
kreeekkkk
Samuel memasuki ruangan Tersebut, tatapan Samuel langsung tertuju ke arah Nina yang terlihat intim terlihat seperti berbisik-bisik, atau mencium Aidan????Wajah Samuel terlihat langsung muram, ia mengepalkan tangannya. Sejak dulu ia tak pernah menyukai wanita itu, sekalipun Nina selalu bertutur kata sopan dan lemah lembut, entah mengapa itu terlihat tak alami.
Nina selalu bisa memanfaatkan keadaan, jangan tanya bagaimana Samuel tahu, ia tahu dengan jelas bagaimana Nina menyingkirkan pesaing-pesaingnya, namun Aidan tak pernah percaya saat itu, sebab mata Aidna tertutup,
Kini yang Samuel takutkan apa yang ia lihat tak sesederhana yang Samuel pikirkan
Pasti wanita licik itu melakukan sesuatu di sesi terapinya. Samuel menyesal harus keluar dari tempat itu beberapa menit, beberapa menit bisa saja terjadi banyak hal
Lain kali Samuel harus lebih prepare.
Nina segera mengganti musik yang ia putar, dengan musik slow, lalu menepuk punggung Aidan pelan
Aidan perlahan membuka matanya, ia mengerjakan matanya beberapa kali, seolah ia tertidur sangat pulas beberapa waktu lalu.
Namun wajah Aidan terlihat lebih baik, tidak begitu pucat seperti sebelumnya.
"mengapa musiknya berubah??" tanya Samuel menaikan sebelah alisnya, ia memeriksa ke arah Nina takut jika Nina menyuntikkan sesuatu.
"Sesi terapinya sudah selesai"ucap Nina tersenyum lebar
"Cepat sekali, apa sudah selesai??"tanya Samuel
__ADS_1
"Apa sudah selesai Nina???" tanya Aidan masih belum sepenuhnya sadar, ia memang sudah tidak begitu merasakan sakit, justru tubuhnya terasa lebih segar dari biasanya.
Apa terapi Nina berhasil???
Namun Aidna tak mau cepat-cepat menyimpulkan.
"Ya, tapi karena penyakitmu lumayan parah seperti ya kita perlu melakukan Dua sampai tiga Kali sesi terapi lagi"ucap Nina, namun Aidan terlihat tidak begitu antusias. Ia lebih perduli bagaimana perasaan Sandra saat ini. Sekalipun di ruangan ini ada Samuel, tapi bagaimanapun Nina adalah mantan kekasih Aidan dulu, Aidan tahu dengan jelas jika seorang istri akan memiliki kewaspadaan dan cemburu besar pada mantan kekasih suaminya dan Aidan khawatir itu terjadi.
"Itu kalau kau tak keberatan" tambah Nina yang melihat sorot tidak nyaman di mata Aidan
"Bisakah saat sesi berikutnya istriku dalam ruangan ini???" tanya Aidan serius.
Ini lebih baik untuk Aidan dan Sandra sebab ia takut ada kesalahpahaman, Aidan ingin terbuka dalam segala hal.
"Bisa saja jika itu maumu hanya saya tidak di sesi keduamu.
Pertama aku butuh ketenangan dalam menjalankan terapi ini, kedua
Kau juga perlu ketenangan, emosi yang stabil
Emosi yang berlebihan menganggu jalanya terapi.
karena sesi pertama kedua adalah fase krusial dalam pengobatan yang ku lakukan
__ADS_1
Namun di sesi ke tiga bisa,
Siapapun bisa ikut dan melihat karena itu Sesi kelanjutan.
aku sarankan untuk sesi kedua biarkan Samuel yang berada di ruangan bersama kita,"ucap Nina santai, Aidan terlihat mengerutkan keningnya berfikir,
Sementara Samuel bisa menebak itu hanya bualan omong kosong dari Nina, ia tahu dengan pasti itu semua hanya akal-akalan wanita itu saja.
Namun tak bisa mengatakan secara langsung, sebab Nina di bawa oleh tuan besar Lawrence dan kakek itu bisa saja membuatnya menjauh saat Aidan terapi dan itu tak baik untuk Aidan
"Itu syarat dalam pengobatanku, jika kau keberatan aku tinggal mengatakan pada kakekmu. Aku juga tak memaksa
Lagi pula Sam ada dalam ruangan ini, aku tak bisa melakukan sesuatu yang aneh-aneh kan denganmu???
Aku tahu kau takut atau mungkin wanita itu takut aku melakukan sesuatu padamu.
Keberadaan Sam disini cukup membuatnya nyaman kan karena ada orang ketiga.
Dan aku juga tahu Sam bertugas sebagai pengawas, bukan begitu Sam???"ucap Nina melirik kearah Sam yang berwajah Datar
"Kau terlalu banyak berfikir, aku kan asisten Aidan, sudah tentu aku harus selalu berada di samping majikanku" ucap Samuel dingin.
Sungguh Sam muak melihat wajah Nina, jika bukan karena tuan besar Lawrence, ingin rasanya Sam menyeret wanita tidak ahu malu itu keluar dari ruangan ini
__ADS_1
"Benar, karena Samuel adalah asistenku," ucap Aidan menimpali