berlari kecil, tidak ingin Rio dan Ilham membungkam mulutnya karena sudah berani berkata konyol.
"Bu Nia!" Seru keduanya karena tak Terima dikatai dengan kalimat tersebut. Sedangkan Nia terkekeh karena ia tahu bahwa mereka mengumpat dirinya.
Tok tok
Nia mengetuk pintu sembari menghubungi ponsel Gia agar Gia segera membuka pintunya. Tidak lama pintu segera di buka.
Nia masuk bersamaan dengan Gia.
Mata Gia menyipit dengan mulut tertarik melihat ekspresi wajah Nia beda dari biasanya. Sejak memasuki kamar ia hanya senyam-senyum sendiri, seperti sedang bahagia sekali.
"Ada apa denganmu Nia? apa lagi kerasukan hantu?" cecar Gia sembari meletakan telapak tangannya di dahi Nia.
"Iya kamu benar tapi hantunya kali ini sangat tampan, bahkan mengalahkan manusia," sahut Nia masih dengan bibir melengkung.
Gia hanya menggelengkan kepala. Jika menyangkut pria dan juga ketampananya raut wajahnya berubah dingin tanpa ekspresi. Karena ia sudah paham apa arti dari penuturan Nia hingga membuat dirinya tidak lagi melanjutkan pertanyaan.
Menyadari Gia yang tidak berada di dekatnya membuat Nia tersadar. Ia pun berjalan ikut duduk di atas kasur.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Nia.
__ADS_1
"Sudah," sahut Gia.
"Kamu menyesal karena tidak ikut sarapan di bawah," cicitnya.
"Kenapa harus menyesal?"
"Karena kamu melewatkan pertemuan dengan pria tampan!"
"Stop!" Sentak Gia karena tidak ingin mendengar pembahasan pria tampan yang dimaksudkan Nia. Nia tercengang karena terlalu kaget dengan suara lantang tersebut. "Maafkan aku Nia, maksudku jangan dilanjutkan lagi. Lagi pula aku tidak kenal." Gia meralat kembali ucapannya yang ia sadari tidaklah mengenakan.
Nia mengangguk
"Aku minta maaf Gia," ucap Nia karena telah merusak perasaan sahabat sekalian rekan kerjanya itu.
Gia tersenyum menanggapi permintaan maaf Nia. Lalu mereka berbincang-bincang seputar pekerjaan saja.
Karena ada pekerjaan yang ingin diselesaikan, Nia pamit kembali ke kamarnya. Walau tidak di kantor tapi masing-masing mereka memegang peran dalam tugas dari kantor melalui email.
Menunggu sore menjelang dimana jadwal mereka berangkat, mereka menghabiskan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan agar tidak menumpuk.
***
Usai sarapan pagi Balin memutuskan untuk mencari Gia. Ia sengaja berpencar dengan Putra. Mungkin ini terlalu konyol, bagaimana mungkin mencari seseorang di kita besar seperti ini. Apa lagi belum tahu titik dimana keberadaannya.
Tapi kesulitan itu tak menyurutkan kegigihan Balin. Ia sudah bela-bela menempuh perjalanan cukup lama, jadi sangat berharap bisa bertemu dengan istrinya.
Putra menghubungi Rika. Ia harus bertemu dengan Rika karena tidak ingin di tipu. Mereka memutuskan bertemu di sebuah cafe.
Hanya butuh waktu 15 menit sosok yang sejak tadi ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
"Maaf buat menunggu, sedikit kemacetan," terang Rika ketika sudah duduk di hadapan Putra.
Putra sedikit memperhatikan Rika. Selama kejadian itu mereka tak pernah bertatap muka lagi karena ia juga tidak tahu dimana Rika dan Mami nya tinggal.
Mendapat perhatian dari Putra membuat Rika salah tingkah, ia menjadi kikuk sendiri hingga membuang muka.
"Aku tidak menyangka secepat ini kalian datang ke Bandung," ucap Rika memulai membahas apa yang ingin dibahas.
"Bukan urusanmu!"
Rika tersenyum getir mendengar jawaban itu. Pria dingin itu begitu acuh dan kelihatannya tidak menyukai pertemuan ini.
Bersambung.....
__ADS_1
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit dan komennya agar author lebih semangat lagi